KONTAN.CO.ID - Mengenal Soltis Desember, apakah fenomena astronomis ini berbahaya? Yuk cari tahu selengkapnya di sini, mulai dari mengenal apa itu peristiwa Soltis hingga mengetahui berbahaya atau tidaknya fenomena ini. Mungkin beberapa orang telah mendengar atau mengetahui imbauan yang mengatakan bahwa untuk tidak keluar rumah pada 21 Desember 2022. Seperti yang dilansir dari laman resmi Edukasi Sains Antariksa LAPAN, imbauan tersebut ternyata berasal dari pihak yang kurang bertanggung jawab. Imbauan tersebut bahkan mengkaitan dengan fenomena soltis. Mau tahu tentang fenomena soltis ini? Dan apakah fenomena astronomis yang satu ini berbahaya?
Tentang Soltis
Bagaimana fenomena Soltis terjadi?
Masih dari sumber yang sama, Andi Pangerang Hasanuddin dari Pusta Riset Antariksa BRIN menjelaskan bahwa Soltis disebabkan oleh sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika (sumbu kutub utara-selatan ekliptika). Saat Bumi berotasi, di saat yang sama juga mengorbit Matahari, sehingga terakadang Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara condong ke Matahari, sementara Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan menjauhi Matahari. Inilah kondisi saat Soltis di bulan Juni, atau disebut juga Soltis Juni. Sebaliknya, Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan condong ke Matahari, sementara Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara menjauhi Matahari. Inilah kondisi saat Soltis di bulan Desember, atau disebut juga Soltis Desember. Soltis Desember tahun 2022 ini akan terjadi pada tanggal 22 Desember pukul 04.49.14 WIB/ 05.49.14 WITA/ 06.49.14 WIT. Apa dampak dari Soltis Desember? Berikut ini beberapa dampak yang disebabkan oleh Soltis Desember. Baca Juga: 3 Link Moon Phase, Cara Melihat Fase Bulan Berdasarkan Tanggal Lahir yang Lagi RamaiDampak Soltis Desember:
- Matahari akan b erkulminasi paling selatan saat tengah hari. Kecuali di wilayah yang terletak di garis balik selatan (Tropic of Capricorn, 23,44o LS), Matahari akan berkulminasi tepat di zenit atau di atas pengamat.
- Intensitas radiasi Matahari akan maksimum untuk lintang sedang belahan Bumi Selatan (>23,44o LS), sedangkan untuk Lintang Selatan sedang Belahan Bumi Utara (> 23,44o LS), intensitas radiasi Matahari akan minimum.
- Matahari akan terbit di arah antara timur dan tenggara untuk lintang < 56 derajat (Utara/Selatan), tepat di tenggara untuk Lintang 56 derajat (Utara/Selatan), di antara tenggara dan selatan untuk Lintang > 56 derajat (Utara/Selatan).
- Matahari akan terbenam di arah antara Barat dan Barat Daya untuk Lintang < 56 derajat (Utara/Selatan), tepat di barat daya untuk Lintang 56 derajat (Utara/Selatan), di antara barat daya dan selatan untuk Lintang > 56 derajat (Utara/Selatan).
- Panjang siang (dari Matahari terbit ke Matahari terbenam) akan lebih panjang dibandingkan dengan panjang malam (dari Matahari terbenam ke Matahari terbit) untuk belahan Bumi Selatan, sedangkan panjang siang akan lebih pendek dibandingkan dengan panjang malam untuk belahan Bumi Utara.
- Terjadi fenomena "Matahari tengah malam" (Midnight Sun) di wilayah Kutub Selatan (> 66,56oLS), hal ini dikarenakan Kutub Selatan condong ke Matahari, sehingga seluruh bagian Kutub disinari Matahari. Panjang siang di wilayah Kutub Selatan menjadi 24 jam.
- Sedangkan, di wilayah Kutub Utara (> 66,56oLU) akan terjadi fenomena "Malam Kutub" (Polar Night), hal ini dikarenakan Kutub Utara menjauhi Matahari, sehingga seluruh bagian Kutub tidak disinari Matahari. Sementara itu, panjang malam di wilayah Kutub Utara menjadi 24 jam.
- Terjadi puncak musim panas di lintang sedang Bumi Selatan (> 23,44oLS), sedangkan di lintang sedang belahan Bumi Utara (> 23,44oLU) terjadi puncak musim dingin.
- Untuk di lintang rendah balik di belahan Bumi Utara maupun belahan Bumi Selatan (< 23,44oLU/LS) terjadi puncak musim penghujan.