Menhut Klaim Luas Karhutla Terus Turun, dari 2,6 Juta Ha Jadi 1,1 Juta Ha



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengklaim luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Raja Juli menyebut, luas karhutla yang pada 2015 mencapai sekitar 2,6 juta hektare, turun menjadi 2,1 juta hektare pada 2019. Penurunan kembali terjadi pada 2023 menjadi sekitar 1,1 juta hektare. “Kalau kita berhasil menekan karhutla, kalau tadi saya katakan, sebagai bangsa kita patut gembira, dari tahun 2015 itu 2,6 juta, kemudian empat tahun kemudian menjadi 2,1 juta. Empat tahun kemudian 2023 menjadi 1,1 juta,” ujar Raja Juli di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga: Karhutla Meluas di Sejumlah Daerah, BNPB: Waspadai Potensi Bencana Saat Musim Kemarau Menurut Raja Juli, tren penurunan tersebut menunjukkan upaya pemerintah dalam menekan karhutla mulai membuahkan hasil. Ia menambahkan, luas karhutla pada tahun lalu juga kembali menurun, dari sekitar 375.000 hektare menjadi sekitar 350.000 hektare. Meski demikian, Raja Juli menekankan bahwa upaya pengendalian karhutla tetap membutuhkan koordinasi yang lebih erat antarpemangku kepentingan. Terlebih, pemerintah kini menghadapi ancaman El Nino yang diperkirakan datang lebih cepat dari siklus sebelumnya. “Jadi sebenarnya kita bisa menekan itu, cuma ini butuh koordinasi yang lebih rekat lagi, lebih ketat lagi, karena memang ini El Nino-nya, climate change is real. Jadi kita perlu bersama-sama mengantisipasi,” katanya. Raja Juli menuturkan, berdasarkan siklus sebelumnya, fenomena El Nino terjadi setiap sekitar empat tahun, yakni pada 2015, 2019, dan 2023. Dengan pola tersebut, El Nino berikutnya diperkirakan terjadi pada 2027.

Baca Juga: Ada El-Nino, Kemenhut Catat Kasus Karhutla Capai 81.000 Hektare Sepanjang Tahun 2026 Namun, berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Nino diperkirakan datang lebih cepat sehingga ancaman kekeringan perlu diantisipasi sejak tahun ini. “Jadi kekeringannya datang lebih cepat ya, dan berakhirnya lebih lambat. Nah, itu tentu harus ada antisipasi,” ucapnya. Adapun untuk wilayah yang selama ini menjadi titik rawan karhutla, Raja Juli menyebut sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan. Wilayah tersebut antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Namun, ia mengungkapkan adanya tren baru berupa peningkatan kejadian karhutla di luar enam provinsi tersebut. Beberapa wilayah yang turut mengalami karhutla antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Tapi ini ada tren baru ya di luar enam provinsi itu juga terjadi cukup masif, semacam di NTT, kemudian di NTB, di beberapa tempat lah. Jadi nanti kita akan bahas lebih detail,” pungkas Raja Juli. Lebih lanjut, Raja Juli menegaskan bahwa antisipasi karhutla menjadi penting lantaran dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi. “Karhutla dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada masyarakat. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan, pendidikan, hingga pusat-pusat perekonomian”, tegasnya.


Baca Juga: Menhut: Ada Kemarau Dini, Karhutla Berpotensi Meningkat di Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: