Meneropong sikap investor dalam gempita pilpres



Jakarta. Jika Joko Widodo (Jokowi) memenangi pemilihan presiden (pilpres), maka bursa saham bakal melejit. Sebaliknya, kalau Prabowo Subianto memenangi pertarungan maka pasar saham bakal anjlok.Pernyataan seperti itu kerap terdengar dalam percakapan sesama investor dan praktisi bursa saham di tanah air. Namun, Anda jangan salah duga. Sinyalemen seperti itu bukan cuma soal kecenderungan politik. Prediksi tersebut lebih disebabkan oleh kepastian dan ketidakpastian.Sebagian dari Anda mungkin masih ingat soal Jokowi effect yang melanda bursa saham Indonesia 14 Maret 2014 silam. Kala itu deklarasi Jokowi sebagai capres dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) sukses mendongkrak bursa hampir 3,23% dalam sehari. Padahal, sesaat sebelum pengumuman tersebut, indeks masih terkapar di jalur merah. Hari itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga menguat 0,26%.Namun, ketika hasil hitung cepat pemilihan anggota legislatif (pileg) menunjukkan PDI-P tak bisa memberikan tiket langsung bagi pencapresan Jokowi, IHSG terjerembab. Sehari setelah pencoblosan, IHSG langsung terjungkal 3,2%. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga melemah 0,6%.Nah, kini, selama beberapa pekan terakhir, pelaku pasar kembali was-was. Hasil survei menunjukkan pasangan Jokowi-JK hanya unggul tipis dari pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Ketidakpastian kembali menyelimuti. Investor pun wait and see.Lagi-lagi, fenomena ini terjadi lebih karena pelaku pasar terlanjur berharap Jokowi bisa memenangi pilpres. Harapan itu sendiri membuncah setelah beragam survei sejak setahun lalu selalu menempatkan Jokowi di pucuk peringkat. Investor selalu butuh kepastian. Maka begitu Jokowi menjadi capres, bursa optimistis pilpres akan berlangsung lancar dan tak ada sentimen negatif mewarnai bursa saham.Namun, saat hasil survei belakangan menunjukkan posisi Jokowi tak lagi aman, ketidakpastian pun meruyak. Investor jangka pendek yang sudah terlanjur pasang posisi deg-degan atas nasib investasinya. Investor yang baru ancang-ancang pun menjadi bimbang. Itulah salah satu teori yang menjelaskan mengapa seolah-olah bursa berpihak ke Jokowi.Meski begitu, sebagian praktisi pasar modal yakin bahwa harapan pasar terhadap Jokowi juga dipengaruhi faktor lain. David Nathanael Sutyanto, Kepala Riset First Asia Capital, menilai ekspektasi terhadap Jokowi juga dilandasi oleh keyakinan bahwa Jokowi mampu mengeksekusi visi, misi, dan program yang ia janjikan ketimbang Prabowo. Kemampuan dan keberanian mengeksekusi ini yang kurang dimiliki pemerintah saat ini. “Pengalaman di Jakarta menunjukkan Jokowi bisa mengeksekusi program yang tidak bisa dilakukan sebelumnya,” kata David.Fundamental masih mendungHead of Investment AAA Asset Management Siswa Rizali berpendapat lain lagi. Menurut dia, sentimen seputar pilpres hanya euforia sesaat. Tak ada yang bisa menunjukkan korelasi jelas antara pergerakan saham tertentu dengan kedua pasang calon pemimpin itu.Setelah euforia ini meredup, bursa akan kembali pada kondisi normal: pergerakannya akan dipengaruhi fundamental ekonomi nasional dan emiten, plus sentimen dari eksternal. “Kalaupun capres yang diinginkan pasar menang pilpres, tetap tidak akan bisa mengubah kondisi apapun,” kata David.Kalau pun nanti ada yang bisa mempengaruhi pergerakan bursa, analis memperkirakan hal itu adalah pengumuman susunan kabinet, khususnya menteri-menteri di bidang perekonomian. Jika kabinet diisi orang-orang profesional non-partai, boleh jadi akan merangsang pergerakan positif IHSG. Demikian pula sebaliknya.Nah, secara fundamental, ekonomi Indonesia masih dalam tekanan. Defisit neraca perdagangan masih mengancam. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) juga letoi. Di sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara masih menganga. Andy Ferdinand, Kepala Riset Batavia Prosperindo Sekuritas menilai kondisi ini akan berlangsung paling tidak hingga akhir tahun.Sentimen global juga menambah aura negatif. Ada wacana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS). Wacana ini dikemukakan oleh Gubernur The Federal Reserve Janet Yellen. Saat ini AS masih mempertahankan kebijakan suku bunga rendah 0%–0,25%. Rencananya, tingkat suku bunga akan dinaikkan 0,75% di akhir tahun 2015.Pengetatan moneter semacam ini, lanjut Andy, akan membuat pertumbuhan sektor riil di AS melambat. Sementara di sisi lain posisi USD bakal menguat. Ujung-ujungnya, impor AS juga bisa berkurang.Padahal, China sedang memperlihatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pemulihan ekonomi Eropa berjalan lambat dan menghadapi deflasi. “Bagi Indonesia, rupiah susah menguat. Ekspor sulit digenjot karena perlambatan sektor riil di AS. Penguatan US dollar berimbas kepada pelemahan harga komoditas,” kata Andy. Neraca perdagangan Indonesia tentu akan terpengaruh. Apalagi saat ini ekspor Indonesia banyak disumbang oleh komoditas.Untuk mengatasinya cara yang paling gampang, ya, pemerintah harus mengerem laju impor. Caranya, antara lain dengan menaikkan pajak impor dan mempertahankan suku bunga tinggi seperti sekarang. “Sukar bagi pemerintah menurunkan suku bunga. Kalau suku bunga Amerika Serikat dinaikkan sementara BI rate turun, daya tarik Indonesia akan berkurang,” kata Andy.Ini belum menghitung faktor ancaman harga minyak. Konflik di kawasan timur tengah bisa menyulut harga emas hitam. Beban impor minyak Indonesia bakal kian membengkak.Inilah kondisi asli dibalik gegap gempita pilpres.***Sumber : KONTAN MINGGUAN 40 - XVIII, 2014 Laporan Utama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Imanuel Alexander