Menilik Kinerja Perusahaan Multifinance Tanah Air pada Kuartal I 2023



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan multifinance di Tanah Air tampak berlomba-lomba mencatatkan kinerja positif sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I 2023. Tidak hanya itu, perusahaan juga merancang sejumlah strategi demi meningkatkan kinerja di tahun ini.

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) misalnya, berhasil membukukan laba bersih Rp 62,65 miliar di kuartal I-2023, naik 155,81% secara year on year (YoY). Sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya laba bersih WOMF tercatat Rp 24,49 miliar.

Peningkatan laba tersebut disokong oleh nilai pendapatan sebesar Rp 468,85 miliar pada kuartal I-2023. Realisasi ini naik 10,25% YoY dibandingkan kuartal I-2022 yang sebesar Rp 425,24 miliar.


Baca Juga: Laba Bersih WOM Finance Melesat 155,81% di Kuartal I-2023

Pendapatan perusahaan pembiayaan ini ditopang oleh meningkatnya pembiayaan konsumen, modal usaha, dan sewa pembiayaan neto yang berkontribusi sebesar Rp 399,44 miliar, naik 15,26% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 346,55%.

Meski demikian, beban WOM Finance tampak naik tipis 0,01%, dari kuartal I-2022 sebesar Rp 388,28 miliar menjadi Rp 388,31 pada kuartal I-2023.

Beban terbesar WOM Finance datang dari beban umum dan administrasi sebesar Rp 147,85 miliar, naik 6,03% dibanding kuartal I-2022 yang sebesar Rp 139,43 miliar.

Lebih lanjut, WOMF mencatat total aset perseroan juga tumbuh sebesar 4,24% YoY sebesar Rp 5,65 triliun di kuartal I-2022 menjadi Rp 5,89 di kuartal I-2023.

“Perusahaan memproyeksikan laba bersih sebesar Rp 231 miliar pada akhir tahun 2023, atau tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Direktur Keuangan WOM Finance, Cincin Lisa kepada Kontan.co.id, Selasa (2/5).

Lisa mengungkapkan, pihaknya telah menyusun strategi untuk meningkatkan kinerja hingga akhir tahun nanti. Di antaranya, pertama pengembangan potensi bisnis, baik wilayah pembiayaan maupun kanal distribusi untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis.

“Optimalisasi database atas existing customer Perusahaan dengan kategori excellent - good. Digitalisasi proses bisnis untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas Perusahaan. Perbaikan secara berkesinambungan terhadap proses inisiasi kredit dengan terus melakukan evaluasi kebijakan dan prosedur kredit,” ungkapnya.

Strategi selanjutnya, kata Lisa, optimalisasi strategi penagihan yang mengutamakan penanganan early overdue. Program pelatihan dan pengembangan yang intensif dan berkelanjutan melalui program-program pelatihan dan pembelajaran berbasis digital terkait dengan business process knowledge, skill (soft skill & technical skill), leadership, dan internalisasi nilai-nilai Perusahaan dengan fokus pada peningkatan produktivitas.

PT Clipan Finance Indonesia Tbk (Clipan Finance) juga membukukan kinerja ciamik di kuartal I 2023, tecatat laba perseroan melesat hingga 6.508% yoy menjadi Rp 105,08 miliar.

Perusahaan dengan kode saham CFIN ini mencatat, meningkatnya laba tersebut ditopang oleh pendapatan yang naik hingga 18,43% yoy menjadi Rp 426,88 miliar di kuartal I 2023 ini. Selain itu, beban perusahaan juga menyusut 18,66% menjadi Rp 292,13 miliar.

Direktur Utama Clipan Finance, Harjanto Tjitohardjojo menyatakan bahwa pihaknya menargetkan peningkatan kinerja di tahun 2023. Di mana laba sepanjang tahun ini ditargetkan meningkat senilai Rp 339 miliar. Artinya laba ditargetkan naik sekitar 9,35% yoy dibandingkan laba bersih tahun lalu sebesar Rp 310 miliar. Selain itu, pembiayaan baru juga di target mencapai Rp 9 triliun.

Harjanto menyebutkan beberapa strategi yang telah disiapkan pihaknya untuk mencapai target tersebut, antara lain tetap melakukan penetrasi pasar pada dealer atau showroom mitra agar lebih optimal.

Baca Juga: Perluas Bisnis, WOM Finance Salurkan Pembiayaan Motor Listrik

“Pertumbuhan pembiayaan corporate/fleet cust melalui kerja sama dengan induk perusahaan yaitu Bank Panin. Menggarap nasabah ritel Bank Panin melalui produk KPM Panin, pengembangan channel distribusi serta konsisten kerja sama dengan digital platform otomotif,” tandasnya.

Tak ketinggalan, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) juga turut menyampaikan kinerja positifnya di mana laba tercatat meningkat 28,5% YoY menjadi Rp 508,8 miliar di kuartal I tahun ini.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan senilai Rp 1,6 triliun atau tumbuh 39% yoy di kuartal I 2023. realisasi pembiayaan baru di periode tersebut juga naik 53,9% YoY menjadi Rp 6,3 triliun.

Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono mengatakan, sebagian besar portofolio pembiayaan berdasarkan jenis asetnya masih berasal dari pembiayaan kendaraan roda empat, yakni dengan porsi 67,5%.

“Nilai piutang yang dikelola atau managed receivables sebesar Rp 15,2 triliun dari total Rp 22,5 triliun,” kata dia dalam keterangan resminya.

Komposisi piutang yang dikelola terbesar lainnya, pembiayaan alat berat dan mesin sekitar 12,8%, pembiayaan roda dua sekitar 12,5% dan sisanya merupakan pembiayaan properti, pembiayaan berbasis syariah, serta pembiayaan dari anak usaha yang berkontribusi sebesar 7,2% terhadap piutang yang dikelola perusahaan.

Perseroan dengan kode saham BFIN ini juga mencatat, biaya operasional perusahaan mencapai Rp 1 triliun, itu berarti ada kenaikan sekitar 46,8% jika dibandingkan dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, per 31 Maret 2023, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) dari BFI Finance masih di bawah posisi 1%, yakni level bruto 1,06% dan neto 0,43% dengan cakupan penyisihan 3,8 kali.

Asetnya pun mengalami peningkatan sebesar 46,5% secara YoY menjadi Rp 24 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun, total aset naik 9,3%.

Adapun strategi BFIN di tahun ini antara lain, pertama perluasan jaringan berbasis digital, kedua pengembangan produk keuangan baru serta optimalisasi produk yang sudah berjalan saat ini sehingga mampu mendukung target pertumbuhan bisnis perusahaan.

Baca Juga: Multifinance Masih Andalkan Pendanaan dari Perbankan

“BFIN akan fokus pada penyediaan solusi keuangan yang bersifat customer centric dengan menyesuaikan kebutuhan masing masing segment pasar yang dilayani lewat dukungan teknologi informasi," imbuh Sudjono.

Ketiga, dalam hal digitalisasi. BFIN akan melakukan pengembangan kapasitas teknologi informasi berbasis terbuka (microservices/API enabler). BFIN juga akan terus mengembangkan teknologi terkini guna mendukung pengembangan bisnis perusahaan berbasis teknologi secara end to end mulai dari sisi originasi transaksi baru hingga pelayanan konsumen.

"Bekerjasama dan kolaborasi dengan pihak ketiga untuk mempercepat proses transformasi bisnis," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .