Menguat di Akhir Pekan, Harga Emas Tetap Melemah di Pekan Ini



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas ditutup menguat tetapi masih di jalur untuk penurunan mingguan ketiga secara berturut-turut. Harga emas masih terbebani oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat secara keseluruhan dan imbal hasil obligasi menyusul retorika hawkish baru dari pejabat Federal Reserve.

Jumat (17/2), harga emas spot ditutup menguat 0,3% ke US$ 1.842,36 per ons troi, setelah sebelumnya jatuh ke level terendah sejak akhir Desember 2022. Dengan posisi ini, harga emas telah turun 1,2%.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman April 2023 ditutup turun 0,1% ke US$ 1.850,20.


Kenaikan dolar, dipasangkan dengan prospek hawkish dari anggota Fed, membebani pasar, kata Phillip Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures di Chicago.

Pejabat Fed minggu ini mengatakan bank sentral AS kemungkinan harus menaikkan suku bunga lebih dari awal bulan ini, dengan Gubernur The Fed Michelle Bowman mengulangi target inflasi 2%.

Baca Juga: Ada Potensi Kenaikan Bunga Lebih Tinggi, Harga Emas Turun 2% Sepekan

Indeks dolar AS berada di jalur untuk kenaikan minggu ketiga berturut-turut, membuat emas kurang menarik bagi pembeli di luar negeri, sementara imbal hasil obligasi juga naik.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan dengan hasil nol. Harga logam mulia turun sekitar 7,3% sejak berada di level puncak sembilan bulannya awal bulan ini.

Goldman Sachs memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga tiga kali lagi tahun ini dengan masing-masing seperempat poin persentase.

Pedagang menunggu rilis FOMC minutes terbaru dan data PDB AS di minggu depan untuk petunjuk lebih lanjut tentang jalur kenaikan suku bunga.

"Tes untuk The Fed akan terjadi jika dan ketika ekonomi melemah tanpa inflasi yang menurun dengan cepat ... jika The Fed bereaksi terhadap hasil potensial tersebut dengan melonggarkan kebijakan, maka emas akan berkinerja baik," kata Caesar Bryan, Portfolio Manager di Gabelli Gold Fund.

Editor: Anna Suci Perwitasari