KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di balik ramainya budaya ngopi di perkotaan, Dimas Daryanto Putra justru menemukan satu hal yang terasa kurang: camilan yang benar-benar punya cerita. Pada 2019, di sudut sebuah kedai kopi, pria berusia 29 tahun ini melihat ironi kecil. Secangkir kopi disajikan dengan serius, penuh perhatian pada rasa dan detail. Namun, camilan pendampingnya terasa biasa saja, sekadar pelengkap tanpa makna. "Camilan dibuat sekadar untuk menemani, tanpa jiwa, dan tanpa cerita yang bisa dibawa pulang ke rumah," ujar Dimas kepada KONTAN belum lama ini.
Baca Juga: Madu Desa Pelawan yang Menyengat Pasar Global Dari kegelisahan itu, lahirlah Sookie. Label camilan ini sengaja Dimas bikin untuk bisa menemami secangkir kopi yang diramu sedemikian rupa. Dengan tim kecil, dia mulai meramu beragam camilan pelengkap ngopi berdasarkan riset. Lantaran menyasar segmen premium, bahan yang ia pilih pun menyesuaikan dengan pasar ini. "Kami mempertahankan sebuah tim yang ramping, bergerak dengan kelincahan dan kehangatan sebuah keluarga," kata Dimas.
Baca Juga: Menangguk Untung dari Roti Tanpa Pengawet Meski begitu, kapasitas produksi terus tumbuh secara organik, mengikuti permintaan pasar. Ribuan produk Dimas hasilkan setiap bulan, baik untuk kebutuhan ritel maupun pesanan mitra bisnis. Sookie menempatkan diri di segmen menengah ke atas, dengan fokus pada kualitas rasa. Dimas menekankan, produknya bukan sekadar manis, tetapi menghadirkan keseimbangan rasa yang diracik secara presisi.
Baca Juga: Mencetak Fulus dari Makanan Beku Anak Menariknya, Sookie tidak agresif membuka banyak cabang. Hingga kini, mereka hanya memiliki satu
flagship store di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan. Namun, jangkauan bisnisnya meluas lewat kolaborasi dengan berbagai kedai kopi di Ibu Kota. Sebut saja Difabis Coffee & Eatery, Dia.Lo.Gue Artspace & Cafe, hingga Latar Kopi 2.0. Bagi Dimas, satu toko cukup menjadi "rumah utama", sementara ekspansi dilakukan melalui kemitraan. "Tempat ini bukan sekadar lokasi transaksi, melainkan sebuah ruang tamu tempat pelanggan kami bisa tertawa dan meracik kue mereka sendiri," jelasnya.
Baca Juga: Mencecap Manisnya Tren Gaya Hidup Sehat dari Madu Dari sisi kinerja, ribuan produk Sookie terjual setiap bulan. Permintaan datang dari dua sumber utama: pelanggan ritel dan mitra bisnis. Tapi, bagi Dimas, angka bukan satu-satunya ukuran. Ia melihat, pencapaian terbesar Sookie justru saat produknya menjadi buah tangan alias oleh-oleh. Di tengah persaingan bisnis camilan, Sookie mencoba mengambil pendekatan berbeda. Jika banyak merek camilan menawarkan menu tetap, Sookie justru membuka ruang bagi pelanggan untuk ikut terlibat lewat layanan kustomisasi. Lewat strategi tersebut, Dimas menargetkan, Sookie menjadi salah satu buah tangan pilihan keluarga Indonesia, sekaligus memperkuat perannya sebagai mitra industri horeka. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News