Mengalap untung dari turis dan tengkulak (2)



Pamor sentra produksi jeruk keprok di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, tidak setenar sentra produksi apel. Tapi, semenjak udara di sini menjadi semakin panas dan pembudidaya apel makin sedikit, sentra jeruk pun kini mulai dilirik sebagai salah satu tujuan wisata.

Sama halnya dengan sentra perkebunan lainnya di Kota Batu, sentra jeruk keprok milik petani di Desa Puten juga dibuka untuk para wisatawan. Sapari, salah satu petani jeruk keprok, mengatakan, mereka bisa kewalahan menerima kunjungan wisatawan saat musim liburan tiba. Umumnya wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini adalah para pelancong dari luar kota seperti Surabaya, Sidoarjo, dan daerah lainnya.

Agar perkebunan tidak rusak karena kunjungan wisatawan, para petani memandu mereka untuk berkeliling dan mengajarkan cara memetik buah jeruk dengan benar.


Banyak petani jeruk yang membuka lahannya untuk bisa dikunjungi oleh wisata-wan. Sebab, mereka bisa menjual jeruknya sama dengan harga jeruk di pasaran, yakni sekitar Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kilogram (kg).

Selain melayani kunjungan wisatawan, para petani tetap menjual hasil panennya kepada para tengkulak dan pemasok langganan. Seperti yang dilakukan Dwi Susanto,  petani jeruk keprok. Dwi mengirimkan hasil panennya kepada para tengkulak di Solo, Malang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Selama ini Dwi hanya mengembangkan jenis jeruk keprok batu 55. Laki-laki yang memiliki badan tambun  itu mengaku mulai membudidayakan jeruk jenis ini pada tahun 2009. Dia mendapatkan bibit dari pemerintah daerah setempat.

Hingga saat ini, Dwi baru memanen jeruknya sebanyak tiga kali. Pada panen pertama dia mendapatkan enam kuintal jeruk. Sedangkan pada panen kedua, jumlah panennya jauh lebih besar,  bisa mencapai lima ton jeruk. Maklum saja, masa kematangan buah jeruk memang tidak merata.

Sama halnya dengan Dwi, Sapari juga menjual hasil panennya untuk para tengkulak. Hanya, dia tidak mengirimkan hasil panennya kepada para tengkulak langganan, tapi merekalah yang berkunjung ke lahan dan membawa sendiri hasil panennya.

Sapari mengaku, hingga saat ini dia tidak kesusahan untuk memasarkan hasil panennya karena jeruk keprok punten terbilang langka. Kendati begitu, harga jualnya terbilang cukup murah, sekitar Rp 15.000 per kg di luar musim panen.

Tapi, ketika panen raya tiba, harganya bisa merosot menjadi Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kg. Saat musim panen tiba, Sapari menyatakan bisa mengantongi omzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi tetap saja, harga obat-obatan untuk merawat pohon jeruk makin mahal. "Keuntungan yang didapat menjadi lebih tipis," kata Sapari.        (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini