JAKARTA. Beberapa emiten rokok akan menggelar aksi korporasi dalam waktu dekat. Terbaru, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) berencana melakukan penawaran umum terbatas (PUT III) maksimal 36,84 miliar unit saham dengan nominal Rp 50 per saham. RMBA akan menggunakan dana
rights issue untuk mengurangi utang kepada Rothmans Far East BV dan belanja lain. RMBA akan meningkatkan modal dasar dari Rp 1,07 triliun yang terbagi atas 21,54 miliar saham menjadi Rp 5,5 triliun dan terbagi atas 110 miliar saham. RMBA belum menyampaikan berapa harga
rights issue. Namun, dari harga saham rata-rata di kisaran Rp 467 per saham, nilai
rights issue itu bisa mencapai Rp 17 triliun.
Jika disetujui otoritas, ini bakal menjadi aksi korporasi terbesar kedua dalam dua tahun belakangan, setelah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), yang akhir tahun lalu meraup Rp 20,76 triliun dari aksi
rights issue. Setelah
rights issue, HMSP akan memecah nominal sahamnya atau
stock split dengan rasio 1:25. Tahun lalu, HMSP melepas saham dengan proses
rights issue dalam rangka menambah jumlah saham di publik untuk memenuhi ketentuan pencatatan saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham perseroan juga kini belum memenuhi ketentuan free float BEI minimal 7,5%. Jika
rights issue ini diserap publik, tentu saham RMBA akan lebih banyak beredar di pasar. Namun, aksi korporasi jumbo ini belum tentu mengerek prospek RMBA menjadi salah satu saham rokok yang layak diperhitungkan, seperti HMSP ataupun PT Gudang Garam Tbk (GGRM). David Sutyanto, Analis First Asia Capital, mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi menarik atau tidaknya suatu
rights issue. Salah satunya adalah harga rights dan penggunaan dana. Emiten ini akan menggunakan dana untuk membayar utang. Aksi korporasi ini justru dinilai bakal mendapat tanggapan negatif dari investor. RMBA harus memberi diskon untuk harga rights issue agar bisa diserap pasar. Namun, diskon
rights menimbulkan dampak penurunan harga saham di pasar reguler. Jika
rights issue ini diserap pembeli siaga, dampaknya ke pemegang saham malah semakin negatif karena efek dilusi. Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, jumlah rights issue besar bisa menjadi sinyal, korporasi sedang ada masalah, apalagi kalau dilakukan untuk membayar utang.
"Kalau besar sekali, ada indikasi akan ada investor baru yang masuk atau backdoor listing," terangnya. Nilai
rights issue RMBA terlihat lebih besar dari nilai kapitalisasi pasarnya yang hanya Rp 3,2 triliun. "Dulu, RMBA sempat menjadi saham yang likuid. Meski rights issue-nya terserap publik, belum tentu bisa menjadi penggerak indeks," ujar Hans. Maklum, produk rokok masih didominasi oleh Grup Djarum, HMSP dan GGRM. Hans masih
wait and see emiten-emiten rokok. David hanya merekomendasikan buy untuk HMSP dan GGRM, dengan target masing-masing Rp 70.000 dan Rp 110.000. Dia merekomendasikan
sell RMBA karena harga sahamnya bisa mengarah ke Rp 400. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News