KAIN sarung tenun goyor merupakan hasil kerajinan masyarakat Pemalang sejak puluhan tahun silam. Seperti sarung tenun khas daerah lainnya, produk ini tetap eksis hingga kini karena menawarkan keunikan dan kualitas yang bagus. Sarung tenun goyor khas karena menggunakan bahan benang rayon murni. Bahan ini menghadirkan rasa hangat dan sekaligus terasa lembut. Bahan baku benang rayon dipasok dariimportir di Pekalongan. Benang ini diimpor dari China dan India dengan harga Rp 200.000-Rp 300.000 per pak. Dari dua pak benang, setidaknya bisa dihasilkan 22 lembar sarung. Sarung ini terdiri dari dua bagian yang membutuhkan proses pengerjaan terpisah, yakni kain dasar dan motif di atasnya. Proses pengerjaan sarung termasuk rumit. Apalagi, sarung ini diproduksi secara tradisional memakai alat tenun bukan mesin. "Ada 22 proses yang harus dilewati untuk mendapatkan satu lembar sarung," sebut Mistianah, salah satu penduduk kampung Wanarejan, Pemalang. Mistianah telah menekuni usaha tenun warisan ini sejak 1999. Menurut Mistianah, pertama-tama, ia memulai proses pembuatan sarung tenun goyor dengan memintal benang. Setelah itu, ia melakukan pewarnaan untuk kain dasar dan motifnya. Berikutnya adalah proses pengikalan atau pembuatan gulungan kecil dan kemudian proses penenunan. Satu lembar sarung memerlukan 10-12 gulungan benang. Usai ditenun, Mistianah menjahit, mencuci, dan menjemur sarung itu untuk kemudian mengemasnya. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan selembar sarung sekitar satu minggu. "Jika penenun masih belajar bisa dua minggu," terangnya. Karena harus melewati proses yang rumit, tak heran jika harga sarung tenun goyor ini cukup tinggi, yaitu Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per lembar. Kini, Mistianah memiliki 100 motif sarung. Selain motif warisan, ada juga beberapa motif hasil modifikasi dan pesanan pembeli. Dibantu 100 karyawan tetapnya, ibu satu anak itu rata-rata bisa mengerjakan 50 kodi atau 1.000 lembar sarung per bulan. Terkadang, dia juga mempekerjakan mitra sehingga bisa menghasilkan hingga 100 kodi. Karena produksi dilakukan sesuai pesanan, sarung produksi Mistianah selalu habis terjual. "Permintaan sekitar 50-100 kodi setiap bulan," sebutnya. Dengan penjualan sebulan rata-rata 50 kodi, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta, dengan margin keuntungan sekitar 25%. Meski ada sekitar 20 pengusaha sarung tenun goyor, mereka belum bisa memenuhi semua permintaan ekspor. Mistianah sendiri baru bisa menghasilkan maksimal 100 kodi sebulan, sehingga baru sanggup memenuhi permintaan satu pembeli asal Timur Tengah. Selama ini para pembeli dari kawasan ini, seperti dari Sudan, Turki, dan Kuwait, memang meminati sarung tenun goyor. Masalahnya, meningkatkan produksi bukan urusan gampang. Sebab, jumlah penenun yang terampil kini sangat terbatas. "Pengerjaan sarung ini tak bisa dimutakhirkan karena dari 22 proses tadi, ada proses yang tidak bisa dipindahkan ke mesin," ujarnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Menenun Laba Sarung Goyor Khas Pemalang
KAIN sarung tenun goyor merupakan hasil kerajinan masyarakat Pemalang sejak puluhan tahun silam. Seperti sarung tenun khas daerah lainnya, produk ini tetap eksis hingga kini karena menawarkan keunikan dan kualitas yang bagus. Sarung tenun goyor khas karena menggunakan bahan benang rayon murni. Bahan ini menghadirkan rasa hangat dan sekaligus terasa lembut. Bahan baku benang rayon dipasok dariimportir di Pekalongan. Benang ini diimpor dari China dan India dengan harga Rp 200.000-Rp 300.000 per pak. Dari dua pak benang, setidaknya bisa dihasilkan 22 lembar sarung. Sarung ini terdiri dari dua bagian yang membutuhkan proses pengerjaan terpisah, yakni kain dasar dan motif di atasnya. Proses pengerjaan sarung termasuk rumit. Apalagi, sarung ini diproduksi secara tradisional memakai alat tenun bukan mesin. "Ada 22 proses yang harus dilewati untuk mendapatkan satu lembar sarung," sebut Mistianah, salah satu penduduk kampung Wanarejan, Pemalang. Mistianah telah menekuni usaha tenun warisan ini sejak 1999. Menurut Mistianah, pertama-tama, ia memulai proses pembuatan sarung tenun goyor dengan memintal benang. Setelah itu, ia melakukan pewarnaan untuk kain dasar dan motifnya. Berikutnya adalah proses pengikalan atau pembuatan gulungan kecil dan kemudian proses penenunan. Satu lembar sarung memerlukan 10-12 gulungan benang. Usai ditenun, Mistianah menjahit, mencuci, dan menjemur sarung itu untuk kemudian mengemasnya. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan selembar sarung sekitar satu minggu. "Jika penenun masih belajar bisa dua minggu," terangnya. Karena harus melewati proses yang rumit, tak heran jika harga sarung tenun goyor ini cukup tinggi, yaitu Rp 200.000 sampai Rp 400.000 per lembar. Kini, Mistianah memiliki 100 motif sarung. Selain motif warisan, ada juga beberapa motif hasil modifikasi dan pesanan pembeli. Dibantu 100 karyawan tetapnya, ibu satu anak itu rata-rata bisa mengerjakan 50 kodi atau 1.000 lembar sarung per bulan. Terkadang, dia juga mempekerjakan mitra sehingga bisa menghasilkan hingga 100 kodi. Karena produksi dilakukan sesuai pesanan, sarung produksi Mistianah selalu habis terjual. "Permintaan sekitar 50-100 kodi setiap bulan," sebutnya. Dengan penjualan sebulan rata-rata 50 kodi, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta, dengan margin keuntungan sekitar 25%. Meski ada sekitar 20 pengusaha sarung tenun goyor, mereka belum bisa memenuhi semua permintaan ekspor. Mistianah sendiri baru bisa menghasilkan maksimal 100 kodi sebulan, sehingga baru sanggup memenuhi permintaan satu pembeli asal Timur Tengah. Selama ini para pembeli dari kawasan ini, seperti dari Sudan, Turki, dan Kuwait, memang meminati sarung tenun goyor. Masalahnya, meningkatkan produksi bukan urusan gampang. Sebab, jumlah penenun yang terampil kini sangat terbatas. "Pengerjaan sarung ini tak bisa dimutakhirkan karena dari 22 proses tadi, ada proses yang tidak bisa dipindahkan ke mesin," ujarnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News