KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Batu bara metalurgi memiliki peran strategis dalam mendukung produksi besi dan baja, dengan prospek yang menjanjikan seiring kebutuhan baja global dan keterbatasan pasokan di sejumlah negara produsen utama. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global batu bara metalurgi berkat potensi sumber daya dan cadangan batu bara metalurgi yang signifikan. Batu bara metalurgi menjadi salah satu bahan baku penting dalam produksi besi dan baja. Berbeda dengan batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik, batu bara metalurgi diolah menjadi kokas (
coke) yang berperan penting dalam proses pembuatan besi melalui tanur tinggi (
blast furnace).
Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Indonesia
Mining Institute (IMI), Irwandy, menjelaskan bahwa batu bara metalurgi dapat digunakan sebagai pengganti batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Pasalnya, batu bara termal tidak memiliki sifat
coking yang dibutuhkan untuk menghasilkan kokas. Secara teknis, batu bara metalurgi dapat digunakan di PLTU melalui pencampuran untuk memenuhi kebutuhan kalori. Namun, penggunaannya jarang dilakukan karena harganya lebih mahal.
Baca Juga: Perhapi Usul Kuota Produksi Batubara 700 Juta Ton untuk RKAB 2027 “Sebaliknya, batu bara termal tidak bisa dipakai untuk produksi baja karena tidak punya sifat
coking untuk menjadi kokas, dan kadar abu serta sulfurnya lebih tinggi. Jadi, hubungannya satu arah,” jelas Irwandy, Kamis (15/10/2026). Prospek batu bara metalurgi pun berkaitan erat dengan pertumbuhan industri baja global. Data
World Steel Association (WSA) menunjukkan, produksi baja mentah dunia mencapai sekitar 1,85 miliar ton pada 2025, dengan sektor konstruksi menyumbang sekitar 52% dari penggunaan baja global. Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hendra Sinadia, menilai prospek batu bara metalurgi masih positif, didukung permintaan industri baja global dan keterbatasan pasokan di sejumlah negara produsen utama.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan batu bara metalurgi stabil pada 2026 dan sedikit meningkat pada 2027. “Meski permintaan dari industri baja China turun karena tekanan industri propertinya, namun permintaan dari negara lain di Asia di saat yang sama masih meningkat, terutama dari India,” ucap Hendra. Sementara itu, WSA memproyeksikan permintaan baja global naik dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026. Permintaan tersebut diperkirakan kembali meningkat 1,7% menjadi 1,752 miliar ton pada 2027.
Borneo Prima Jaring Peluang
Indonesia berpeluang memperbesar perannya dalam rantai pasok batu bara metalurgi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2025, Indonesia memiliki sumber daya batu bara metalurgi sekitar 2,12 miliar ton dan cadangan sekitar 490 juta ton. Salah satu wilayah potensialnya berada di Kalimantan Tengah. PT Borneo Prima (BP) menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan batu bara metalurgi di wilayah tersebut. Perusahaan mengoperasikan tambang di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan luas konsesi sekitar 15.000 hektare.
Chief Financial Officer Borneo Prima Ilham Nugraha mengatakan, sumber daya dan cadangan perusahaan menjadi modal untuk mendukung keberlanjutan operasi jangka panjang.
Baca Juga: Harga Batubara Lebih Murah dari LNG, Ekspor Indonesia Berpotensi Naik di Akhir 2026 Berdasarkan hasil pelaporan Joint Ore Reserves Committee (JORC) 2026, Borneo Prima memiliki cadangan 87,7 juta ton dan sumber daya sekitar 202 juta ton. “Borneo Prima memiliki sumber daya (
resource) dan cadangan yang cukup untuk mendukung produksi hingga beberapa puluh tahun ke depan,” ujar Ilham. Dari sisi kualitas, batu bara metalurgi Borneo Prima memiliki kadar abu 4%–8% dan kandungan fosfor kurang dari 0,005%. Karakteristik ini mendukung penggunaannya dalam
coal blending atau pencampuran beberapa jenis batu bara untuk memenuhi spesifikasi teknis dan ekonomis produsen baja. Untuk menjaga konsistensi kualitas produk, perusahaan mengoperasikan fasilitas pencucian batu bara (
coal washing plant) berkapasitas 1,5 juta ton. Fasilitas tersebut juga direncanakan menerapkan pemulihan air hingga 99% tanpa pembuangan air limbah proses (
zero effluent discharge), serta memanfaatkan tenaga surya hibrida untuk mendukung operasional. Dalam mengembangkan bisnisnya, Borneo Prima mendapat dukungan IMR Group, perusahaan global yang bergerak di bidang perdagangan komoditas dan rantai pasok lintas negara, termasuk untuk industri besi dan baja.
Baca Juga: Aspebindo Dorong Pemenuhan DMO Batubara untuk Industri Semen Director Marketing & Commercial Borneo Prima Animesh Misra mengatakan, dukungan IMR Group mencakup permodalan, keahlian teknis, serta akses ke pasar dan pelanggan. Menurut Animesh, IMR Group memiliki lebih dari 22.000 karyawan dan volume perdagangan lebih dari 30 juta ton per tahun. Grup tersebut juga menyewa lebih dari 500 kapal setiap tahun untuk mendukung aktivitas bisnisnya di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Portofolio bisnis IMR Group mencakup batu bara metalurgi, bijih besi, batu kapur (
limestone), logam, hingga produksi baja nirkarat.
Animesh menilai, jaringan global tersebut dapat membantu Borneo Prima memahami dinamika pasar dan memperluas hubungan dengan pelanggan di sepanjang rantai nilai industri baja. Selain dukungan jaringan internasional, kedekatan geografis Indonesia dengan pasar baja utama di Asia, termasuk Tiongkok dan India, menjadi peluang bagi produsen batu bara metalurgi nasional untuk memperluas pasar. Ke depan, Borneo Prima berfokus meningkatkan produksi secara bertahap, mengoptimalkan infrastruktur, memperbaiki efisiensi operasional, dan memperluas basis pelanggan. Perusahaan juga menempatkan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnisnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News