KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas di pasar spot ambles 1,28% ke level US$ 4.053,00 per troy ons pada perdagangan Rabu (8/7/2026) pukul 17:25 WIB. Berdasarkan data
Trading Economics, logam mulia susut 52,73 poin secara harian dan terkoreksi 4,86% dalam sebulan terakhir, meski secara tahunan (YoY) masih naik 22,34%. Analis komoditas dan founder
Traderindo.com, Wahyu Lakosono, mengungkapkan bahwa emas sempat berbalik menguat ke level US$ 4.129,52 per troy ons pada siang hari dampak karena data tenaga kerja AS, sebelum akhirnya jatuh ke kisaran US$ 4.051 per troy ons sore ini.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (8/7): Turun Rp 14.000 Jadi Rp 2.641.000 Per Gram "Sentimen utama yang memicu kejatuhan mendadak ini adalah pengumuman dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa nota kesepahaman (MOU) atau kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir," ujar Wahyu kepada Kontan, Rabu (8/7/2026). Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menambahkan, penguatan di siang hari murni didorong kembalinya minat
safe haven pasca eskalasi ketegangan Selat Hormuz, meski kini pasar didera tarik-menarik sentimen kenaikan suku bunga Fed. "Pasar saat ini juga tengah menantikan risalah rapat FOMC Juni, risalah pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed baru, Kevin Warsh, yang dikenal cenderung hawkish," kata Sutopo. Sutopo menilai koreksi tajam dari rekor tertinggi sejatinya menandakan harga sekarang berada di tengah fase koreksi teknik dan bukan di puncak siklus.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Pasar Menanti Sinyal The Fed soal Arah Suku Bunga "Koreksi tajam sore ini ke area US$ 4.051 justru menggugurkan premi premium yang sempat terbentuk pada siang hari. Level ini merupakan titik terendah emas sejak awal Juli," tegas Wahyu. Peta proyeksi pergerakan harga emas untuk paruh kedua atau semester II-2026 ini pun langsung berubah total pasca runtuhnya kesepakatan AS-Iran. Wahyu memproyeksikan rentang harga yang lebar dengan target tertinggi emas berpotensi menembus kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.600 per troy ons jika konflik senjata meluas. Sebaliknya, jika inflasi lengket memaksa Fed bertindak agresif, target batas bawah emas pada semester II-2026 diperkirakan berada di kisaran US$ 3.500 hingga US$ 3.800 per troy ons.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Prospeknya Masih Menarik untuk Jangka Panjang Menyikapi volatilitas yang sangat tinggi, pelaku pasar disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan transaksi berskala besar sekaligus.
Pendekatan alokasi dana secara berkala atau memanfaatkan momentum koreksi tajam jauh lebih direkomendasikan ketimbang melakukan hold total. "Melihat situasi yang sangat volatil, strategi terbaik saat ini adalah Cicil Beli secara Bertahap (
Buy on Weakness) dengan porsi kecil, bukan melakukan
hold total atau langsung membeli dalam jumlah besar sekaligus (
all-in)," pungkas Wahyu. Strategi
Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai menjadi pelindung terbaik bagi portofolio ritel sembari memantau risalah rapat FOMC Juni serta arah eskalasi geopolitik berikutnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News