KONTAN.CO.ID - Kenaikan saham Starbucks sebesar 5% pada April 2026 menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Brian Niccol mulai memberikan dampak instan bagi raksasa kopi dunia tersebut. Melansir laporan dari
Reuters, keberhasilan Starbucks melampaui estimasi laba dan penjualan pada kuartal II tahun ini merupakan buah dari investasi besar pada kecepatan layanan dan penambahan staf.
Baca Juga: CEO Airbus Buka Suara Soal Konflik Jet Tempur Eropa, Cek Juga Profil Guillaume Faury Di bawah komando Niccol, Starbucks kini tidak lagi sekadar bertahan, melainkan kembali melakukan ekspansi proyeksi pertumbuhan tahunan di tengah ketidakpastian ekonomi. Brian Niccol dikenal luas di industri sebagai spesialis pemulihan atau turnaround specialist. Sejak resmi menjabat sebagai Chairman dan CEO Starbucks pada September 2024, ia langsung mengusung strategi operasional yang sangat teknis namun berorientasi pada kepuasan pelanggan. Kehadirannya di Starbucks dianggap sebagai angin segar setelah perusahaan sempat mengalami stagnasi pertumbuhan di beberapa pasar utama.
Rekam Jejak dan Karir Profesional Brian Niccol
Sebelum menakhodai Starbucks, Brian Niccol telah mengukir prestasi gemilang yang membuatnya menjadi salah satu CEO paling disegani di industri makanan dan minuman global. Brian Niccol memiliki latar belakang pendidikan yang cukup mentereng dimana dia lulus S1 Miami University dan Master of Business Administration (MBA) dari University of Chicago Booth School of Business. Melansir informasi dari profil eksekutif resmi di situs
Starbucks Stories, berikut adalah perjalanan karir Brian Niccol:
- CEO Chipotle Mexican Grill (2018-2024)
Sebelum di Starbucks, Niccol menjabat sebagai CEO Chipotle. Di sana, ia sukses melakukan modernisasi sistem digital secara masif. Ia berhasil melipatgandakan nilai pasar perusahaan dan membawa Chipotle keluar dari krisis keamanan pangan hingga menjadi pemimpin pasar di kategorinya.
Niccol pernah menjabat sebagai CEO di Taco Bell, di mana ia berperan penting dalam memosisikan merek tersebut sebagai pemimpin dalam industri makanan cepat saji melalui inovasi menu dan pemasaran kreatif.
- Kepemimpinan di Pizza Hut
Ia juga memegang berbagai posisi kepemimpinan strategis di Pizza Hut sebelum akhirnya fokus pada level eksekutif di perusahaan-perusahaan besar lainnya.
Baca Juga: Ini Profil Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah yang Baru Strategi "Back to Starbucks" dan Target Operasional
Inti dari kepemimpinan Niccol di Starbucks adalah kembalinya fokus pada pengalaman pelanggan di dalam gerai. Ia percaya bahwa Starbucks harus menjadi sentuhan kemewahan kecil yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Melalui program "Back to Starbucks", ia menekankan bahwa efisiensi di belakang meja adalah kunci utama untuk meningkatkan volume penjualan. Berdasarkan informasi dari
Reuters, Niccol telah menetapkan standar layanan yang sangat ketat untuk memastikan tidak ada pelanggan yang pergi karena waktu tunggu yang terlalu lama. Berikut adalah rincian target layanan operasional yang wajib dipenuhi oleh gerai Starbucks: 1. Standar Layanan 4-4-12:
- Target waktu tunggu maksimal 4 menit bagi pelanggan di dalam kafe.
- Target waktu tunggu maksimal 4 menit bagi pelanggan di layanan lantatur (drive-through).
- Target waktu tunggu di bawah 12 menit untuk pengambilan pesanan melalui aplikasi seluler (mobile pickup).
2. Efektivitas Strategi: Saat ini, sebanyak 80% toko di seluruh dunia telah berhasil memenuhi target 4-4-12 tersebut. 3. Peningkatan Kunjungan: Data dari Placer.ai menunjukkan kunjungan rata-rata per lokasi naik 5.9% pada kuartal ini, membuktikan bahwa kecepatan layanan berbanding lurus dengan jumlah pelanggan.
Pandangan Masa Depan Starbucks
Kinerja kuartal II 2026 mencatatkan pertumbuhan penjualan toko yang sama secara global sebesar 6.2%. Angka ini melampaui proyeksi analis sebesar 3.7%. Keberhasilan ini membuat Starbucks berani menaikkan target laba per saham (EPS) tahunan ke rentang US$2.25-2.45. Jika dikonversi menggunakan kurs Rp17.276 per US$, maka proyeksi laba per saham tersebut setara dengan Rp38.871-Rp42.326.
Tonton: BEI Evaluasi Kriteria Indeks Utama Niccol mengakui bahwa margin operasional di Amerika Utara sempat turun menjadi 9.9% akibat biaya tenaga kerja yang membengkak. Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini adalah investasi jangka panjang. Starbucks memperkirakan tekanan dari tarif impor dan tingginya harga kopi akan mereda pada paruh kedua tahun fiskal ini. Dengan tren positif yang berlanjut hingga April, Brian Niccol optimistis bahwa periode titik balik telah tercapai, memperkuat posisi Starbucks sebagai pemain utama di pasar kopi global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News