KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang Ramadan hingga Idulfitri, petani sayuran di berbagai sentra produksi bersiap menjaga pasokan pangan segar. Namun, di tengah lonjakan kebutuhan konsumsi, mereka menghadapi curah hujan tinggi yang memicu penyakit tanaman serta gejolak harga pasar. Pakar pertanian IPB University, IPB University Bayu Krisnamurti menyebut peran petani sangat sentral dalam sistem pangan. Tapi, sistem pangan Indonesia kini menghadapi tekanan struktural yang kian berat. Tantangan datang dari hulu hingga hilir, mengancam stabilitas pasokan dan harga pangan. Di sisi hulu, krisis iklim membuat pola musim makin sulit diprediksi. Banjir, kekeringan, dan serangan hama meningkat, sehingga produktivitas pertanian tertekan. Pada saat yang sama, degradasi tanah dan alih fungsi lahan mempersempit kapasitas produksi.
Di sisi hilir, persoalan infrastruktur belum teratasi. Ketersediaan cold chain, alat angkut, dan gudang penyimpanan masih terbatas. Akibatnya, kehilangan hasil tinggi dan distribusi antardaerah tidak efisien, memicu disparitas harga.
Baca Juga: Harga Jagung Naik, Petani Nikmati Panen Raya Terbaik “Tantangan ini tak bisa diselesaikan di tingkat petani saja, melainkan membutuhkan pendekatan sistemik berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi,” ” kata Bayu dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026). Ia bilang, inovasi berbasis riset, terutama di sektor perbenihan dan penanganan pascapanen—menjadi kunci keberlanjutan. Benih yang tahan kekeringan, tahan genangan, dan berproduktivitas tinggi akan sangat menentukan masa depan usaha tani di tengah ketidakpastian iklim. Sekretaris Perusahaan PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza, menegaskan industri perbenihan tak hanya memasok benih, tetapi juga memperkuat kapasitas petani lewat pendampingan. “Kami memastikan petani mendapat akses benih sayuran yang adaptif dan produktif, sekaligus edukasi aplikatif agar hasil tanam optimal,” ujar Faisal dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026) Menurut Faisal, benih yang tepat membantu petani merencanakan pola tanam dan panen secara lebih terukur, termasuk menghadapi lonjakan permintaan saat Ramadan dan Idulfitri. Namun, penguatan sistem pangan tak bisa dilakukan parsial. Dia menambahkan, ketahanan pangan bukan sekadar soal produksi, melainkan kolaborasi seluruh rantai, dari riset, industri, hingga petani, agar pasokan tetap tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Harga Cabai Naik pada Awal Ramadan, Pelaku Usaha Prediksi Harga Turun Setelah Lebaran Sejak awal Januari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengingatkan potensi kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk cabai rawit, yang berisiko memicu inflasi menjelang Ramadan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, meminta pemerintah daerah mengantisipasi hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi belum lama ini. Sementara itu, Didin Silahudin, petani asal Cianjur, Jawa Barat, mengatakan persiapan panen jelang Ramadan sudah menjadi pola rutin. Permintaan komoditas seperti cabai, terong, dan timun cenderung meningkat saat puasa dan Lebaran. “Sejak jauh hari kami atur pola tanam agar panen jatuh di bulan puasa, karena biasanya permintaan lebih tinggi,” ujarnya.
Yustam, petani dari Pati, Jawa Tengah, menyampaikan hal serupa. Meski pola permintaan relatif dapat diprediksi, curah hujan ekstrem memicu serangan penyakit tanaman dan membatasi jam kerja di lahan. Ia berharap pemerintah menjaga stabilitas harga serta menjamin ketersediaan sarana produksi, seperti pupuk, benih, dan alat mesin pertanian, agar produksi lebih efektif dan efisien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News