
BAGI Anda yang kerap melintas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, boleh jadi nama rumahmakan masakan padang Salero Jumbo dan pijat refleksi Kokuo sudah tak asing lagi. Ya, gerai kuliner dan tempat pijat itu memang terbilang sukses menyedot minat para pengunjung. Tapi, tahukah Anda, siapa di balik kesuksesan kedua gerai yang berlokasi di Jalan Timor Nomor 12 Jakarta Pusat itu? Dia adalah Sofyan Susilo, si empunya gerai. Seperti banyak kisah sukses lain, Sofyan bisa berjaya di bisnis ini lantaran dia hobi dipijat. Ketika membuka gerai pijat Kokuo, pria kelahiran Cirebon 25 Desember 1956 silam ini mengaku tak sengaja menekuni bisnis kebugaran tubuh itu. Sofyan berkisah, sebelum membuka usaha pijat, dia memang paling demen tubuhnya dipijat. “Saking hobinya, nyaris di setiap kota di luar Jakarta saya memiliki tukang pijat langganan,†ungkap dia. Dari hobinya itulah Sofyan mendapat inspirasi untuk berbisnis pijat refleksi. “Saya hanya berpikir bagaimana caranya bisa melakoni hobi setiap hari tanpa harus membayar jasa pijat,†sambung Sofyan. Lagi pula, ia memandang masa depan bisnis pijat refleksi masih bagus. Sofyan melihat, budaya orang Indonesia itu doyan pijat; sehingga mereka rela menyisihkan sebagian penghasilan untuk pijat. Maka, berbekal modal tabungan, Sofyan memberanikan diri terjun ke bisnis ini. Dia langsung berbelanja seperangkat kursi pijat seharga Rp 400.000 per unit. “Saat itu saya hanya mampu membeli enam unit kursi,†kata Sofyan. Lucunya, usai membeli perlengkapan bisnis pijat itu, ?Sofyan tidak langsung mengoperasikan gerai Kokuo. Ketika itu, tebersit dalam pikirannya untuk membuka usaha lain yang bisa bersanding dengan usaha pijat. Pilihan Sofyan jatuh pada bisnis masakan padang. Menurut Sofyan, bukan tanpa alasan dia menyandingkan bisnis pijat dengan gerai masakan padang. “Selain doyan pijat, saya doyan masakan padang,†ungkap dia. Untuk mewujudkan gerai masakan padang pertamanya itu, Sofyan pun tanpa ragu menggelontorkan modal Rp 100 juta dari hasil tabungannya. Nama restoran padangnya adalah Salero Jumbo. Menjaring koki Padang Alhasil, gerai Kokuo dan Salero Jumbo beroperasi bersamaan pada 2003. Ketika pertama kali Salero Jumbo buka, pria keturunan China ini mengaku tidak berani keluar untuk menemui para pelanggannya. Sofyan khawatir dengan penilaian pelanggannya bila mengetahui pemilik gerai masakan padang itu ternyata sama sekali tidak berbau orang Padang. Nah, agar menu masakan di gerainya tetap bercitara rasa Padang, dia memanfaatkan jasa juru masak orang Padang asli. Hasilnya, pengunjung Salero terus membeludak. Kini, saban hari, Salero Jumbo bisa menjaring 300 pengunjung. Sayangnya, Sofyan tertutup soal omzet yang bisa dipetik dari bisnisnya itu. Yang jelas, katanya, satu pengunjung bisa menghabiskan uang antara Rp 15.000-Rp 30.000 sekali makan. Jadi, bila ditotal, Salero Jumbo bisa mengeruk pendapatan sekitar Rp 135 juta-Rp 270 juta per bulan. Selain gerai di Jalan Timor, Menteng, Sofyan juga memiliki lima gerai Salero Jumbo di sejumlah pusat perbelanjaan. Kini, Sofyan mempekerjakan 30 karyawan untuk gerai-gerai Salero Jumbo itu. Sejurus dengan itu, Kokuo juga berkembang. Kini Kokuo telah memiliki 30 kursi pijat dan 50 pemijat profesional. Untuk jasa pijat, Kokuo mengenakan tarif Rp 50.000 per jam, dengan durasi pemijatan dari 40 menit hingga dua jam. So, dengan tarif sebesar itu, satu gerai Kokuo bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 90 juta per bulan. Itu baru dari satu gerai. Selain di Menteng, Kokuo juga punya dua gerai lainnya. Betul, kesuksesan Sofyan tidak datang begitu saja. Anak kelima dari enam bersaudara ini memiliki bakat usaha sejak kecil. Ia dibesarkan dalam keluarga pengusaha toko emas. Kariernya mulai dirintis usai ia lulus dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahyangan pada 1981. Kala itu, Sofyan sempat menjadi karyawan selama delapan tahun di salah satu perusahaan kontraktor. Tak puas hanya menjadi karyawan, pada 1989 Sofyan mendirikan usaha kontraktor sendiri bernama PT Triwidia Eka Cahaya. Sayangnya, akibat krisis 1998, Triwidia gulung tikar. Itulah saat terberat bagi Sofyan dalam meniti usaha. “Saya sangat stres dan cuma bisa bengong saja,†ujar Sofyan. Beruntung, pada 1994, Sofyan sempat membuka kos-kosan berskala ratusan kamar di Bandung. Sofyan membanderol harga sewa satu kamar Rp 500.000-Rp 600.000 per bulan. Bisnis kos-kosan itulah yang menyelamatkan hidupnya. Karena selain bisa membangun Salero Jumbo dan Kokuo, Sofyan juga punya PT Mira Nila Abadi, produsen dan distributor bahan-bahan kimia konstruksi dan mengelola beberapa unit waralaba English First.
Inovasi Tiada Henti Meskipun saat ini rumahmakan padangnya terbilang sukÂses menyedot pelanggan, hal itu tidak lantas membuat Sofyan berpuas diri. Buktinya, Sofyan beÂrencana terus melakukan inovasi terhadap bisnis kudapannya itu. Salah satunya adalah menyediakan menu makanan laut di Salero Jumbo. Tujuannya simpel: agar para tamu dan turis yang datang tidak bosan dan bisa mencicipi masakan lain selain masakan padang. Selain itu, Sofyan juga akan menyajikan teh poci di Salero Jumbo. “Saya ingin memperkenalkan pada para turis bahwa Indonesia juga punya tradisi minum teh dengan gula batu,†tutur Sofyan. Sofyan pun tengah menjajaki peluang untuk membuka waralaba Salero Jumbo dan Kokuo. SofÂyan bilang, saat ini ia dan maÂnajemen Salero Jumbo tengah mempersiapkan bumbu yang tahan hingga dua pekan. “Bila racikan bumbu sudah jadi, saya siÂap mewaralabakan,†kata Sofyan. Sebetulnya, minat mewaralabakan kedua bisnisnya itu sudah mengalir sejak lama. Bahkan, ia berniat mewaralabakan usahanya hingga ke luar negeri, seperti Australia, Singapura, dan India. Lebih dari itu, Sofyan juga berencana membuka rumahmakan serupa dengan nama Salero Mini yang harganya lebih terjangkau. Dengan begitu, Sofyan berharap bisa menggaet pasar lebih banyak lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News