Menilik Kondisi Bisnis Gedung Perkantoran Usai Pandemi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis gedung perkantoran tampak masih menantang di tengah adanya ketidakpastian ekonomi pasca pandemi Covid-19. Belum lagi, saat ini masih terjadi kelebihan pasokan gedung perkantoran, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Dalam riset tanggal 5 April 2023, Colliers International Indonesia menyampaikan bahwa ketidakpastian ekonomi global berdampak pada iklim bisnis di dalam negeri. Hal ini membuat pemerintah dan pelaku usaha swasta lebih berhati-hati dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, sehingga ujung-ujungnya berpengaruh pada permintaan ruang kantor.

Per kuartal I-2023, Colliers mencatat, tingkat rata-rata okupansi perkantoran di kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) area Jakarta turun 3% menjadi 72% dibandingkan kuartal IV-2022. Di sisi lain, tingkat rata-rata okupansi kantor di luar CBD stagnan di level 72% pada kuartal pertama tahun ini.


Tingkat ruang kosong diperkirakan Colliers akan naik sekitar 3—3,5 basis poin pada 2023 seiring bertambahnya pasokan ruang kantor. Kondisi ini dapat berakibat pada berlanjutnya tekanan pada tingkat rata-rata okupansi gedung perkantoran pada sisa 2023.

Baca Juga: Colliers Menilai Properti TOD Akan Lebih Menarik

“Pasokan ruang kantor melimpah yang akan tersedia berpotensi menekan tingkat okupansi hingga 70% sampai akhir 2023, baik di dalam maupun di luar kawasan CBD,” tulis Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam riset tersebut.

Colliers pun menyebut, pasokan ruang kantor di CBD Jakarta akan mencapai 7,4 juta meter persegi pada akhir 2023. Sedangkan pasokan ruang kantor di luar CBD Jakarta akan menyentuh 4 juta meter persegi pada akhir tahun nanti.

Sementara itu, PT Intiland Development Tbk (DILD) mengaku, permintaan sewa gedung perkantoran milik DILD di Jakarta sudah mulai membaik sejalan dengan banyaknya masyarakat yang kembali work from office (WFO) usai berakhirnya pandemi Covid-19. Di sisi lain, permintaan sewa belum terlihat signifikan di gedung perkantoran DILD yang ada di Surabaya.

“Tingkat okupansi perkantoran kami di Jakarta saat ini ada di kisaran 80%, sedangkan di Surabaya masih sekitar 60%,” kata Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development Archied Noto Pradono, Kamis (25/5).

Lantaran belum semua gedung perkantoran menunjukkan tren permintaan sewa yang stabil, pihak DILD belum melakukan penyesuaian harga sewa pada aset gedung perkantorannya.

Archied juga bilang, saat ini DILD belum memiliki rencana ekspansi pengembangan gedung perkantoran baru dan memilih fokus meningkatkan okupansi aset yang ada.

Sebagai informasi, DILD memiliki gedung perkantoran di Jakarta, misalnya Intiland Tower dan South Quarter Office. Di Surabaya, DILD juga memiliki gedung perkantoran seperti Intiland Tower Surabaya, Spazio Tower, dan Sub Co.

Per kuartal I-2023, pendapatan usaha DILD dari segmen perkantoran turun 6,96% year on year menjadi Rp 27,68 miliar.

Baca Juga: Bisnis TOD Menjanjikan, BSDE: Properti TOD Menarik Pembeli karena Efisiensi Waktu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat