KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi rotasi sektoral emiten diproyeksi akan kembali terjadi di era suku bunga tinggi. Seperti diketahui, Federal Reserve (The Fed) telah mengerek suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 3,75% - 4% pada pertemuan September 2026. Di Indonesia pun, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah berada di level yang tinggi. Pada Agustus 2026, BI Rate berada di level 5,75%. Kenaikan Fed Rate pada September ini dinilai lebih membatasi ruang gerak lanjutan pasar saham Indonesia ketimbang memicu koreksi tajam.
Baca Juga: The Fed Naikkan Bunga, Ini Proyeksi IHSG hingga Akhir 2026 dari Analis Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,4% ke 6.462 pada perdagangan Kamis (17/6/2026) hari ini. “Kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps sudah diprediksi pasar sebelumnya,” ujar Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia menambahkan, pergerakan IHSG ke depan tidak hanya dipengaruhi oleh suku bunga, tetapi juga konflik geopolitik, pergerakan harga komoditas terutama minyak,
foreign flow, dan MSCI rebalancing. Di akhir 2026, kemungkinan
net buy asing ke pasar saham juga masih terbuka. Pendorongnya adalah apabila situasi di pasar membaik seperti rupiah stabil, harga minyak turun kembali, dan MSCI memberikan respon positif. “Jika faktor-faktor tersebut menunjukkan perbaikan, peluang
foreign inflow meningkat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). Helen memproyeksikan, IHSG ada di level 6.895 di akhir 2026. Apabila keadaan membaik, dengan
foreign flow mulai masuk, rupiah stabil, skenario berikutnya di level 7.500.
Baca Juga: Tantangan Biaya Awal Pabrik Karawang Bayangi INKP, Begini Prospek Sahamnya Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memandang, kenaikan tingkat suku bunga sudah pasti akan menurunkan daya beli dan konsumsi, investasi, serta memperlambat perekonomian. Untungnya, jarak antara Fed Rate dengan BI Rate juga masih terpaut 200 – 225 bps, sehingga masih ada nafas dari BI untuk bisa bertahan sementara waktu. “IHSG akan ada di rentang 6.400 – 7.000 pada akhir tahun 2026,” ujarnya kepada Kontan. Di era suku bunga tinggi, rotasi sektoral adalah sebuah keniscayaan. Helen bilang, sektor yang biasanya terpengaruh dan sensitif dengan kebijakan suku bunga seperti properti, perbankan, serta otomotif. Rully cenderung melihat emiten tambang bisa menjadi referensi bagi investor lantaran kinerjanya tidak akan terlalu terdampak negatif dari suku bunga dan pelemahan rupiah. Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su berpandangan, sektor yang paling terdampak negatif dari suku bunga tinggi adalah sektor dengan kebutuhan pendanaan besar dan tingkat leverage tinggi, seperti properti, konstruksi, serta beberapa sektor yang masih bergantung pada ekspansi berbasis utang. “Kenaikan biaya dana dapat menekan margin dan memperlambat ekspansi bisnis,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.
Baca Juga: Penguatan Dolar AS Berlanjut, Investor Perlu Cermati Arah Valas Asia Di sisi lain, sektor perbankan masih berpotensi mendapatkan manfaat dari kenaikan suku bunga melalui peningkatan margin bunga bersih, meskipun perlu memperhatikan risiko perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan kredit bermasalah. “Dalam kondisi ini, potensi rotasi sektor dapat terjadi menuju saham dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan tingkat utang rendah,” ungkapnya. Nico bilang, sektor perbankan, terutama dengan CASA yang tinggi, akan terdampak positif. Hal ini lantaran didorong pelebaran NIM perbankan. Selain itu, ketika tingkat suku bunga dinaikkan, yang akan bertahan tentu saja sektor konsumer yang memang sebagai salah satu sektor yang defensif. Sementara, sektor yang dirugikan tentu saja yang berhubungan dengan tingkat suku bunga, khususnya kredit dari properti atau otomotif. “Selain itu sektor infrastruktur dan konstruksi juga akan terbebani karena adanya kenaikan beban utang untuk membiayai proyek yang memiliki skala besar,” katanya. Dengan kondisi ini, emiten perlu menjaga disiplin belanja modal, memperbaiki struktur utang, meningkatkan efisiensi operasional, serta mempertahankan likuiditas untuk menghadapi periode suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Emiten juga perlu dengan giat melakukan restrukturisasi struktur utang untuk mengurangi tekanan terhadap
cash flow perusahaan.
Nico bilang, emiten wajib fokus dengan
working capital. Kemudian, aset yang terlalu besar bisa dikurangi,
credit terms pelanggan diperketat, dan
payment terms kepada supplier bisa diperpanjang. Perusahaan juga dapat memprioritaskan proyek dengan nilai ROIC tinggi untuk memastikan
return investasi cukup jauh di atas
cost of capital. “Pengurangan
capital expenditure (capex) juga bisa dilakukan, yang mana memang salah satu imbas dari era suku bunga tinggi adalah fase perlambatan ekspansi,” paparnya. Investor pun direkomendasikan untuk selektif memilih saham yang berfundamental kuat, bervaluasi dan bertata kelola baik, serta free float saham yang memadai sepanjang era suku bunga tinggi ini. Harry bilang, investor juga perlu memperhatikan risiko volatilitas pasar akibat perubahan kebijakan The Fed dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham CUAN, INDF, dan MAPA untuk Jumat (18/9) “Hati-hati terhadap saham dengan valuasi tinggi maupun perusahaan yang membutuhkan pendanaan besar karena tekanan suku bunga dapat membatasi potensi kenaikan harga saham,” ujarnya. Nico menyarankan investor untuk realokasi aset ke aset-aset yang punya potensi keuntungan lebih besar. Dengan kondisi saham-saham bank buku besar, seperti
BBRI,
BMRI,
BBCA dan
BBNI, patut dicermati investor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News