Meneropong prospek saham-saham emiten yang dikoleksi SWF Singapura



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan asal Singapura, Archipelago Investment Pte. Ltd terus menanamkan modalnya pada sejumlah perusahaan di Indonesia. Archipelago merupakan perusahaan investment holding yang dimiliki sepenuhnya oleh Government of Singapore Investment Corporation (GIC).

Beberapa waktu lalu, Archipelago Investment Pte. Ltd resmi menjadi investor PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel melalui penawaran umum saham perdana atau IPO. GIC diketahui telah menggenggam sebanyak 5,3% dari total pemegang saham Mitratel.

Adapun jumlah saham Mitratel yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 83.515.452.844. Dari total tersebut, saham dari penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sebanyak 23.493.524.800 serta saham pendiri 60.021.928.044. MTEL menawarkan harga saham perdana senilai Rp 800 dengan nilai nominal Rp 228.


Sebelumnya, Archipelago Investment Pte. Ltd sudah lebih dulu menambah porsi kepemilikan saham pada PT Bukalapak.com TBk (BUKA) pada Agustus silam. Archipelago menambah sebanyak 1,6 miliar saham Bukalapak seharga Rp 850 per saham atau sebanyak Rp 1,36 triliun.

Baca Juga: Valuasi Harga Saham IPO MTEL Disebut Kemahalan, Begini Jawaban Direktur Mitratel

Adapun setelah transaksi pembelian saham BUKA tersebut, GIC dan Archipelago Investment Ltd memiliki 11.337.391.077 saham BUKA atau setara 11%. Sebelum itu, GIC dan Archipelago Invesment Pte Ltd mengenggam 9.736.593.677 saham BUKA.

Nah, ternyata Archipelago Investment Pte. Ltd juga berinvestasi pada calon emiten produsen cat PT Avia Avian Tbk. Mengutip prospectus IPO Avia Avian, Archipelago Investment meggenggam sebanyak 10% saham Avia Avian sebelum dilaksanakannya IPO.

Analis Binaartha Sekuritas Lingga Pratiwi menilai, saham-saham yang dikoleksi oleh investor asing tersebut terbilang menarik. Menurutnya, investor asing menilai perusahaan-perusahaan yang dipilih memiliki fundamental yang baik dan pertumbuhan bisnisnya kuat. Selain itu, serta likuditas yang lancer dapat merefleksikan harga saham sesuai dengan valuenya.

Ia menilai, emiten BUKA, MTEL, dan calon emiten Avia Avian mempunyai prospek bisnis yang menjanjikan. Selama sembilan bulan pertama tahun ini, BUKA mencatat pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun atau naik 42% secara yoy. Di sisi biaya, opex BUKA turun menjadi 2,6% ketimbang 2,8% pada kuartal II-2021, hal ini menunjukkan operasi yang lebih hemat biaya. Rugi bersih BUKA mengalami penurunan 19% menjadi Rp 1,1 triliun.

BUKA juga berencana memperluas jangkauannya ke vertikal UMKM lainnya seperti restoran, tukang cukur, bengkel mobil, dan toko bahan bangunan dengan menawarkan produk seperti layanan logistik dan pengiriman (BukaSend), pembukuan dan pemasaran digital (BukuMitra), produk segar ( bermitra dengan GrabMart dan GrabFood), dan metode pembayaran QRIS.

Selanjutnya, BUKA akan memiliki layanan perbankan (BukaTabungan) yang bekerjasama dengan Standard Chartered untuk membangun bank digital BUKA dan masih menunggu persetujuan OJK. “Kami senang dengan banyaknya perkembangan yang sedang berlangsung, tetapi lebih banyak detail diperlukan untuk menilai prospek masa depan mereka,” kata Lingga, Jumat (3/12).

Sementara itu, MTEL memiliki 28.030 menara dengan 42.016 tenant yang menjadikan Mitratel sebagai perusahaan menara terbesar di Indonesia. Keunggulan utama Mitratel adalah 57% menara berada di luar Jawa dengan tenancy ratio menara ex-Jawa yang masih rendah (1,39x).

Dengan besarnya perkembangan telekomunikasi yang didukung masifnya bisnis digital, maka pertumbuhan penyewaan menara di luar Jawa masih sangat tinggi. Didukung juga dengan keinginan para operator untuk memperluas jaringan serta kepadatan jaringan.

MTEL akan memberikan CAGR pendapatan 2 tahun yaitu 2021-2022 sebesar 44,8%. Di antara perusahaan menara utama di Indonesia, MTEL akan memiliki utang bersih terendah terhadap EBITDA sebesar 0,98x, melihat hal ini memungkinkannya untuk melakukan akuisisi di masa mendatang.

Selanjutnya untuk untuk Avian, calon emiten ini akan melepas 10% saham di kisaran harga Rp 780 – Rp 930 rupiah per lembar. Lewat IPO ini, Avian berpotensi meraih dana segar senilai Rp 4,8 triliun - Rp 5,8 triliun. Dana ini akan digunakan untuk 54,5% untuk modal kerja, 18,2% untuk penambahan modal anak usahanya yang bergerak di bidang distribusi, 14,0% untuk belanja modal, 13,3% untuk pelunasan utang bank.

Sementara bagi investor domestik, Lingga bilang, para investor lebih menanti apakah prospek pertumbuhan baik dari sisi fundamental dan bisnisnya menjadi lebih baik kedepannya, minimal selama 1 tahun ke depan.

Ia menambahkan, performa Avian tumbuh cukup stabil sejak sebelum pandemi, dan penjualan Avian selalu tumbuh sejak 2018. 

Baca Juga: Archipelago Investment getol mengoleksi saham sejumlah emiten

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat