ANAK-ANAK muda gemar mencari tren unik dan nyentrik. Nah, salah satu tren yang kini sedang in di kalangan anak muda Jakarta adalah menghisap rokok Arab, atau populer disebut shisha. Tak percaya? Coba sambangi beberapa kafe di Jakarta. Di sana, Anda akan menjumpai shisha. Aktivitas merokok khas Timur Tengah ini menjamur karena cara menghisapnya unik. Sekedar catatan, shisha adalah kegiatan menghisap tembakau arab memakai perangkat yang terdiri dari pipa -biasa disebut hookah atau bong- yang tersambung dengan selang panjang. Prinsip kerjanya: tembakau dipanaskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup. Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau. Kini ada sekitar 30 rasa tembakau, mulai dari buah-buahan, cokelat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya mengandung maksimal 0,05% nikotin dan 0% tar. Menilik tren ini, tak salah jika pemain bisnis pelengkapan shisha ketiban pulung. Salah satunya Mochamad Taufik. Pria 28 tahun ini mengawali bisnis perlengkapan shisha karena melihat keunikan shisha dan sekaligus hobi. Maka, bermodal Rp 5 juta, ia menjajal peruntungan bisnis ini pada 2005. Ia memakai modal awal itu untuk membeli lima hookah dan perlengkapan lain ke perajin di Dubai, Uni Emirat Arab, lewat perantara sang pacar. Tak disangka, dalam tempo singkat, lima alat itu habis terjual. Taufik makin yakin bisnis ini mampu mendatangkan laba. Rp 50 juta sebulan Ketika terjun ke bisnis peranti shisha, Taufik sadar sudah ada beberapa pemain di bisnis ini. “Bedanya, mereka hanya jual alat. Kalau saya menjual alat, tembakau, dan aksesorinya. Kelebihan lain, saya berani kasih garansi,†katanya. Pemasaran lewat dunia maya memuluskan bisnisnya. “Situs saya (shishaid.com) satu-satunya toko online perlengkapan shisha di Indonesia,†ujarnya bangga. Ide awal menggarap bisnis shisha berawal dari status Taufik sebagai penikmat. Taufik yang memang berdarah Timur Tengah punya kegemaran menghisap shisha sejak remaja. Sebagai penggemar, ia mengaku tak sekedar menjual produk, tapi juga melakukan edukasi ke masyarakat soal shisha. "Banyak orang salah kaprah bila melihat bentuk penghisap yang mirip bong alias alat penghisap sabu-sabu ini," katanya. Taufik membanderol harga perlengkapan shisha impornya mulai Rp 200.000 sampai Rp 1,5 juta per unit. Harga racikan tembakau mulai Rp 30.000 sampai Rp 85.000 per 250 gram. Lain lagi harga aksesorinya. Misalnya, harga foil Rp 10.000 dan mouthip (alat kecil di ujung plastik hisap yang bisa dilepas) dari Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Taufik bilang, harga shisha mahal karena masih impor dari Dubai, Arab Saudi, Iran, Mesir, India, dan China. Pelanggan Taufik adalah perorangan, kafe, juga restoran. "Dalam sebulan, saya bisa menjual sekitar 75 - 100 hookah, di luar tembakau dan aksesori," katanya. Pernah juga, dalam sehari, ia mendapat omzet Rp 15 juta. Kini, dibantu sang istri dan mertuanya, Taufik menggulirkan roda bisnisnya dengan omzet Rp 50 juta per bulan. Dari omzet segitu, sekitar 15%-20% masuk ke koceknya sebagai laba bersih. Sampai kini, ia tak membuka gerai resmi. Ia memilih mendirikan toko online."Ini juga bagian cara menghemat ongkos produksi," katanya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Menghirup Fulus Bisnis Rokok Arab
ANAK-ANAK muda gemar mencari tren unik dan nyentrik. Nah, salah satu tren yang kini sedang in di kalangan anak muda Jakarta adalah menghisap rokok Arab, atau populer disebut shisha. Tak percaya? Coba sambangi beberapa kafe di Jakarta. Di sana, Anda akan menjumpai shisha. Aktivitas merokok khas Timur Tengah ini menjamur karena cara menghisapnya unik. Sekedar catatan, shisha adalah kegiatan menghisap tembakau arab memakai perangkat yang terdiri dari pipa -biasa disebut hookah atau bong- yang tersambung dengan selang panjang. Prinsip kerjanya: tembakau dipanaskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup. Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau. Kini ada sekitar 30 rasa tembakau, mulai dari buah-buahan, cokelat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya mengandung maksimal 0,05% nikotin dan 0% tar. Menilik tren ini, tak salah jika pemain bisnis pelengkapan shisha ketiban pulung. Salah satunya Mochamad Taufik. Pria 28 tahun ini mengawali bisnis perlengkapan shisha karena melihat keunikan shisha dan sekaligus hobi. Maka, bermodal Rp 5 juta, ia menjajal peruntungan bisnis ini pada 2005. Ia memakai modal awal itu untuk membeli lima hookah dan perlengkapan lain ke perajin di Dubai, Uni Emirat Arab, lewat perantara sang pacar. Tak disangka, dalam tempo singkat, lima alat itu habis terjual. Taufik makin yakin bisnis ini mampu mendatangkan laba. Rp 50 juta sebulan Ketika terjun ke bisnis peranti shisha, Taufik sadar sudah ada beberapa pemain di bisnis ini. “Bedanya, mereka hanya jual alat. Kalau saya menjual alat, tembakau, dan aksesorinya. Kelebihan lain, saya berani kasih garansi,†katanya. Pemasaran lewat dunia maya memuluskan bisnisnya. “Situs saya (shishaid.com) satu-satunya toko online perlengkapan shisha di Indonesia,†ujarnya bangga. Ide awal menggarap bisnis shisha berawal dari status Taufik sebagai penikmat. Taufik yang memang berdarah Timur Tengah punya kegemaran menghisap shisha sejak remaja. Sebagai penggemar, ia mengaku tak sekedar menjual produk, tapi juga melakukan edukasi ke masyarakat soal shisha. "Banyak orang salah kaprah bila melihat bentuk penghisap yang mirip bong alias alat penghisap sabu-sabu ini," katanya. Taufik membanderol harga perlengkapan shisha impornya mulai Rp 200.000 sampai Rp 1,5 juta per unit. Harga racikan tembakau mulai Rp 30.000 sampai Rp 85.000 per 250 gram. Lain lagi harga aksesorinya. Misalnya, harga foil Rp 10.000 dan mouthip (alat kecil di ujung plastik hisap yang bisa dilepas) dari Rp 30.000 sampai Rp 50.000. Taufik bilang, harga shisha mahal karena masih impor dari Dubai, Arab Saudi, Iran, Mesir, India, dan China. Pelanggan Taufik adalah perorangan, kafe, juga restoran. "Dalam sebulan, saya bisa menjual sekitar 75 - 100 hookah, di luar tembakau dan aksesori," katanya. Pernah juga, dalam sehari, ia mendapat omzet Rp 15 juta. Kini, dibantu sang istri dan mertuanya, Taufik menggulirkan roda bisnisnya dengan omzet Rp 50 juta per bulan. Dari omzet segitu, sekitar 15%-20% masuk ke koceknya sebagai laba bersih. Sampai kini, ia tak membuka gerai resmi. Ia memilih mendirikan toko online."Ini juga bagian cara menghemat ongkos produksi," katanya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News