
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tamsil lawas itu tampaknya pas untuk menggambarkan kesuksesan Freddy Sinatra dalam menjalankan roda usaha. Pemilik PT Susan Photo Album ini berhasil mengembangkan bisnis album foto. Bahkan, setelah berduet dengan sang anak, Lio Adrian, bisnisnya menggelembung semakin besar. Sukses Freddy tentu tak datang seketika. Dia memulai usahanya saat masih belia. Bermula pada 1964, ketika Freddy masih berusia 17 tahun. Pria kelahiran Wlingi, Jawa Timur, 63 tahun lalu ini mencoba meniru jejak sang ayah yang menggeluti bisnis album foto. Ia lalu berkisah, sejak kecil, kedua orangtuanya sudah membuka usaha pembuatan album foto kecil-kecilan di Semarang, Jawa Tengah. Sayang, dewi fortuna hanya sebentar memeluk kebahagiaan keluarga Freddy. Sebab, kedua orangtuanya wafat kala ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. “Setelah orangtua wafat, saya harus mencari uang sendiri,†kenang Freddy. Pengalaman sang ayah membuat album foto menjadi bekal Freddy dalam mengadu nasib. Bermodal uang pinjaman dari pamannya, Freddy mencoba melanjutkan usaha yang dirintis sang ayah. Ia memulainya dengan membuat 20 eksemplar album. “Desainnya simpel. Album buatan tangan itu juga terbuat dari karton,†kata dia. Toh, Freddy tetap percaya diri. Satu per satu langganan kedua orangtuanya ditawari album hasil karyanya. Gayung bersambut. “Ternyata banyak yang bilang, ‘Kok, apik, yo. Dulu papamu juga bikin seperti ini’,†kenang Freddy. Tak ayal, album foto made in Freddy pun laris manis. Merasa sudah banyak pelanggan, Freddy merekrut satu karyawan. Lantas, pada 1966, Freddy memberanikan diri untuk memperluas pasar. Ibukota RI, Jakarta, menjadi sasarannya. “Waktu itu saya naik bus. Sampai di Jakarta saya jalan kaki dari toko ke toko untuk menawarkan album,†tambah dia. Apesnya, tak satu pun gerai yang tertarik membeli atau dititipi album fotonya. Freddy lalu pulang kampung. Tapi, pengalaman itu tidak membuatnya surut langkah. Memasuki pasar ekspor Dan, memang benar. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, produk Freddy kian laris. Bahkan pada 1976, ia sudah bisa mengekspor album fotonya. Menurut Freddy, keberhasilannya menjaring pasar karena album foto hasil karyanya berbeda dengan album yang beredar di pasaran. Lukisan dan desain menjadi ciri khas album foto buatannya. “Model desain ini masih dipertahankan hingga sekarang,†kata Freddy. Desain nan khas itulah yang membuat bisnis album foto Freddy melambung tinggi. Bahkan, ia sudah tak mampu lagi mengerjakannya dalam skala industri rumahan. Pada 1987, Freddy mendirikan pabrik seluas 8.000 m², juga di Semarang. Sejak saat itulah Freddy mulai memproduksi album foto secara manufaktur. Melihat usahanya terus membesar, pada 2002, Freddy mulai melibatkan anak-anaknya untuk mengelola usaha. Seorang putranya, Lio Adrian, malah kepincut berat pada bisnis ini. Lio pun tak menyia-nyiakan kepercayaan sang ayah. Pria kelahiran Semarang pada 1978 ini mewarisi kemampuan sang ayah dalam merajut bisnis. Terbukti, di bawah komandonya, usaha Susan Photo kian berkembang dan memiliki empat jenis produk: Susan Album, Susan Pro, Evita, dan E-Pro. Menurut Lio, Susan Album adalah album foto standar. Produk ini dibanderol Rp 15.000 hingga Rp 300.000 per eksemplar. Adapun Susan Pro merupakan produk album untuk pasar kelas premium. Jika memilih produk ini, pelanggan bisa menentukan sendiri desain album sesuai keinginan. Wajar jika produk Susan Pro dibanderol lumayan mahal. “Kami pernah mengerjakan album yang harganya Rp 13 juta,†kata Lio. Lio bilang, kendati harganya berbeda, Susan Album dan ?Susan Pro membidik pasar menengah atas. Maklum, bahan baku kedua produk itu diimpor langsung dari luar negeri. Antara lain, Singapura, China, Korea, Hongkong, dan Spanyol. “Bahan bakunya ada yang terbuat dari kulit, vinil, kain, akrilik, dan kertas impor,†kata Lio. Toh, konsumen dengan dana pas-pasan masih bisa memilih Evita dan E-Pro. Harga kedua produk ini lebih murah 20%-30% dari harga Susan Album dan Susan Pro. Bahan baku dua produk itu memang dari pasar lokal. Strategi Lio memilah segmen pasar ternyata berhasil memperluas pasar. Kini, pelanggan Susan Photo tak hanya individu, namun mulai menyentuh korporat, mulai dari perbankan, agen travel, telekomunikasi, sampai manufaktur. Pasar ekspornya juga sudah merambah ke berbagai benua. Kini, setiap tahun Susan Photo bisa memproduksi album jutaan eksemplar. Dengan 350 karyawan, pada 2008, Susan Photo berhasil menjepret omzet sekitar Rp 26,3 miliar. Lio menargetkan, omzet tahun ini bisa tumbuh 20%.
Mengambil Nama Susan Karena Simpel dan Mudah Diingat Sejak berdiri pada 1964, Freddy Sinatra telah menyematkan nama PT Susan Photo Album sebagai nama usahanya. Bahkan, ketika perusahaan berekspansi, nama ini tetap menjadi ikon bisnis keluarga Freddy. Uniknya, dalam keluarga Freddy tak satu pun yang bernama “Susanâ€. “Nama itu diambil hanya karena simpel dan mudah diingat saja,†cerita Lio, yang kini didapuk menjadi Direktur Kreatif Susan Photo. Ternyata, nama Susan yang sederhana inilah yang kini membawa hoki bagi perusahaan. Ini terbukti dari pertumbuhan perusahaan yang bertambah pesat dari tahun ke tahun. Untuk menambah pundi pendapatan tahun ini, Lio sudah menyiapkan strategi pemasaran yang lebih ciamik. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak kantor cabang di luar negeri untuk memperluas distribusi produk. Selain itu, Lio juga mendiversifikasi produk. Bila saat ini banyak kalangan hanya memajang foto di album, Lio berani menciptakan tren memasang foto di kalender, cenderamata perusahaan, atau agenda. Pria yang hobi fotografi ini sadar, tren kirim-mengirim file foto lewat internet memang menjadi tantangan bagi industri album foto. Pun begitu, ia optimistis bisnis ini masih punya masa depan. “Bisnis ini masih akan menarik hingga 10 tahun ke depan,†ujar Lio.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News