KONTAN.CO.ID - PASURUAN. Hilirisasi industri tengah naik daun. Apalagi, pemerintah sudah mencanangkan program percepatan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah domestik, memperkuat ketahanan energi dan membuka lapangan kerja baru. Bukan itu saja, pemerintah juga membentuk Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Era hilirisasi ini pun mendatangkan peluang bagi industri pendukung infrastruktur. Salah satu perusahan yang menangkap peluang itu adalah PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo.
Perusahaan pipa baja ini tak main-main menggarap peluang dari hilirisasi minyak dan gas (migas). Direktur Operasional Spindo Nico Gunawan mengatakan Spindo telah menyiapkan sejumlah strategi seperti membentuk divisi research and development (R&D). Spindo juga membangun ekosistem industri yang mampu memberikan solusi bagi pelanggan. “Kami saat ini sedang mengembangkan bukan hanya pipanya, tetapi juga pembuatan aksesori, pengembangan fabrikasi, hingga membentuk divisi R&D. Tujuannya bukan hanya menjual produk, tetapi memberikan solusi bagi customer, baik kontraktor, konsultan, maupun pemerintah,” ujar Nico saat ditemui Tim Jelajah Hilirisasi KONTAN di Unit 4 Spindo Pasuruan, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: Tangkap Peluang di Industri Energi, Elnusa Konsisten Terapkan Strategi yang Adaptif Khusus untuk memenuhi kebutuhan industri migas, Spindo menghasilkan pipa Spiral Submerged Arc Welded (SSAW) berdiameter besar yang digunakan pada jaringan transmisi minyak dan gas. Spindo juga menghasilkan pipa Electric Resistance Welded (ERW) yang telah memenuhi standar API 5L. Sertifikasi API 5L merupakan standar internasional dari American Petroleum Institute (API). Kepala Divisi Plant 4 Spindo Dodik Hermawan menambahkan, untuk memproduksi pipa kebutuhan industri migas, Spindo menggunakan teknologi controlled rolling, fine-grain steel, dan baja karbon rendah. Serta melalui berbagai pengujian kualitas seperti hydro test dan inspeksi ultrasonik. “Lab kami cukup lengkap dalam melakukan pengujian. Jadi jika ada kebocoran kecil akan terdeteksi,” kata Dodik.
Terlibat dalam PSN
Selain mengantongi sertifikasi API 5L, Spindo juga mengantongi sertifikasi ISO 9001 dan memproduksi pipa sesuai berbagai standar internasional, seperti ASTM, BS, JIS, ISO, AS, dan SNI. Saat ini, Spindo terlibat dalam sejumlah proyek strategis nasional (PSN), seperti penyediaan pipa untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bendungan Karian menuju Tangerang dengan kebutuhan sekitar 8.000 ton.
Baca Juga: Program Kampung Nelayan Prabowo Jadi Peluang Baru Industri Asuransi Spindo juga memasok pipa gas untuk proyek Dumai–Sei Mangkei dengan total order on hand sekitar 19.000 ton. Bukan itu saja, Spindo jadi pemasok pipa proyek jaringan gas Cirebon–Semarang. Serta proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan, Spindo mempercepat membangun Unit 7 dan ditargetkan beroperasi penuh di akhir tahun ini. Nico menyebut, kapasitas produksi gabungan Unit 1 hingga Unit 6 saat ini mencapai sekitar 750.000 ton per tahun. Dengan beroperasinya Unit 7 yang dilengkapi dua mesin produksi baru, Spindo akan memperoleh tambahan kapasitas sekitar 750.000 ton per tahun. Unit baru tersebut akan memproduksi pipa berdiameter 3–20 inci dengan spesifikasi ketebalan yang lebih tinggi. Fasilitas ini juga dilengkapi teknologi produksi berbasis robotik yang memangkas waktu setup mesin dari satu hingga dua hari menjadi maksimal dua jam. Otomatisasi tersebut akan meningkatkan efisiensi sekaligus menekan tingkat waste produksi dari sekitar 4%–5% menjadi di bawah 1%.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Indonesia Punya Peluang Gaet Lebih Banyak Wisman Tapi Ada Syaratnya "Kalau sebelumnya tingkat waste sekitar 4%-5%, dengan mesin baru kami targetkan bisa di bawah 1%," ujar Nico. Selain itu, Unit 7 juga membuka peluang produksi square column pipe. Ini pipa kolom yang lebih efisien dalam penggunaan material dan memiliki kekakuan struktur lebih tinggi.
Ditopang Domestik
Perusahaan baja, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) juga melihat peluang dari program hilirisasi. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat mengatakan, permintaan domestik masih jadi penyokong utama bisnis KRAS. Menurut Rachman, sektor konstruksi diproyeksikan tetap tumbuh sekitar 5,4% sepanjang tahun ini sehingga kebutuhan baja untuk pembangunan infrastruktur, kawasan industri, proyek energi dan hilirisasi diperkirakan tetap terjaga. "Kami terus memperkuat sinergi dengan anak perusahaan dan mitra strategis melalui optimalisasi rantai pasok, penguatan strategi komersial, dan peningkatan efisiensi operasional," kata Rachman. Meski industri baja menghadapi banyak tantangan, KRAS menyebut, permintaan mulai membaik secara bertahap seiring bergulirnya proyek infrastruktur dan meningkatnya aktivitas sektor manufaktur. Rachman bilang, pemulihan permintaan akan bergantung pada realisasi proyek infrastruktur, aktivitas konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, hingga belanja modal swasta.
Baca Juga: PHRI Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Tarik Wisman dari Negara Tetangga "Memasuki semester II ini, kami melihat adanya potensi pemulihan permintaan terutama dari proyek-proyek strategis, kebutuhan hilirisasi industri. Juga penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap produk impor murah, serta pengadaan material untuk sektor konstruksi dan manufaktur," ujar Rachman kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).
Hanya saja, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengingatkan, tantangan terbesar industri baja domestik saat ini ialah derasnya arus produk baja impor yang dijual lebih murah. "Akibatnya, kapasitas produksi dalam negeri tidak dapat dimanfaatkan secara optimal dan daya saing industri terus melemah," kata Harry. Selain itu, industri baja juga menghadapi tingginya biaya energi, logistik, dan pembiayaan yang berdampak pada biaya produksi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News