Menggiring start up masuk bursa saham



KONTAN.CO.ID - PERUSAHAAN rintisan teknologi dan informasi (TI) menjadi salah satu pusat perhatian otoritas pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan menyiapkan sejumlah pelonggaran demi menarik minat perusahaan agar melantai di pasar modal.

Maklum, saat ini, perusahaan rintisan yang IPO masih dalam hitungan jari. Bandingkan dengan luar negeri. Di Wall Street misalnya, saham-saham teknologi informasi mendominasi bursa. Amazon, Apple, Facebook mencetak kapitalisasi saham besar.

Nah, salah satu upaya BEI membuka jalan bagi IPO start up adalah pengadaan papan akselerasi. Selama ini, yang ada hanya papan utama dan pengembangan.


Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menuturkan, bursa segera meluncurkan papan akselerasi yang nantinya mengakomodasi start up. "Saat ini Otoritas Jasa Keuangan berdiskusi dengan para pelaku pasar untuk revisi rancangan aturan," kata Nyoman, Kamis (6/9).

Ada beberapa poin dalam draf OJK, seperti jangka waktu perusahaan harus mencatatkan laba dan standar akuntansi.

Papan akselerasi mewajibkan perusahaan rintisan mulai mencatatkan laba enam tahun setelah IPO. Kewajiban ini lebih longgar dibandingkan pada papan pengembangan yang menargetkan wajib mencetak laba dua tahun setelah IPO.

Start up juga tak perlu menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang umum, sehingga perusahaan rintisan punya kesempatan yang sama dengan perusahaan lain.

Tapi, Nyoman mengakui, investasi pada start up memiliki risiko cukup besar. Sehingga, BEI tetap memberikan upaya untuk perlindungan investor. Pertama, keterbukaan dalam proses penawaran umum bahwa calon emiten itu adalah perusahaan rintisan. Kedua, menyematkan kode khusus selain ticker yang menandakan bahwa perusahaan itu UMKM.

BEI tak sendirian dalam upaya mengajak start up untuk go public. Bekerja sama dengan BEI, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meluncurkan platform GoStartupIndonesia.

Platform ini akan menjadi jembatan bagi start up untuk mendapatkan koneksi ke inkubator dan lembaga pembiayaan. Dengan cara ini diharapkan bisa membuka jalan bagi start up untuk IPO. "Kami bukan penyedia dana, tapi membuka akses bagi orang-orang yang ingin berinvestasi ke start up," kata Triawan Munaf, Kepala Bekraf, Kamis (4/9).

Upaya ini disambut baik sejumlah start up. Salah satunya, perusahaan marketplace yang berinduk ke Singapura, yakni Shopee Indonesia. Selasa (4/9), Shopee bahkan sempat menyambangi BEI dan membuka perdagangan.

Pandu Patria Sjahrir, Komisaris Shopee, membuka kemungkinan untuk listing di BEI, jika ingin meningkatkan nilai perusahaan. "Namun tidak dalam waktu dekat. Kami akan fokus memperluas bisnis dalam 6–9 bulan ke depan," kata Pandu Patria Sjahrir, Komisaris Shopee, Selasa (4/8).

Dia bilang, sebelum memutuskan IPO, Shopee juga akan mempertimbangkan kondisi pasar.

Direktur Utama PT Yelooo Integra Datanet Tbk (Passpod) Hiro Whardana bilang, papan akselerasi akan sangat berguna, karena banyak perusahaan yang terkendala dalam akses permodalan.

Menurut dia, memperluas usaha dengan metode konvensional sulit dilakukan. Sehingga revolusi di industri kreatif perlu dilakukan.