Mengukur Efek Pelemahan Rupiah Terhadap Harga Mobil



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Data Google Finance menunjukkan kurs rupiah pertama kali menyentuh 16.000 per USD pada Kamis (11/4/2024). Adapun per hari ini, Selasa (16/4/2024), nilai tukar rupiah mencapai angka 16.206.

Pelemahan rupiah ini membuat khawatir banyak pihak, terutama yang bertransaksi atau industri sensitif dengan dolar AS. Tak terkecuali industri otomotif.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, tak menampik bahwa pelemahan rupiah akan berdampak ke penjualan mobil. Terkait seberapa besar dampaknya, ia menyebut hal itu tergantung seberapa banyak komponen mobil yang masih diimpor dengan mata uang asing.


Baca Juga: Rupiah Bisa ke Level Rp 17.000 per Dolar AS Jika Konflik Israel-Iran Berlanjut

"Kalau banyak (komponen mobil yang diimpor), maka akan berpengaruh terhadap nilai tukar. Sedangkan kalau sedikit, maka akan lebih tahan," jelasnya kepada Kontan.id, Selasa (16/4).

Pengamat Otomotif, Bebin Djuana, pun sepakat dengan pernyataan tersebut. Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat besar pengaruhnya pada harga mobil. Sebab proses produksinya tidak hanya melibatkan industri inti, tetapi juga ratusan industri pendukung.

Meski begitu, Bebin menjelaskan bahwa kenaikan harga mobil tidak spontan terjadi seiring pelemahan mata uang. Sebab, mobil yang diproduksi sekarang umumnya menggunakan komponen sudah dipesan 3-5 bulan yang lalu, sebelum nilai tukar rupiah melemah.

Baca Juga: Dollar AS Makin Bertaji, Kurs USD/IDR Ditutup di Level 16.175

"Biasanya penyesuaian harga berlangsung bertahap agar tidak terlalu mengganggu permintaan pasar," ujarnya.

Selain melemahnya kurs rupiah, Beben menyebut ada faktor lain yang juga berpotensi membuat harga mobil naik. Di antaranya ialah supply, demand, dan kompetisi antar merek.

"Hukum pasar, supply, demand, kompetisi menjadi faktor penentu harga mobil. Karena masing-masing merek berusaha mempertahankan market share," tutupnya.

 
 
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .