Mengawali pekan, harga minyak naik di pasar Asia



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak naik, Senin (10/9) pagi, ini karena jumlah pengeboran AS untuk produksi berkurang pekan lalu. Pasar juga diperkirakan akan mengetat setelah sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran mulai berlaku November mendatang.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$ 68,09 per barel pada pukul 07.00 WIB, naik 34 sen (0,5%) dari harga terakhir.

Minyak mentah Brent berjangka naik 42 sen (0,6%) menjadi US$ 77,25 per barel.


Perusahaan energi AS memotong jumlah dua rig minyak pekan lalu, sehingga jumlah total turun menjadi 860. Perusahaan jasa energi Baker Hughes mengatakan pada hari Jumat, seperti dikutip Reuters.

Jumlah rig AS mengalami stagnasi sejak Mei, setelah pulih sejak tahun 2016, mengikuti kemerosotan tajam tahun sebelumnya di tengah jatuhnya harga minyak mentah.

Di luar Amerika Serikat, sanksi baru AS terhadap ekspor minyak mentah Iran dari November membantu mendorong harga.

Konsultan energi FGE mengatakan, beberapa pelanggan utama Iran seperti India, Jepang, dan Korea Selatan sudah mengurangi pembelian minyak mentah dari Iran.

"Pemerintah dapat berbicara keras. Mereka dapat mengatakan akan membela Trump maupun mendorong keringanan. Tetapi umumnya perusahaan yang kami ajak bicara ... mengatakan mereka tidak akan mengambil risiko," kata FGE.

"Denda keuangan AS dan hilangnya asuransi pengiriman membuat semua orang ketakutan," katanya dalam sebuah catatan kepada klien.

Dengan aktivitas rig AS yang terhenti dan sanksi Iran membayangi, prospek pasar minyak semakin ketat.

Backwardation menggambarkan pasar di mana harga untuk pengiriman segera lebih tinggi daripada harga untuk pengiriman nanti. Ini dianggap sebagai tanda kondisi ketat yang memberikan insentif kepada pedagang untuk segera menjual minyak daripada menyimpannya.

Satu pertanyaan kunci ke depan adalah bagaimana permintaan berkembang di tengah-tengah sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan China serta kelemahan pasar berkembang umum.

NBD Bell mengatakan "Kami tidak berharap bahwa kelemahan mata uang di beberapa pasar negara berkembang akan menimbulkan risiko terhadap fundamental pasar minyak karena kelemahan di India dan China, dua pasar yang paling penting dari perspektif pasar minyak, relatif masih terkendali."

Konsultasi FGE, bagaimanapun, memperingatkan bahwa "perang dagang, dan terutama kenaikan suku bunga, dapat menimbulkan masalah bagi pasar negara berkembang yang mendorong pertumbuhan permintaan minyak".

Meskipun demikian, FGE mengatakan kemungkinan penurunan harga minyak secara signifikan relatif rendah karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan menahan output untuk mencegah harga jatuh.

"Kami merasa yakin OPEC dapat dan akan menangani permintaan yang melambat. Kami melihat US$ 65 per barel sebagai pemicu untuk pemotongan," kata FGE.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana