KALAU berkunjung ke Yogyakarta dan sekitarnya, Anda bisa dengan mudah menemukan penjual kerajinan wayang kulit sebagai oleh-oleh. Asyiknya lagi, kini variasi kerajinan ini sudah cukup banyak. Selain dijual dalam bentuk aslinya, kini juga banyak dijual wayang yang sudah dimodifikasi menjadi berbagai benda lain. Misalnya, kap lampu, kipas, pembatas buku, hingga gantungan kunci. Salah satu yang membuat berbagai kreasi wayang tersebut adalah Sujiyono, perajin wayang asal Bantul, Yogyakarta. Sujiyono bercerita, keluarganya memang menekuni kerajinan wayang turun-temurun. Awalnya, ia hanya membuat wayang untuk pementasan. Baru sejak 1984 ia membuat wayang kulit dalam berbagai bentuk suvenir. Selain itu, Sujiyono juga tetap menerima pesanan pembuatan tokoh pewayangan untuk sanggar seni atau padepokan wayang kulit. Sujiyono mengaku penjualan suvenir wayang buatannya cukup bagus. "Kalau pas lagi musimnya turis, penjualan bisa sampai 90% dari stok barang," katanya. Menurutnya, biasanya turis ramai mengunjungi Yogyakarta pada bulan November sampai Februari dan Mei sampai September. Di masa-masa itu Sujiyono bisa memperoleh pendapatan Rp 100 juta - Rp 150 juta per bulan Namun, di luar musim turis, barang yang terjual hanya sekitar 50% dari stok. Pendapatannya pun cuma sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta sebulan. Pemilik CV Agung Karya Sentosa ini mengambil margin sekitar 10%-15%. Saat ini Sujiyono mempekerjakan 24 karyawan untuk membantu usahanya. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan puluhan ribu kerajinan wayang dalam berbagai bentuk. Mulai dari wayang standar, kap lampu, tempat lilin, hingga kaligrafi. Produksinya yang paling banyak adalah pembatas buku, yang bisa mencapai 10.000 potong tiap bulannya. Harga produk bikinan Sujiyono bervariasi. Harga wayang berbentuk kap lampu, misalnya, Rp 25.000 - Rp 45.000. Harga gantungan kunci Rp 2.500-Rp 30.000 per unit. Sujiyono juga membuat tempat lilin, yang dia jual seharga Rp 9.000-Rp 25.000 per unit. Sementara untuk wayang asli, harga jualnya mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 1,25 juta per unit. Spektrum harga wayang kulit memang cukup lebar, tergantung jenis kulit, ukuran, kehalusan pahatan dan mengerjaan, serta pewarnaannya. Harga wayang yang dibuat dari kulit perkamen lebih murah. Perkamen adalah kulit kualitas terendah, yang biasanya sisa dari pabrik pengolahan kulit. Membuat wayang tidaklah mudah. "Dibutuhkan sekitar tiga sampai empat tahun baru seorang perajin bisa terampil membuat wayang kulit," ujar Sujiyono. Untuk membuat desain wayang, perajin harus mahir menggunakan pahat ukir khusus wayang. Pengukiran juga harus dilakukan dengan hati-hati, agar bentuk wayang tidak menyalahi pakemnya. Untuk membuat wayang, Sujiyono menggunakan bahan kulit kerbau, sapi, dan kambing. Dia membeli bahan baku kulit mentah dari Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara Timur seharga Rp 30.000 - Rp 55.000 per kilogram. Biasanya, satu lembar kulit kerbau berbobot 10 kg bisa dibuat wayang hingga 22 unit. Sujiyono menjual produknya lewat gerai miliknya di pasar seni di Yogyakarta. Selain itu, pria berusia 50 tahun ini juga mendistribusikan produk kerajinannya ke berbagai toko kerajinan dan bandara yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta, Bali dan Surabaya. Ia juga mengekspor produknya ke Timur Tengah, Jepang, Australia, Singapura hingga Belanda. Selain itu, Sujiyono juga rajin ikut pameran.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Mengukir Peruntungan dari Aneka Kerajinan Wayang Kulit
KALAU berkunjung ke Yogyakarta dan sekitarnya, Anda bisa dengan mudah menemukan penjual kerajinan wayang kulit sebagai oleh-oleh. Asyiknya lagi, kini variasi kerajinan ini sudah cukup banyak. Selain dijual dalam bentuk aslinya, kini juga banyak dijual wayang yang sudah dimodifikasi menjadi berbagai benda lain. Misalnya, kap lampu, kipas, pembatas buku, hingga gantungan kunci. Salah satu yang membuat berbagai kreasi wayang tersebut adalah Sujiyono, perajin wayang asal Bantul, Yogyakarta. Sujiyono bercerita, keluarganya memang menekuni kerajinan wayang turun-temurun. Awalnya, ia hanya membuat wayang untuk pementasan. Baru sejak 1984 ia membuat wayang kulit dalam berbagai bentuk suvenir. Selain itu, Sujiyono juga tetap menerima pesanan pembuatan tokoh pewayangan untuk sanggar seni atau padepokan wayang kulit. Sujiyono mengaku penjualan suvenir wayang buatannya cukup bagus. "Kalau pas lagi musimnya turis, penjualan bisa sampai 90% dari stok barang," katanya. Menurutnya, biasanya turis ramai mengunjungi Yogyakarta pada bulan November sampai Februari dan Mei sampai September. Di masa-masa itu Sujiyono bisa memperoleh pendapatan Rp 100 juta - Rp 150 juta per bulan Namun, di luar musim turis, barang yang terjual hanya sekitar 50% dari stok. Pendapatannya pun cuma sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta sebulan. Pemilik CV Agung Karya Sentosa ini mengambil margin sekitar 10%-15%. Saat ini Sujiyono mempekerjakan 24 karyawan untuk membantu usahanya. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan puluhan ribu kerajinan wayang dalam berbagai bentuk. Mulai dari wayang standar, kap lampu, tempat lilin, hingga kaligrafi. Produksinya yang paling banyak adalah pembatas buku, yang bisa mencapai 10.000 potong tiap bulannya. Harga produk bikinan Sujiyono bervariasi. Harga wayang berbentuk kap lampu, misalnya, Rp 25.000 - Rp 45.000. Harga gantungan kunci Rp 2.500-Rp 30.000 per unit. Sujiyono juga membuat tempat lilin, yang dia jual seharga Rp 9.000-Rp 25.000 per unit. Sementara untuk wayang asli, harga jualnya mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 1,25 juta per unit. Spektrum harga wayang kulit memang cukup lebar, tergantung jenis kulit, ukuran, kehalusan pahatan dan mengerjaan, serta pewarnaannya. Harga wayang yang dibuat dari kulit perkamen lebih murah. Perkamen adalah kulit kualitas terendah, yang biasanya sisa dari pabrik pengolahan kulit. Membuat wayang tidaklah mudah. "Dibutuhkan sekitar tiga sampai empat tahun baru seorang perajin bisa terampil membuat wayang kulit," ujar Sujiyono. Untuk membuat desain wayang, perajin harus mahir menggunakan pahat ukir khusus wayang. Pengukiran juga harus dilakukan dengan hati-hati, agar bentuk wayang tidak menyalahi pakemnya. Untuk membuat wayang, Sujiyono menggunakan bahan kulit kerbau, sapi, dan kambing. Dia membeli bahan baku kulit mentah dari Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara Timur seharga Rp 30.000 - Rp 55.000 per kilogram. Biasanya, satu lembar kulit kerbau berbobot 10 kg bisa dibuat wayang hingga 22 unit. Sujiyono menjual produknya lewat gerai miliknya di pasar seni di Yogyakarta. Selain itu, pria berusia 50 tahun ini juga mendistribusikan produk kerajinannya ke berbagai toko kerajinan dan bandara yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta, Bali dan Surabaya. Ia juga mengekspor produknya ke Timur Tengah, Jepang, Australia, Singapura hingga Belanda. Selain itu, Sujiyono juga rajin ikut pameran.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News