Menhut: Ada Kemarau Dini, Karhutla Berpotensi Meningkat di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berpotensi meningkat di tahun 2026. 

Raja Juli bilang, hal itu terjadi lantaran adanya potensi perubahan iklim ekstrem yakni kekeringan lebih awal dan lebih panjang di tahun ini. 

"Dan oleh karena itu, kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibanding tahun lalu, tahun 2025 dan tahun 2026 ini akan lebih mengancam kita secara bersama," kata Menhut dalam konferensi pers di Kantornya, Senin (6/4/2026). 


Kemenhut juga mengklaim telah melakukan identifikasi awal selama Januari-April dan terbukti kemarau dini sudah terjadi di kawasan hutan di Riau dan Kalimantan Barat. 

Baca Juga: Rupiah Nyaris ke Rp 17.100 Per Dolar AS, BI Intervensi Pasar Valas

Untuk itu, Menhut juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak bermain api di kawasan rawan khususnya di hutan. 

Selain itu, Raja Juli juga mengingatkan kepada masyarakat maupun perusahaan agar tidak melakukan land clearing atau pembukaan lahan baru di musim kemarau ekstrem. 

"Masyarakat harus lebih mawas diri harus lebih hati-hati dalam proses land clearing dan perusahaan terutama juga yang nanti akan berakibat langsung terhadap tingginya," ungkapnya. 

Untuk mengantisipasi peningkatan Karhutla, Kemenhut juga memperkuat koordinasi dengan dengan lintas sektor. Menurutnya pemerintah juga telah menyiapkan petugas siap siaga di Riau untuk terus memantau lahan-lahan di hutan. 

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca yang tidak hanya dilakukan pada saat kebakaran hutan tetapi juga sebagai langkah preventif dalam mencegah karhutla. 

"Kita melakukan pembahasan terhadap lahan gambut yang tingkat tinggi muka airnya sudah berkurang," jelas Menhut. 

Sementara itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa kemarau akan masuk lebih dini pada mulai April hingga Mei dan akan mengalami masa puncak di bulan Agustus. Menurutnya, kemarau pada tahun ini juga lebih panjang yang akan berakhir pada bulan Oktober. 

Selain itu, Teuku bilan bahwa intensitas hujan di tahun ini akan lebih rendah jika dibandingkan rata-rata pada 30 tahun terakhir. BMKG juga memproyeksi adanya El Nino di tahun ini dengan tingkat moderate atau lemah. 

Baca Juga: Pemerintah Ambil Alih Cicilan Koperasi Desa, Percepatan atau Risiko Baru?

"BMKG terus memantau tidak hanya dari segi musim tapi juga perkiraan se[kena dan 10 hari yang akan terjadi hingga nanti operasi modifikasi cuaca bisa dijalankan berbasis data," lanjut Faisal. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News