Menengok Ragam Tren Kinerja Bank Milik Konglomerat Jelang Akhir Semester I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski sama-sama disokong ekosistem usaha grup, bank-bank milik konglomerat rupanya mencetak kinerja yang beragam di pertengahan tahun ini. 

Hingga Mei 2026, kinerja sejumlah bank milik konglomerat terpantau melorot. Panin Bank milik Mu’min Ali Gunawan, misalnya. Dalam periode ini, laba bersih Panin Bank secara bank only turun 5,52% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) menjadi Rp 1,12 triliun, seiring turunnya penyaluran kredit sebesar 3,4% yoy menjadi Rp 119,47 triliun. 

Nasib Bank Central Asia (BCA) milik Keluarga Hartono juga tak jauh berbeda. Laba bersih BCA secara bank only cuman tumbuh 2,07% yoy menjadi Rp 25,68 triliun. Sejalan dengan itu, penyaluran kreditnya tumbuh terbatas 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. 


Ada juga Bank Mega milik Chairil Tanjung yang labanya hanya tumbuh 0,87% yoy menjadi Rp 1,04 triliun, beriringan dengan penyaluran kreditnya yang terkoreksi 0,07% yoy menjadi Rp 67,23 triliun. 

Baca Juga: Berkas P21 Rampung, Sidang Perdana Kasus PT Dana Syariah Indonesia Segera Digelar

Bank milik Chairil Tanjung lainnya pun tak jauh berbeda. Allo Bank hanya mampu menumbuhkan laba 1,04% yoy menjadi Rp 189,95 miliar. Padahal, penyaluran kredit bank digital ini sejatinya masih tumbuh solid 38,63% yoy menjadi Rp 10,13 miliar. Maklum, beban pencadangan (impairment) Allo Bank memang melonjak 93,74% yoy menjadi Rp 222,24 miliar.

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menjelaskan, pihaknya memang terus mengedepankan prinsip prudential banking. Tak cuma mengejar pertumbuhan kredit yang tinggi, ia bilang Allo Bank juga memastikan setiap ekspansi dilakukan dengan kualitas aset yang tetap terjaga. 

“Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila pertumbuhan kredit berjalan seiring dengan pengelolaan risiko yang baik dan struktur pendanaan yang sehat,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (30/6/2026). 

Di tengah situasi ekonomi saat ini, Allo Bank masih optimistis terhadap pertumbuhan kredit. Toh, kata Destya, permintaan pembiayaan dari segmen ritel digital masih cukup resilien. Utamanya, pada produk-produk yang terintegrasi dengan aktivitas transaksi nasabah di dalam ekosistem digital.

Sejatinya tak semua bank milik konglomerat lesu, ada juga yang masih berhasil menggenjot pertumbuhan laba. Lihat saja Bank Ina milik Salim, labanya melonjak 200% yoy menjadi Rp 64,65 miliar. Pun penyaluran kreditnya masih tumbuh 15,83% yoy menjadi Rp 15,43 triliun, ditambah pendapatan komisinya tumbuh 52,57% yoy menjadi Rp 25,72 miliar. 

Bank Mayapada milik Dato Sri Tahir bernasib sama, labanya terbang 176,8% yoy menjadi Rp 53,16 miliar. Menariknya, ini diraih meski penyaluran kredit bank hanya tumbuh 6,18% yoy menjadi Rp 111,83 miliar. 

Kendati begitu, Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi menjelaskan, pihaknya memang hanya menarget pertumbuhan kredit sebesar 8% yoy, Penyaluran kredit masih terkonsentrasi ke SME komersial melalui anak usaha di ekosistem grup Mayapada. 

Namun, pihaknya tetap mengambil sikap hati-hati menghadapi situasi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Pasalnya, itu bakal memengaruhi situasi domestik, termasuk dalam hal penyaluran kredit. 

Apalagi, saat ini bank juga mencermati tekanan biaya dana (cost of fund/CoF) yang dirasakan industri perbankan secara umum. “Margin bisa tergerus, sehingga kita juga harus pandai-pandai mencari kredit yang juga punya margin positif,” tuturnya. 

Baca Juga: Bank Victoria International (BVIC) Terbitkan Obligasi Rp 600 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News