Menilik Kinerja Bank Muamalat di Tengah Rencana Akuisisi oleh BTN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengakuisisi PT Bank Muamalat Indonesia Tbk belum menemui titik terang. Hasil due diligence yang dijadwalkan pada April ini juga masih dinantikan.

Sembari menunggu hasil proses due diligence tersebut, kinerja keuangan Bank Muamalat memang tampak naik turun dalam lima tahun terakhir. Terlebih, pada pos laba bersih yang berhasil dibukukan oleh bank syariah tertua tanah air ini.

Pada laporan keuangan terbarunya di 2023, Bank Muamalat mencatatkan laba bersih senilai Rp 13,29 miliar. Capaian tersebut turun signifikan dari tahun 2022 yang mencapai 50% dari sebelumnya Rp 26,58 miliar.


Adapun, catatan laba bersih Bank Muamalat di 2022 memang menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara, laba bank tersebut di 2023 justru turun di bawah laba bersih setahun sebelum pandemi Covid-19 yaitu di 2019 yang mencapai Rp 16,32 miliar.

Baca Juga: Terus Turun, Jumlah BPR Tercatat Sebanyak 1.402 hingga Desember 2023

Selain itu, net interest margin (NIM) yang dicatatkan Bank Muamalat pada 2023 menjadi yang paling rendah dalam periode lima tahun terakhir di level 0.37%. Kondisi NIM tertinggi justru terjadi ketika tahun pertama pandemi Covid-19 di 2020 yang mencapai 1,94% dan trennya terus menurun.

Di sisi lain, ada tren perbaikan non perfoming financing (NPF) yang dimiliki oleh Bank Muamalat di periode tersebut. NPF Net Bank Muamalat di 2023 berada di level 0,66%, padahal di tahun 2019 sempat menyentuh level 4.30%.

Sementara itu, Bank Muamalat juga telah mempertebal rasio permodalan yang dimiliki dalam lima tahun terakhir. Itu tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) di 2019 sekitar 12,42% menjadi 29,4% di 2023, namun turun dari posisi 2022 yang menyentuh 32.7%.

Dari sisi efisiensi, bank syariah yang dikelola oleh BPKH ini tampak semakin tidak efisien sepanjang periode 2019-2023. Mengingat, rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) di 2023 menjadi yang paling tinggi di level 99,62%. Padahal, di 2022 sempat turun signifikan menjadi 96.41%.

Baca Juga: Bank Digital Genjot Pertumbuhan Fee Based Income di Dua Bulan Pertama 2024

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae bilang saat ini tahapan-tahapan dalam rencana aksi akuisisi tersebut masih berlangsung. Menurutnya, memerlukan perencanaan dan diskusi yang mendalam di antara kedua belah pihak, sehingga diperlukan waktu yang cukup dalam setiap tahapannya. 

“Pada waktunya OJK akan memproses perizinannya setelah diajukan kepada OJK,” ujar Dian.

Selanjutnya: Virgo sedang Gelisah! Ramalan Zodiak Leo, Virgo, dan Cancer 15-21 April 2024

Menarik Dibaca: Cara Menonaktifkan Fitur Nearby Share di Android untuk Berbagi Dokumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi