KONTAN.CO.ID - Kolombia resmi mencatatkan belokan politik yang tajam setelah memenangkan pengacara nasionalis sayap kanan, Abelardo De La Espriella, sebagai presiden baru dalam pemilu yang digelar Minggu (21/6/2026). Kemenangan ini menandai kembalinya agenda keamanan garis keras (
hardline) serta kebijakan yang ramah pasar (
market-friendly) di negara Amerika Latin tersebut.
Baca Juga: Hong Kong Berupaya Perluas Investasi dan Akses IPO Bagi Investor China Dijuluki "Si Macan" (The Tiger) oleh para pendukungnya, De La Espriella (47 tahun) memosisikan dirinya sebagai penyelamat anti-kemapanan yang bertekad membangkitkan kembali ekonomi Kolombia yang lesu, sekaligus memulihkan ketertiban di negara yang lama diguncang oleh kelompok bersenjata ilegal dan kartel narkoba. Lompatan Politik dan Agenda Ekonomi Radikal De La Espriella, yang merupakan kritikus keras atas kebijakan ekonomi dan keamanan dari presiden petahana Gustavo Petro, berhasil memenangkan pemilu putaran kedua secara ketat dengan meraup 49,66% suara, unggul tipis dari senator sayap kiri Ivan Cepeda yang meraih 48,7%.
Baca Juga: Won Korea Selatan dan Baht Thailand Pimpin Pelemahan Mata Uang Asia Senin (22/6) Dalam manifesto politiknya, De La Espriella membawa sejumlah rencana reformasi ekonomi dan fiskal yang radikal:
- Efisiensi Birokrasi: Bertekad memangkas ukuran dan struktur lembaga negara hingga 40%.
- Reformasi Pajak: Memperluas basis pemungutan pajak (tax base) di dalam negeri.
- Sektor Energi: Berencana membuka kembali eksplorasi minyak mentah serta mengizinkan metode fracking guna mendongkrak produksi minyak hampir dua kali lipat menjadi 1,3 juta barel per hari.
- Keamanan: Menghentikan seluruh upaya dialog damai dengan kelompok gerilyawan dan beralih ke respons militer penuh.
Dari sisi latar belakang, De La Espriella dikenal sebagai pengacara papan atas sekaligus pemilik gurita bisnis yang mencakup komoditas anggur (wine), rum, lini pakaian, hingga real estat. Kendati demikian, laporan investigasi media lokal La Silla Vacia menyebutkan beberapa unit bisnisnya sempat mencatatkan kerugian dan terlilit utang pada 2024, di mana kantor hukumnya tetap menjadi mesin pencetak uang utama.
Baca Juga: Nikkei Tembus 72.000 untuk Pertama Kalinya (22/6), Euforia AI Dongkrak Bursa Jepang Gaya Eksentrik Bukele dan Kontroversi Hukum Sosok De La Espriella kerap menarik perhatian publik karena penampilannya yang necis, sering mengenakan jam tangan mewah, kacamata hitam desainer, serta kerap menggunakan salam militer saat kampanye meski tidak pernah bertugas di angkatan bersenjata. Gaya kepemimpinannya yang berfokus pada "tangan besi" membuat publik kerap membandingkannya dengan Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Mengikuti jejak Bukele yang populer lewat kebijakan pemberantasan geng kriminal, De La Espriella pun telah mengusulkan pembangunan 10 penjara raksasa (mega-prisons) di Kolombia untuk menampung para pelaku kriminal dan anggota kartel. Namun, jalannya menuju kursi kepresidenan tidak lepas dari sorotan tajam. Sebagai seorang advokat, ia tercatat pernah menjadi kuasa hukum bagi sejumlah figur kontroversial, termasuk Alex Saab—pria yang menghadapi dakwaan pencucian uang di AS untuk pemerintahan Nicolas Maduro di Venezuela.
Baca Juga: AS-Iran Sepakat Roadmap 60 Hari, Nasib Selat Hormuz Mulai Temui Titik Terang Ia juga pernah membela sejumlah pihak yang terseret skandal korupsi keuangan serta kelompok paramiliter sayap kanan. Menanggapi kritik tersebut, De La Espriella menegaskan bahwa hubungan profesionalnya sebagai pengacara murni merupakan pemenuhan hak hukum klien dan tidak melibatkan kepatuhan atau tindakan kriminal apa pun. Presiden terpilih yang memiliki tiga kewarganegaraan (AS, Italia, dan Kolombia) ini dijadwalkan akan resmi dilantik dan mengambil alih kemudi pemerintahan Kolombia pada tanggal 7 Agustus mendatang.