Menhan AS Hegseth Serang Media, Samakan Jurnalis Anti-Trump dengan Musuh Yesus



KONTAN.CO.ID - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth memicu kontroversi setelah melontarkan kritik keras terhadap media, dengan membandingkan jurnalis yang dinilainya anti-Donald Trump dengan kelompok yang memusuhi Yesus dalam ajaran Kristen.

Dalam konferensi pers di Pentagon, Kamis (16/4/2026), Hegseth mengutip kisah Alkitab tentang kaum Farisi yang disebutnya berupaya menjatuhkan Yesus.

Baca Juga: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Berlaku, Trump: AS-Iran Bertemu Akhir Pekan Ini


Ia menilai sikap tersebut mirip dengan cara sebagian media memberitakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, khususnya terkait perang Iran.

“Saya duduk di gereja dan berpikir, pers kita seperti kaum Farisi,” ujar Hegseth di hadapan para wartawan dilansir Reuters.

Ia menegaskan, kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh media, melainkan kepada apa yang ia sebut sebagai “media arus utama yang membenci Trump”.

Menurutnya, media cenderung mencari-cari kesalahan dalam setiap kebijakan pemerintah dan hanya menyoroti sisi negatif.

“Mereka mengamati setiap tindakan baik untuk menemukan pelanggaran,” tambahnya.

Baca Juga: Pemasok Cokelat Kit Kat Memprediksi Laba Tahun Ini Terpangkas 15%

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi antara pemerintahan Trump dan pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo, yang dikenal sebagai salah satu pengkritik perang tersebut.

Konflik memanas setelah Trump mengunggah gambar di media sosial yang menampilkan dirinya dalam visualisasi religius bersama Yesus.

Dalam beberapa hari terakhir, Hegseth dan Trump memang kerap menggunakan narasi keagamaan dalam membahas konflik Iran.

Keduanya bahkan menyebut operasi penyelamatan pilot AS di Iran yang terjadi pada Minggu Paskah sebagai “keajaiban”.

Kontroversi lain muncul ketika Hegseth memimpin doa di Pentagon yang terinspirasi dari film Pulp Fiction.

Baca Juga: Harga Emas Stabil Kamis (16/4), Pasar Cermati Negosiasi Damai AS-Iran

Doa tersebut mengutip versi populer dari ayat Yehezkiel 25:17 yang dikenal luas melalui film tersebut, meski bukan kutipan literal dari Alkitab.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, kemudian mengklarifikasi bahwa Hegseth memahami perbedaan tersebut dan menyebut kritik atas hal itu sebagai “tidak berdasar”.

Penggunaan bahasa religius secara eksplisit oleh pemerintahan Trump dinilai sejumlah pengamat sebagai pendekatan yang tidak lazim dalam konteks kebijakan militer modern. John Fea, profesor sejarah di Messiah University, menyebut pendekatan ini berbeda dibandingkan pemerintahan sebelumnya, meski agama kerap menjadi bagian dari retorika saat perang.

Tak lama setelah pernyataan Hegseth, Paus Leo kembali menyindir penggunaan agama untuk kepentingan politik dan militer.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Kamis (16/4), Dibayangi Skeptisisme Negosiasi AS-Iran

Dalam unggahannya di platform X, ia menulis, “Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan untuk kepentingan militer, ekonomi, dan politik.”

Di sisi lain, Hegseth juga dikenal sebagai kritikus vokal media. Ia bahkan tengah menghadapi sengketa hukum terkait kebijakan akreditasi media di Pentagon, yang sebelumnya dinyatakan melanggar konstitusi oleh pengadilan federal.

Pemerintah AS saat ini tengah mengajukan banding atas putusan tersebut.