Menghadapi Ketidakpastian Global, Pemerintah Berupaya Perkuat Fundamental Ekonomi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Upaya tersebut melalui penguatan fundamental domestik serta disiplin dalam pengelolaan kebijakan fiskal dan ekonomi.

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana menyampaikan, dinamika global saat ini  menjadi tantangan yang tidak terhindarkan. Namun, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi beragam kemungkinan.

“Semua sangat tergantung pada asumsi, seperti berapa lama konflik berlangsung. Tapi kita sudah punya ancang-ancang dan persiapan untuk menghadapi berbagai skenario,” ujar Eka dalam penjelasannya, Rabu (22/4).


Menurutnya, dampak geopolitik berpotensi menekan perekonomian Indonesia melalui berbagai jalur. Seperti peningkatan inflasi, depresiasi nilai tukar, kenaikan kebutuhan subsidi energi, hingga tekanan terhadap target pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, pemerintah memastikan disiplin fiskal tetap menjadi prioritas utama. Tidak ada rencana untuk memperlebar defisit anggaran, yang tetap dijaga dalam batas aman.

“Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,” tegasnya.

Dalam jangka menengah, pemerintah tetap mempertahankan target pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada tahun 2029.  Target tersebut tidak diturunkan meskipun tekanan global meningkat.

Baca Juga: Inflasi Inti Diprediksi Naik Tipis ke 2,6%-3% pada April, Terkerek Harga Plastik

“Pertanyaannya bukan apakah target diturunkan, tapi bagaimana kebijakan kita diperkuat agar tetap bisa mencapai target tersebut,” kata Eka.

Ia menambahkan, pendekatan pemerintah tidak hanya berfokus pada program jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Bukan sekadar deliver output, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem—mulai dari supply chain, industri, hingga ketahanan sistemnya,” jelasnya.

Dari sisi fundamental, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih solid. Konsumsi rumah tangga tetap terjaga, sektor perbankan stabil dengan rasio kredit bermasalah (NPL) sekitar 2,17% dan pertumbuhan kredit 9,4% (yoy), serta likuiditas yang memadai.

Di sektor eksternal, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 148,2 miliar atau setara 6 bulan impor, sementara transaksi berjalan tetap terkendali di kisaran 0,1% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, sektor riil dan fiskal juga menunjukkan ketahanan, dengan defisit APBN yang tetap rendah sekitar 0,93% terhadap PDB serta dukungan dari pertumbuhan industri dan ekspor manufaktur.  Ekonomi digital menjadi motor baru dengan pertumbuhan transaksi yang signifikan.

Pemerintah mengakui masih terdapat ruang perbaikan. Evaluasi terhadap berbagai program unggulan terus dilakukan untuk memastikan efektivitas kebijakan. 

Untuk merespons kondisi global, pemerintah menyiapkan kombinasi kebijakan jangka pendek dan menengah. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN), optimalisasi belanja negara, serta efisiensi operasional.

Sementara dalam jangka menengah, pemerintah mendorong diversifikasi energi, percepatan transisi energi, serta penguatan struktur industri domestik. “Langkah-langkah ini kita siapkan agar ekonomi tetap resilient, baik dalam jangka pendek maupun menengah,” ujar Eka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News