Mengukur Dampak Hilirisasi bagi Kemandirian Nasional di Tiga Sektor Strategis



KONTAN.CO.ID - Peringatan kemerdekaan ke-81, Indonesia masih berjuang menjadi bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya secara mandiri. Kedaulatan pertahanan, ekonomi, serta ketahanan pangan dan energi adalah fondasi daya tahan bangsa di tengah dinamika global. Sektor pertambangan melalui hilirisasi dapat memperkokoh fondasi tersebut.

Berdasarkan kontribusinya, sektor pertambangan cukup dominan menyumbang produk domestik bruto (PDB) Indonesia, sebesar 8,75% pada 2025. Industri ekstraktif terus meningkatkan perannya, khususnya dalam melanjutkan penciptaan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.

Sebagai holding industri pertambangan nasional, MIND ID terus menjalankan peran strategis dalam menghubungkan manfaat ekonomi dari penciptaan nilai tambah sumber daya alam mineral dan batu bara Indonesia.


Sepanjang tahun buku 2025, MIND ID mencatatkan kontribusi kepada negara sebesar Rp92,56 triliun yang berasal dari pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan dividen seluruh anggota Grup. Secara kolektif, ANTAM, Bukit Asam, Freeport Indonesia, INALUM, TIMAH, dan Vale Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp311,54 triliun dengan total laba bersih mencapai Rp68,78 triliun.

Manfaat ekonomi yang dihasilkan dari sektor pertambangan kini juga mulai menjangkau sektor-sektor yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di antaranya, hilirisasi produk turunan batu bara berkalori rendah berhasil dikembangkan menjadi pembenah tanah yang sangat dibutuhkan petani.

Hal ini sesuai dengan kebutuhan pupuk nasional mencapai 22—26 juta ton per tahun. Di sisi lain, saat ini kapasitas produksi pupuk dalam negeri baru mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Adanya kesenjangan tersebut menyebabkan Indonesia masih harus mengimpor pupuk.

Hal ini mendorong inisiasi pengembangan kalium humat dari PT Bukit Asam Tbk (kode emiten PTBA) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Inovasi ini hasil hilirisasi batu bara muda (low-rank coal) yang kemudian diolah menjadi asam humat (humic acid) dan pembenah tanah (soil conditioner). Hasil uji coba menunjukkan penggunaannya dapat meningkatkan hasil panen hingga 30% dan menghemat pupuk hingga 50%.

Perkuat ketahanan energi nasional

Kontan - MIND ID Jekonomi Hilirisasi 2026
© Foto oleh MIND ID
Di bidang energi pun, sektor pertambangan terus menjalankan peran strategisnya. Sektor pertambangan melalui komoditas batu bara masih berperan penting dalam menjaga ketersediaan pasokan energi nasional. Di sisi lain, sektor ini juga menjadi fondasi bagi pembangunan pasokan energi masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Bukit Asam membangun fasilitas pengangkutan batu bara pada jalur Tanjung Enim-Kramasan dengan kapasitas hingga 20 juta ton per tahun. Infrastruktur ini akan memperkuat distribusi dan mendukung produksi perusahaan yang saat ini mencapai sekitar 47,2 juta ton, sekaligus mengamankan sistem energi nasional dengan target produksi mencapai 100 juta ton per tahun.

Untuk meningkatkan produksinya, Bukit Asam juga berencana menambang kembali batu bara di Sawahlunto Sumatra Barat yang memiliki cadangan sekitar 102 juta ton cadangan berkalori tinggi, berkisar 6.000 hingga 7.000 kkal/kg, dan dapat menjadi sumber energi yang berkualitas bagi Indonesia.

Pada saat yang sama, sektor pertambangan juga menjadi fondasi bagi transisi energi nasional. Melalui kolaborasi ANTAM, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan berbagai mitra strategis internasional, Indonesia tengah membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari Halmahera Timur hingga Karawang.

Proyek tersebut mengintegrasikan berbagai komoditas strategis seperti nikel, tembaga, aluminium, timah, hingga karbon ke dalam satu ekosistem industri. Di sisi hilir, Indonesia akan memiliki fasilitas manufaktur sel baterai berkapasitas hingga 15 GWh per tahun yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 ribu kendaraan listrik setiap tahun.

Ekosistem industri baterai ini sejalan dengan program Motor Listrik Nasional (Molinas) diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini.

Molinas dikembangkan untuk memperkuat menghubungkan berbagai elemen, mulai dari sumber daya, baterai, teknologi, komponen, manufaktur, pembiayaan, infrastruktur, hingga pengguna.

Ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional yang akan semakin terintegrasi dengan hilirisasi sumber daya mineral dan batu bara nasional.

Untuk menjamin pasokan dalam ekosistem bahan baku baterai, Vale Indonesia juga mengembangkan tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako yang akan menambah kapasitas produksi hingga 240 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP).

Fondasi penting alutsista nasional

Dalam penguatan bidang alutsista (alat utama sistem senjata) dan perbekalan militer, keterkaitan rantai pasok industri hulu – hilir menjadi krusial. Terlebih, tembaga, nikel, aluminium, timah, hingga logam tanah jarang merupakan material pendukung produksi alutsista seperti pesawat, kapal, kendaraan militer, pesawat tanpa awak, hingga amunisi dan suku cadang peralatan militer. 

Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah melalui hilirisasi terarah dapat menjadi fondasi penting bagi penguatan alutsista nasional.

“Hilirisasi nikel, tembaga, dan aluminium menjadi kunci. Dari sini lahir material penting untuk kapal, pesawat, amunisi, sensor, radar, kabel, hingga baterai dan kendaraan listrik militer,” jelas Fahmi.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan bahwa Indonesia harus naik kelas dalam rantai nilai global dan tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. "Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju," ujarnya dalam acara Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing pada Juli 2026.

Pandangan serupa disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Menurutnya, industrialisasi dan hilirisasi merupakan syarat mutlak agar negara berkembang dapat bertransformasi menjadi negara maju. "Dalam teori ekonomi tidak ada sebuah negara pun yang memiliki sumber daya alam yang banyak dari negara berkembang menjadi negara maju tanpa ada industrialisasi dan hilirisasi. Gak ada itu," tegasnya dalam kuliah umum di Jakarta pada Februari 2026.

Melalui hilirisasi, inovasi, dan integrasi industri, pertambangan terus membuktikan dirinya sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh, mandiri, dan berdaulat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News