Mengapa IHSG Tumbang pada Hari Ini, Kamis (10/9)?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh pada sesi kedua perdagangan Kamis (10/9/2026). Hingga sesi pertama perdagangan, IHSG memang sudah turun 0,14% atau 9,678 poin ke level 6.668,523.

Namun, di sesi kedua, IHSG makin tertekan dan anjlok 88,86 poin atau 1,33% ke 6.589,33 pada akhir perdagangan Kamis (10/9/2026).

Secara sektoral, indeks saham sektor energi anjlok paling dalam 2,06%. Disusul indeks sektor transportasi merosot 1,80% dan indeks sektor infrastruktur turun 1,31%.


Baca Juga: IHSG Diproyeksi Volatil pada Jumat (11/9), Analis Cermati CPI AS dan Konflik AS-Iran

Pergerakan IHSG juga sejalan dengan pasar negara berkembang alias emerging market.

Kamis (10/9/2026), Indeks MSCI yang melacak saham-saham pasar berkembang turun 0,6%. Saham-saham unggulan Asia, Korea Selatan dan Taiwan, masing-masing turun 0,3% dan 0,5%.

Lonjakan harga minyak mentah dunia sepertinya menjadi sentimen yang menekan pasar saham emerging market termasuk IHSG. Harga minyak naik melampaui level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026 membayangi prospek pasar saham.

Kenaikan harga minyak ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga The Fed berpotensi naik pada bulan ini.

Harga minyak yang terus tinggi dapat berkontribusi pada pelebaran defisit neraca transaksi berjalan di sebagian besar negara berkembang pengimpor minyak.

"Saham-saham Asia mengalami penjualan besar-besaran, dengan kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah," kata Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Investor Asing Bidik Surat Utang Indonesia Berbekal Yield Tinggi

Selain harga minyak, tekanan juga dating dari kenaikan yield atau imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Kamis (10/9/2026), imbal hasil obligasi acuan US Treasury tenor 10 tahun berada di level 4,8508%, angka tertinggi sejak tahun 2023. 

Perkembangan di pasar obligasi berdampak pada saham, karena imbal hasil yang lebih tinggi pada US Treasury yang bebas risiko dapat membuat saham menjadi relatif kurang menarik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News