Mengenal Badai Magnetik, Penjelasan dan Dampaknya di Wilayah Indonesia



KONTAN.CO.ID - Mengenal Badai Magnetik, penjelasan, tingkat bahayanya, dampak, dan apa yang dirasakan di Indonesia.

Mengutip laman Wikipedia, Badai Magnet atau Badai Magnetik adalah sebuah gangguan sesaat yang terjadi pada magnetosfer. Ini disebabkan oleh gangguan interplanetary medium.

Berbicara tentang Badai Magnetik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan perkembangan badai tersebut di awal tahun 2026 ini.


Baca Juga: Apa Saja Benda Langit yang Mengelilingi Matahari? Inilah yang Harus Anda Ketahui

Melalui akun Instagram resminya (@geopot_bmkg dan @infobmkg), pada dini hari tanggal 20 Januari 2026 Bumi kembali “disentuh” Matahari.

Aliran angin matahari dari lubang korona menyebabkan badai magnet berat.

Berikut ini adalah penjelasan terkait badai magnetik menurut BMKG dan dampaknya serta apa yang dirasakan di wilayah Indonesia.

Badai magnet ini diperkirakan terjadi hingga beberapa hari ke depan menurut informasi dari NOAA (Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat).

Penyebab utama badai magnetik tanggal 20 Januari ini bersumber dari ledakan matahari moderat yang mengakibatkan lontaran massa ke bumi.

Aliran partikel bermuatan dari lubang korona tersebut mempercepat angin matahari yang mengenai medan magnet Bumi, menyebabkan tekanan pada magnetosfer.

Baca Juga: Pekan Ini: Jangan Lewatkan 3 Fenomena Langit di Januari 2026

Saat angin matahari mengenai medan magnet Bumi, terjadi gangguan/fluktuasi yang membuat medan magnet mengalami gangguan kuat.

Skala dampak badai magnet yang terjadi kali ini berada di level G4 (“Severe”) menurut NOAA.

Level G4 ini dikatakan parah yang terjadi kira-kira 100 kali per 11 tahun (1 siklus matahari). Sistem tenaga mungkin mengalami masalah kontrol tegangan yang meluas dan beberapa sistem pelindung akan secara keliru mengeluarkan aset utama dari jaringan.

Pesawat luar angkasa juga terkena dampaknya, kemungkinan akan mengalami masalah pengisian dan pelacakan permukaan.

Begitu pula dengan navigasi satelit yang menurun selama berjam-jam. 

Berdasarkan hasil monitoring BMKG dari nilai Indeks K dan Indeks A nya, nilai Indeks A maksimum yang tercatat adalah 63, hal ini mengindikasikan bahwa badai magnet dengan skala kuat hingga berat yang tercatat oleh stasiun pengamatan magnet di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Rotasi dan Revolusi Bumi, Apa Hubungannya Serta Dampaknya

Dampak badai magnet:

  • Gangguan komunikasi radio HF (High Frequency)
  • Gangguan sinyal satelit dan GPS
  • Munculnya aurora yang biasanya muncul di daerah lintang tinggi
Aurora di Ilulissat
© Foto oleh iStock
Meskipun badai magnet yang terjadi merupakan badai magnet berat, dampak badai magnet ini untuk wilayah Indonesia yang berada pada lintang rendah relatif kecil.

Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan Indonesia berada di sekitar ekuator geomagnetik yaitu wilayah di mana medan magnet Bumi paling horizontal (inklinasi mendekati 0 derajat) sehingga medan magnet Bumi melindungi wilayah ini dari dampak terburuk.

Badai magnetik yang paling kuat terasa di kutub.

BMKG menambahkan bahwa badai magnet bukanlah ancaman. Ini adalah fenomena alam.

Tonton: Harga Emas Antam Kembali Berjaya Hari Ini (21 Januari 2026)

Selanjutnya: Manajemen Toba Pulp (INRU) Buka Suara Usai Izin Dicabut, Saham Masih Disuspensi BEI

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Hari Ini (21/1): Awas Hujan Ekstrem di Jakarta Sekitarnya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News