KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menyusun portofolio di tengah kondisi pasar yang tak menentu menjadi salah satu strategi investasi Miming Satyono. Dunia investasi memang sejak awal tak jauh dari kehidupan Miming. Founder PT Samuel Tumbuh Bersama itu memulai karier profesionalnya di Citibank di Jakarta pada tahun 1981. Dia bekerja di sana selama 11 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Vice President Head of Investment Banking.
Selama bekerja di Citibank, Miming mendapatkan pengalaman dalam berbagai bidang, mulai dari corporate banking, instrumen pendapatan tetap (fixed income), valuta asing (FX), hingga pasar modal. “Pengalaman di Citibank memberikan landasan yang kuat bagi saya, terutama dalam hal analisis risiko dan imbal hasil (risk/reward), analisis korporasi, manajemen risiko, pengembangan produk, serta pemahaman mendalam mengenai kebutuhan perusahaan maupun investor,” ujar Miming kepada Kontan.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Melemah Setelah Bos The Fed Menegaskan Akan Fokus ke Inflasi Ketertarikan Miming pada dunia investasi diakui juga tidak muncul dalam satu momen penemuan seketika. Dia mengaku minat itu tumbuh secara alami seiring bertahun-tahun pengalamannya berkecimpung di dunia perbankan. Peraih gelar MBA dari Golden Gate University itu mempelajari bagaimana modal bergerak dan menyaksikan bagaimana modal dapat membantu perusahaan berkembang.
Bukan Sekadar Membeli Aset
Miming pun memahami bahwa investasi bukan sekadar membeli aset atau menghasilkan imbal hasil, melainkan tentang memahami bisnis, menilai risiko, serta mengalokasikan modal agar dapat menciptakan nilai. Proses di dunia investasi tersebut pun berhasil memikatnya. Sebab, dalam proses berinvestasi, investor harus memahami perusahaan, sektor industri, kualitas manajemen, serta berbagai risiko yang mungkin tidak terlihat pada awalnya. Proses inilah yang kini menjadi landasan utama filosofi investasi Samuel Group. Pada tahun 1992, Miming melihat adanya potensi pertumbuhan yang signifikan di pasar modal Indonesia. “Berangkat dari keyakinan tersebut, saya pun bersama rekan-rekan mendirikan Samuel Sekuritas Indonesia,” kata Miming. Selama berpuluh-puluh tahun berkecimpung dalam dunia investasi, Miming telah menempatkan modal pada hampir semua instrumen yang tersedia, mulai dari deposito, saham, komoditas, hingga real estat. Hal itu cukup menggambarkan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa jika ingin mempertahankan kekayaan, Anda perlu melakukan diversifikasi. “Namun, jika ingin mengembangkan kekayaan, Anda perlu melakukan konsentrasi investasi,” ujar Miming.
Baca Juga: Harga Emas Antam Longsor Rp 48.000, Sabtu (29/8), Cek Harga Selengkapnya Di usia muda, tujuan Miming berinvestasi adalah pertumbuhan aset. Jika menimbang aspek risiko serta imbal hasilnya, saham merupakan instrumen yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, sejak awal berkiprah sebagai investor, perempuan yang sempat mengikuti program Owner/President Management di Harvard Business School tersebut sudah memiliki minat yang besar terhadap saham. Miming berkisah, kali pertama dia berinvestasi adalah pada saat berusia 27 tahun. Kala itu, dia membeli saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan modal Rp 600 juta yang didapat dari pinjaman Citibank dengan meminjam rumah iparnya untuk dijaminkan. Seiring dengan semakin matang perjalanan investasinya, pemahaman dan apresiasi Miming terhadap saham pun kian mendalam. Lebih dari sekadar sarana untuk membangun kekayaan dan melindungi nilai aset dari inflasi, dia menyadari bahwa investasi saham memiliki efek pengganda (multiplier effect) bagi masyarakat. “Investor, perusahaan, dan masyarakat luas dapat tumbuh dan berkembang bersama-sama,” katanya. Sejalan, Miming mengaku bahwa tujuan investasi Samuel Group pun turut berkembang seiring waktu. Awalnya, tujuan investasi Group adalah untuk menjaga dan mengembangkan modal. “Namun, seiring berjalannya waktu, investasi menjadi sarana saya untuk membantu perusahaan tumbuh, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat luas yang kami layani,” kata Miming. Dalam hal perencanaan keuangan, Miming menilai tidak ada satu jenis portofolio yang cocok untuk semua orang. Sebab, tujuan keuangan, tahapan hidup, dan profil risiko setiap individu perlu dipahami secara spesifik sesuai kondisi masing-masing.
Baca Juga: Wadirut GOTO Catherine Hindra Sutjahyo Mundur, Ada Apa? Portofolio Investasi
Sepanjang perjalanan investasinya, Miming mengandalkan saham, obligasi, dan kas sebagai instrumen utama. Serta melakukan penyeimbangan ulang (rebalancing) secara berkala seiring dengan perubahan situasi pribadi maupun kondisi pasar. Saham senantiasa menjadi penggerak utama saya dalam membangun kekayaan. Selain memberikan imbal hasil bagi investor, saham juga menciptakan dampak positif bagi perusahaan maupun masyarakat luas. “Meski demikian, nasihat terpenting yang dapat saya berikan terkait investasi saham adalah berinvestasilah dengan cakrawala waktu jangka panjang, karena langkah inilah yang dapat meminimalkan risiko investasi tersebut,” ungkapnya. Selain itu, berinvestasi juga bukanlah perjalanan yang sederhana, terutama jika menyangkut saham. Bahkan dengan model keuangan yang paling efektif sekalipun, pasar tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya. Saat kondisi pasar sedang bagus, Miming mengaku pernah mencetak imbal hasil lebih dari 100% dalam waktu singkat. Namun saat pasar sedang lesu, beberapa investasinya justru merugi. Itulah sebabnya investasi jangka panjang sangatlah penting, sebab langkah ini dapat meminimalkan risiko yang melekat pada posisi atau siklus pasar tertentu.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 482 Miliar pada Jumat (28/8), Cek Saham yang Banyak Dijual Miming mengenang, dia sendiri juga pernah melakukan kesalahan dalam berinvestasi. Salah satu contohnya adalah investasinya melalui Group pada sebuah pembangkit listrik tenaga air yang pada akhirnya harus dilepas dengan kerugian (cut loss). Menurutnya, dia bersama Group salah memilih sektor dan keliru menilai tim manajemen di baliknya. Namun, kesalahan adalah hal yang tak terelakkan dalam investasi. “Yang terpenting adalah mempertajam filosofi investasi Anda setiap kali mengalami kerugian dan memastikan bahwa Anda belajar darinya,” kata Miming. Dengan pengalaman pribadinya, Miming menilai alokasi sebesar 40% untuk saham menjadi langkah terbaik bagi investor di tengah volatilitas pasar. Kemudian, sebesar 30% pada instrumen pendapatan tetap (fixed income), deposito sebesar 20%, serta alokasi masing-masing sebesar 5% pada emas dan aset kripto. Meskipun bukan gambaran aset eksisting lantaran alokasi yang dinamis saat ini, tetapi Miming sempat menerapkannya di kondisi pasar volatil sejak awal tahun 2026. “Rekomendasi alokasi aset saya dimaksudkan sebagai kerangka kerja umum bagi investor dengan toleransi risiko tinggi,” tuturnya. Ke depannya, keyakinan utama Miming pun tetap tidak berubah lantaran aset saham terus menawarkan proposisi risiko-imbal hasil paling efisien yang tersedia bagi investor Indonesia.
Tujuan Investasi
Meski demikian, Miming tetap terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Seiring dengan semakin matangnya pasar modal Indonesia, baik melalui pengembangan pasar obligasi korporasi yang lebih luas, instrumen derivatif yang lebih canggih, maupun kelas aset baru yang terkait dengan sektor seperti energi terbarukan dan infrastruktur digital. Miming pun tertarik untuk menjajaki instrumen-instrumen tersebut begitu kondisinya menjadi lebih mapan dan likuid. “Ketertarikan saya bukan sekadar pada kebaruan instrumen itu sendiri, melainkan pada kemampuannya untuk benar-benar meningkatkan imbal hasil portofolio yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return) setelah mencapai skala dan tingkat kematangan yang memadai,” imbuhnya.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Tipis ke 6.518, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing di Akhir Pekan Miming bilang, investor pemula sebaiknya tidak memulai dengan pertanyaan, "Instrumen mana yang menghasilkan imbal hasil paling cepat?" Sebab, pertanyaan yang lebih tepat adalah, "Apa tujuan investasi saya, berapa jangka waktunya, dan seberapa besar risiko yang sanggup saya tanggung?" “Mulailah dengan instrumen yang Anda kenal dan pahami. Pelajari dari mana asal potensi imbal hasilnya, apa saja risikonya, seberapa tinggi likuiditasnya, serta dalam kondisi apa nilainya bisa turun,” saran Miming. Selain itu, jangan gunakan dana yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari atau keadaan darurat. Hindari penggunaan utang atau *leverage* sebelum investor benar-benar memahami risikonya. Diversifikasi memang penting, namun jangan membeli terlalu banyak instrumen hanya karena takut ketinggalan tren (fear of missing out). “Disiplin dalam satu hal juga lebih baik dibandingkan menuruti godaan untuk mengejar setiap instrumen baru yang bermunculan,” ungkapnya. Untuk memilih saham atau investasi bisnis, Miming biasanya mencermati beberapa hal, yaitu kesehatan keuangan, prospek industri, kemampuan menghasilkan arus kas, keunggulan kompetitif, valuasi, kualitas serta integritas manajemen, dan risiko yang dapat mengubah tesis investasi tersebut.
Menurutnya, pola pikir yang paling utama adalah kesabaran, kedisiplinan, dan kerendahan hati. Pasar akan selalu menghadirkan masa-masa di mana kita tampak benar dan masa-masa di mana kita tampak salah. “Investor yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan seseorang yang mampu mengelola risiko, terus belajar, dan menghindari pengambilan keputusan yang hanya didasarkan pada emosi,” katanya.
Baca Juga: Menilik Prospek dan Rekomendasi Saham Berbasis Hijau dan ESG Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News