Mengolah kulit pisang sambil berdayakan wanita



Pisang merupakan buah yang banyak digemari orang lantaran kandungan vitaminnya yang cukup tinggi. Namun ternyata, tidak semua jenis pisang biasa dikonsumsi manusia. Seperti halnya pisang uter. Daging pisang yang satu ini banyak mengandung batu dan rasanya tidak manis. Jadi biasanya daging pisang uter hanya dijadikan pakan burung.

Nah, melalui tangan kreatif Ratna Prawira, kulit pisang uter yang biasanya langsung dibuang dia olah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Awalnya, Ratna melihat di lingkungan rumahnya di Dusun Dusun Gamelan, Sendangtirto, Sleman, Yogyakarta, banyak ditumbuhi pisang uter. Tanaman ini tumbuh liar dan tidak dimanfaatkan. Sementara itu, di daerah tersebut banyak ibu rumahtangga yang menganggur.

Ratna tinggal di desa ini pada 2009, sebelumnya tinggal di Ambon. Di tahun yang sama, bulan Mei, Ratna membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT). Kelompok ini ia beri nama Seruni. Semangat awal membentuk kelompok tani ini adalah untuk membantu memperba-iki ekonomi warga sekitar.


Sejak itu, Ratna membina para anggotanya untuk menghasilkan berbagai keterampilan dan melakukan percobaan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan mengolah kulit pisang uter menjadi keripik. Setelah melalui beberapa kali proses percobaan, akhirnya pada tahun 2011, Ratna berhasil mengolah kulit pisang menjadi keripik yang gurih dan nikmat bersama 30 anggota KWT Seruni. “Butuh tiga tahun untuk melakukan percobaan,” kata dia.

KWT Seruni di bawah bimbingan Ratna terus melakukan inovasi. Selain menghasilkan keripik kulit pisang, mereka juga menghasilkan olahan lain dari daun hingga bonggol pisang. Saat ini, sudah ada 25 produk yang dihasilkan KWT Seruni seperti selai kulit pisang, nugget bonggol pisang, sirup daun pisang, sirup bonggol pisang, manisan bonggol pisang, dan lain-lain.

Awalnya, produk KWT Seruni hanya dititipkan di toko oleh-oleh di sekitar lingkungan mereka. Namun saat ini penjualan sudah diperluas ke sejumlah perkantoran di Yogyakarta. Menurut Ratna, kegiatan ini telah membantu ekonomi ibu-ibu anggota Seruni. Pendapatan per orang di kelompok ini rata-rata Rp 3 juta−Rp 4 juta per bulan.

Melalui kreativitasnya ini, Ratna berhasil mendapat berbagai penghargaan. Salah satunya adalah dengan meraih juara I dalam penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara tingkat provinsi dan tingkat nasional kategori pelaku tahun 2012.

Tahun ini, KWT Seruni dipercaya Pemerintah Daerah Sleman Yogyakarta untuk mendorong warga menanam sayuran di lahan kosong pekarangan rumah warga. Sayuran tersebut akan diolah menjadi makanan olahan.                          

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini