Menhub imbau manajemen dan SP JICT berunding



JAKARTA. Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi meminta agar pihak Jakarta International Container Terminal (JICT) mengutamakan pelayanan jasa kepelabuhanan di tengah aksi mogok Serikat Pekerja (SP) JICT, Jumat lalu (4/8).

Menhub juga mengimbau agar SP JICT dan manajemen JICT duduk bersama sekaligus berunding, mencari jalan keluar dari permasalahan yang terjadi antara kedua belah pihak.

Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan (OP) Kelas Utama Tanjung Priok, I Nyoman Gede Saputra memastikan arus ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Priok berjalan lancar dan normal.


Nyoman menyatakan, bongkar muat kapal yang semestinya ditangani oleh PT Jakarta International Container Terminal (JICT) sudah dialihkan ke empat terminal di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok.

"Kami memastikan untuk hari kedua (4/8) aksi mogok kerja Serikat Pekerja JICT tidak mengganggu pelayanan jasa kepelabuhanan di Pelabuhan Tanjung Priok. Seperti yang terjadi saat ini, arus barang dan kapal tetap lancar," tutur Nyoman dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/8).

Lebih lanjut Nyoman menyebutkan, dalam masa aksi mogok kerja SP JICT, Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, New Port Container Terminal 1 (NPCT-1), Terminal MAL dan Terminal Peti Kemas Koja akan membantu pelayanan jasa kepelabuhanan.

Sebanyak 20 kapal yang semestinya ditangani JICT hingga Kamis depan (10/8) sudah dialihkan bongkar muatnya ke terminal lain di Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu di Terminal Koja sebanyak 7 kapal, Terminal NPCT-1 sebanyak 6 kapal, Terminal 3 sebanyak 5 kapal, dan Terminal MAL sebanyak 2 kapal.

Kemarin (4/8), New Priok Container Terminal (NPCT) - 1 melayani 2 kapal yaitu MV. Hommonia Berolina berkapasitas 800 kontainer dan MV. Northern Democrat berkapasitas 800 kontainer, sedangkan Terminal 3 melayani 1 kapal, yaitu MV. MSC. Giana berkapasitas 400 kontainer.

Dan TPK Koja melayani 2 kapal, yaitu MV. Deva 216QAN berkapasitas 1.000 kontainer dan MV. Cosco Aden 032N berkapasitas 2.000 kontainer. Adapun kapal-kapal tersebut merupakan limpahan dari JICT disamping melayani jasa kepelabuhanan rutin masing-masing.

Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto mengatakan, adanya aksi mogok kerja karyawan JICT tentu akan berdampak kepada mata rantai logistik nasional.

"Kami khawatir kegiatan bongkar muat bakal terganggu, sehingga terjadi keterlambatan arus barang," ungkap Carmelita dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/8).

Hal yang sama juga diutarakan oleh Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi. Yukki mengapreasiasi solusi dari Kementerian Perhubungan dengan mengalihkan bongkar muat di JICT ke terminal internasional lainnya.

"Sejauh ini, kami lihat semua bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok berjalan normal. Sempat ada rasa khawatir saat aksi mogok kerja JICT. Tapi ternyata pelayanan jasa kepelabuhanan JICT dialihkan ke keempat terminal tersebut dan berjalan normal," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini