KONTAN.CO.ID - Industri kecantikan Indonesia terus membesar. Menurut Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, seperti dilaporkan Kompas pada November 2024, pendapatan industri kecantikan mencapai 8,09 miliar dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan menjadi 9,17 miliar dolar AS pada 2024; data Kemenperin untuk tahun yang sama menyebut 89 persen dari sekitar 1.200 pelaku industri kosmetik adalah industri kecil dan menengah. Di sisi hilir, kajian Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR pada awal 2025, mengutip Kompas, memperkirakan lebih dari 100 ribu salon beroperasi di seluruh Indonesia. Namun di balik pertumbuhan itu, banyak pemilik salon dan barbershop masih menilai kesehatan usahanya dari satu angka saja: omzet harian. Omzet mudah dilihat dan terasa meyakinkan, terutama saat kursi penuh sepanjang akhir pekan. Persoalannya, omzet tidak bercerita tentang laba. Struktur biaya salon berbeda dari ritel: sebagian pendapatan mengalir kembali ke tim dalam bentuk komisi, lalu masih ada biaya bahan yang terpakai per layanan, sewa, gaji pokok, dan operasional harian. Dua salon dengan omzet identik bisa pulang membawa laba yang jauh berbeda — dan tanpa data yang menyatu, perbedaan itu tidak akan pernah terlihat. Kabar baiknya, sebagian besar data untuk menjawab "dari mana laba sebenarnya datang" kini sudah berbentuk digital: transaksi tercatat lewat pembayaran nontunai, jadwal tersimpan di ponsel, skema komisi sudah disepakati. Yang kurang hanyalah penyatuannya, dan di sinilah perangkat lunak khusus salon seperti Kasera masuk: jadwal, transaksi, dan komisi berada dalam satu sistem, sehingga laporan tidak perlu lagi dirakit dari beberapa catatan di akhir bulan. Pertanyaannya kemudian: angka apa saja yang sebaiknya diperhatikan?
Mengukur Laba Salon: Angka yang Tidak Terlihat di Omzet Harian
KONTAN.CO.ID - Industri kecantikan Indonesia terus membesar. Menurut Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, seperti dilaporkan Kompas pada November 2024, pendapatan industri kecantikan mencapai 8,09 miliar dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan menjadi 9,17 miliar dolar AS pada 2024; data Kemenperin untuk tahun yang sama menyebut 89 persen dari sekitar 1.200 pelaku industri kosmetik adalah industri kecil dan menengah. Di sisi hilir, kajian Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR pada awal 2025, mengutip Kompas, memperkirakan lebih dari 100 ribu salon beroperasi di seluruh Indonesia. Namun di balik pertumbuhan itu, banyak pemilik salon dan barbershop masih menilai kesehatan usahanya dari satu angka saja: omzet harian. Omzet mudah dilihat dan terasa meyakinkan, terutama saat kursi penuh sepanjang akhir pekan. Persoalannya, omzet tidak bercerita tentang laba. Struktur biaya salon berbeda dari ritel: sebagian pendapatan mengalir kembali ke tim dalam bentuk komisi, lalu masih ada biaya bahan yang terpakai per layanan, sewa, gaji pokok, dan operasional harian. Dua salon dengan omzet identik bisa pulang membawa laba yang jauh berbeda — dan tanpa data yang menyatu, perbedaan itu tidak akan pernah terlihat. Kabar baiknya, sebagian besar data untuk menjawab "dari mana laba sebenarnya datang" kini sudah berbentuk digital: transaksi tercatat lewat pembayaran nontunai, jadwal tersimpan di ponsel, skema komisi sudah disepakati. Yang kurang hanyalah penyatuannya, dan di sinilah perangkat lunak khusus salon seperti Kasera masuk: jadwal, transaksi, dan komisi berada dalam satu sistem, sehingga laporan tidak perlu lagi dirakit dari beberapa catatan di akhir bulan. Pertanyaannya kemudian: angka apa saja yang sebaiknya diperhatikan?