Menghadapi Krisis Ekonomi Global, Perempuan Pelaku Usaha Harus Bisa Adaptif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi yang belum mereda, kalangan perempuan pelaku usaha perlu memperkuat kapasitas adaptasi, kemandirian finansial, serta kemampuan membaca peluang di tengah krisis.

International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook memproyeksi, pertumbuhan ekonomi global melambat ke kisaran 3,1% pada 2026, di bawah rata-rata historis sebelum pandemi. Sementara itu, World Bank menilai tekanan dari sektor energi masih berpotensi memengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi, khususnya di negara berkembang.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inisiatif penguatan kapasitas perempuan, salah satunya melalui komunitas bisnis perempuan Dhanavinya.


Forum ini menilai, krisis global tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum untuk mempercepat transformasi diri dan membuka peluang usaha baru. Dhanavinya sendiri berupaya mendorong kolaborasi, mentoring, coaching, serta pengembangan kapasitas bisnis perempuan lintas sektor.

Baca Juga: 2.424 Wajib Pajak Gagal Repatriasi, Purbaya Beri Waktu 6 Bulan untuk Tepati Janji

Co Founder Dhanavinya, Esra Manurung mengatakan, kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.

“Transformasi tidak selalu nyaman, tapi justru dari sana lahir pemimpin tangguh, visioner, dan mampu menyesuaikan diri. Mental tidak boleh kalah dalam krisis dan tetap bergerak maju meskipun situasi tidak ideal,” ujar dia, dalam keterangan resmi, 

Menurut Esra, penguatan kapasitas dapat dilakukan melalui pembelajaran dari buku, seminar, hingga mentor bisnis agar pelaku usaha memiliki perspektif dan strategi yang lebih matang menghadapi perubahan.

Krisis global perlu dipahami sebagai ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar ancaman. Ia menilai kemampuan melihat peluang secara berbeda menjadi salah satu kunci bertahan di tengah ketidakpastian.

Dari sisi keuangan, ketidakpastian ekonomi global semakin menegaskan pentingnya kemandirian finansial, terutama bagi perempuan. Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan secara bijak menjadi fondasi penting dalam menghadapi kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Sementara itu, praktisi sektor energi Erita Yohan melihat tekanan ekonomi dunia justru membuka peluang pertumbuhan di sejumlah sektor seperti pangan sehat, kesehatan dan wellness, energi, serta ekonomi digital.

Menurut Erita, perempuan memiliki sejumlah keunggulan seperti kemampuan multitasking, ketelitian, dan intuisi yang kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi. Namun, tantangan seperti keterbatasan akses, tekanan sosial, dan rendahnya rasa percaya diri masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.

Ia menilai peluang usaha saat ini dapat dimulai dari skala kecil dengan memanfaatkan platform digital, termasuk bisnis kuliner rumahan, edukasi daring, reseller, hingga konten digital.

“Tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna. Yang penting mulai dari apa yang ada, kelola dengan disiplin, dan terus belajar. Dalam situasi krisis, mereka yang bergerak lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh,” kata Erita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News