Menilik Prospek Kinerja Emiten dengan Obligasi Jatuh Tempo pada Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki surat utang yang jatuh tempo pada akhir 2026. Memasuki era suku bunga tinggi, hal ini tentu menjadi tantangan bagi para emiten tersebut.

Misalnya, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) punya Obligasi Berkelanjutan IV Merdeka Copper Gold Tahap IV Tahun 2023 Seri B dengan nilai Rp 1,29 triliun yang jatuh tempo pada 15 Desember 2026.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) punya Obligasi Berkelanjutan IV Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2021 Seri B senilai Rp 58,19 miliar yang jatuh tempo pada 23 November 2026.


Baca Juga: RKAB Belum Tuntas, Begini Prospek Emiten Jasa Pertambangan

PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) punya Obligasi Berkelanjutan III Provident Investasi Bersama Tahap I Tahun 2025 Seri A senilai Rp 100 miliar yang jatuh tempo pada 26 Desember 2026.

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) memiliki Obligasi Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahap I Tahun 2021 Seri C senilai Rp 450 miliar yang jatuh tempo pada 30 September 2026, serta Obligasi Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahap II Tahun 2021 Seri C senilai Rp 338,35 miliar yang jatuh tempo 8 Desember 2026.

Selain itu, ada juga PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Lautan Luas Tbk (LTLS), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang punya surat utang jatuh tempo di empat bulan terakhir tahun 2026 ini.

Sebagai informasi, suku bunga The Fed baru saja naik 25 basis poin (bps) ke 3,75% - 4%. Hal ini membuat sejumlah pihak memproyeksikan suku bunga Bank Indonesia (BI) juga akan ikut naik.

Di tengah era suku bunga tinggi, para emiten dinilai perlu memerhatikan pengelolaan likuiditas untuk memastikan pendanaan refinancing tak mengganggu arus kas ke depan.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi melihat, kinerja INKP dan MEDC masih relatif aman lantaran arus kas kuat berbasis dolar Amerika Serikat (AS) dan rekam jejak refinancing panjang. Selain itu, kinerja AGII dan LTLS juga cenderung aman lantaran bisnis stabil dan terbiasa refinancing lewat obligasi berkelanjutan. 

Risiko menengah dihadapi MDKA dan PALM. Untuk MDKA, alasannya ada pada akses pendanaan besar di tengah leverage grup yang masih tebal. Sedangkan untuk PALM, risiko ada pada rugi nilai wajar yang besar per semester I 2026 dan juga kemampuan bayar emiten yang bergantung likuiditas portofolio. 

Sementara, emiten dengan risiko tinggi adalah ADCP dan WSKT. Sepanjang tahun 2026, ADCP sudah tiga kali digugat PKPU. Sementara, saham WSKT masih disuspensi sejak 2023 karena gagal bayar kewajiban, serta pelunasan kewajiban yang bergantung restrukturisasi dan bukan arus kas. 

Tingginya suku bunga Bank Indonesia (BI) akan berdampak ke risiko refinancing para emiten, bukan pada kemampuan emiten dalam membayar pokok surat utang. 

“Emiten biasanya melunasi obligasi jatuh tempo dengan menerbitkan obligasi baru, sehingga kupon pengganti menjadi lebih mahal dan beban bunga di tahun 2027 naik,” ujarnya kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, INKP, AGII, dan LTLS relatif lebih mampu mengelola likuiditas mereka karena memiliki kas dan arus kas operasi yang cukup untuk menutup kewajiban jatuh tempo masing-masing. 

MDKA juga memiliki arus kas operasi kuat, meskipun anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) yang tinggi perlu diperhatikan. 

“Sebaliknya, ADCP dan WSKT memiliki risiko likuiditas lebih tinggi karena leverage dan beban bunga yang besar,” ujarnya kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan, risiko yang harus dilihat tak hanya dari besar pokok utang, tetapi juga kecukupan kas, operating cash flow, interest coverage, akses refinancing, serta kualitas aset yang bisa dimonetisasi. 

Baca Juga: Divergensi Bank Sentral & Geopolitik Bayangi Valas Utama, Cek Proyeksinya

Untuk ADCP misalnya, arus kas emiten hanya sekitar Rp 11,7 miliar per semester II 2026, sementara utang jangka pendek Rp37,8 miliar dan utang jangka panjang Rp1,12 triliun. 

EBITDA semester I hanya Rp17,8 miliar dan interest expense sekitar Rp52,4 miliar, sehingga coverage terhadap bunga masih sangat tipis. 

Selain itu, Pefindo telah menurunkan rating ADCP menjadi idCCC dengan CreditWatch Negative, dan obligasi ADCP III Seri A senilai Rp15,7 miliar dijadwalkan jatuh tempo 8 Desember 2026. 

“Bahkan sebelumnya ADCP telah memperoleh waiver covenant dan menunda pembayaran kupon tertentu hingga Februari 2027,” ujarnya kepada Kontan, Senin.

AGII telah menyatakan bahwa kewajiban surat utang 2026 sekitar Rp139,8 miliar akan dilunasi menggunakan likuiditas internal tanpa menerbitkan surat utang baru. Per kuartal II 2026, AGII memiliki kas Rp627,7 miliar, EBITDA Rp314,9 miliar, dan laba bersih Rp65,2 miliar, sehingga secara relatif ruang likuiditasnya jauh lebih memadai.

INKP juga memiliki kapasitas pembayaran yang relatif kuat, meskipun absolute debt yang cukup besar. Semester I-2026 INKP punya pendapatan Rp29,24 triliun, EBITDA Rp6,16 triliun dan laba bersih Rp6,40 triliun, dengan kas sekitar Rp12,98 triliun. Dengan posisi kas dan kemampuan menghasilkan EBITDA tersebut, nominal jatuh tempo tersebut secara relatif kecil. 

“Risiko utamanya justru berada pada volatilitas harga pulp dan kertas, kurs, capex, serta refinancing utang dalam denominasi valas,” katanya.

Untuk LTLS, manajemen perseroan juga telah menyampaikan bahwa pelunasan akan menggunakan kombinasi fasilitas perbankan dan hasil usaha. Per kuartal II 2026, kas sekitar Rp421 miliar, sementara utang jangka pendek Rp1,12 triliun dan utang jangka panjang Rp464 miliar.

“Net debt/EBITDA juga dilaporkan sekitar 1,42x dan net debt/equity 0,32x, sehingga leverage masih relatif terkendali,” paparnya.

Untuk MDKA dan MEDC, risiko utama berasal dari tingginya kebutuhan capex untuk proyek ongoing serta volatilitas harga komodias.

Untuk PALM, per semester I-2026 masih membukukan rugi bersih Rp881,7 miliar, dengan kas sekitar Rp213,6 miliar dan utang jangka panjang Rp3,30 triliun.

“Namun, kemampuan membayar kewajiban jangka pendek tidak otomatis mencerminkan kualitas earnings, karena kinerja PALM sangat sensitif terhadap perubahan nilai portofolio investasinya, terutama eksposur ke MDKA dan MBMA,” katanya.

Sementara itu, WSKT merupakan kasus paling berbeda. Obligasi Rp722 miliar yang secara awal jatuh tempo 24 September 2026 berada dalam konteks restrukturisasi. 

Per kuartal II 2026, WSKT memiliki kas Rp2,61 triliun, tetapi utang jangka pendek mencapai Rp10,08 triliun dan utang jangka panjang Rp43,96 triliun. Selain itu, EBITDA masih negatif Rp160,8 miliar dan interest expense mencapai Rp1,90 triliun. 

“Cash balance WSKT secara nominal tidak dapat dibaca sebagai kemampuan membayar utang, mengingat struktur kewajibannya jauh lebih besar,” paparnya.

Di akhir 2026 hingga tahun 2027, faktor utama yang perlu diperhatikan dalam melihat kinerja para emiten tersebut adalah biaya refinancing, harga komoditas, capex, dan kemampuan menjaga arus kas. 

“Secara fundamental, INKP, AGII, dan LTLS memiliki buffer yang relatif lebih baik,” kata Azis.

Wafi melihat, harga komoditas, suku bunga, dan biaya refinancing di pasar obligasi akan sangat memengaruhi kinerja para emiten hingga tahun 2027. Untuk ADCP serta WSKT,, hasil restrukturisasi BUMN Karya yang belum jelas akan menjadi sentimen pemberat. 

“Strategi para emiten di tengah kondisi ini adalah refinancing lebih awal, perpanjang tenor, terapkan kombinasi pinjaman bank dan obligasi, serta jual aset non-inti jika perlu,” paparnya.

Nafan melihat, sentimen pemberat kinerja para emiten hingga 2027 juga berasal dari fluktuasi rupiah dan potensi crowding-out terhadap arus kas apabila terlalu banyak utang jatuh tempo dalam waktu berdekatan. 

Di tengah era suku bunga tinggi, emiten perlu menerapkan manajemen liabilitas. Yaitu, mempercepat pembentukan sinking fund untuk pokok jatuh tempo, melakukan refinancing jauh sebelum maturity date, mengutamakan utang dengan tenor lebih panjang dan bunga lebih rendah, mencocokkan currency utang dengan currency revenue, menunda capex non-esensial, serta menjaga cash buffer minimal beberapa kuartal sebelum jatuh tempo. 

Untuk perusahaan komoditas seperti MDKA dan MEDC, hedging harga komoditas dan valuta juga menjadi penting agar arus kas perusahaan tidak terlalu volatil. 

“Sementara ADCP dan WSKT harus lebih agresif melakukan monetisasi aset dan aset non inti, serta memperbaiki operating cash flow,” paparnya.

Azis pun merekomendasikan trading buy untuk MDKA dengan target harga Rp 3.130 per saham. Sedangkan Nafan merekomendasikan add untuk MDKA dan MEDC dengan target harga masing-masing Rp 3.440 per saham dan Rp 1.790 per saham.

Baca Juga: Capex Tinggi Jadi Tantangan ISAT, Monetisasi Ekspansi Diproyeksi Mulai 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News