KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Realisasi anggaran belanja modal alias
capital expenditure (capex) menjadi sorotan di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia tercatat telah merealisasikan capex sesuai dengan perhitungan anggaran di tahun ini. PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, yang menganggarkan capex Rp 36 triliun di tahun 2026. Per Juni 2026, ASII telah merealisasikan capex investasi sekitar Rp 12 triliun dan di luar investasi diperkirakan berada di kisaran Rp 15 triliun–Rp 20 triliun.
Lalu, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) telah merealisasikan capex Rp546 miliar hingga semester I 2026, atau lebih dari 50% dari anggaran tahun ini sebesar Rp 1 triliun. PT Elnusa Tbk (ELSA) telah merealisasikan capex sebesar 35% dari anggaran Rp 602 miliar di tahun 2026.
Baca Juga: Wall Street Mixed Selasa (8/9), Investor Cermati Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi AS PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang hingga semester I 2026 telah merealisasikan capex sebesar 30% atau sekitar Rp1,09 triliun dari total rencana anggaran tahun ini. PT Indosat Tbk (ISAT) merealisasikan capex sebesar Rp 9,52 triliun pada semester I 2026, dari anggaran Rp 13 triliun di tahun 2026. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merealisasikan capex Rp 10,8 triliun, atau setara dengan 14,2%
capex to revenue. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan realisasi capex sebesar Rp10,27 triliun per Juni 2026. EXCL bahkan meningkatkan capex menjadi Rp 20 triliun dari sebelumnya Rp 15 triliun. Tambahan investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat infrastruktur jaringan, memperluas layanan 5G, serta mengoptimalkan pemanfaatan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Sementara, PT United Tractors Tbk (UNTR) justru menurunkan anggaran capex menjadi US$ 650 juta, dari sebelumnya US$ 880 juta. Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto melihat, pola capex emiten LQ45 tahun ini cukup beragam dan sangat bergantung pada sektornya. Alhasil, belum tepat apabila seluruh emiten dikatakan sedang masuk dalam mode ekspansi maupun agresif. “Namun, ada beberapa sektor yang memang membutuhkan capex cukup besar karena kebutuhan bisnisnya bersifat struktural. Telco menjadi salah satu contoh,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Bunga KPR Murah Mulai 2,75% Tak Dongkrak Properti, Expo Danantara Cuma Raih Rp 2 T Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani mengatakan, realisasi capex emiten LQ45 sampai semester I 2026 masih cukup
mixed. Ada yang sudah masuk mode ekspansif terutama sektor telekomunikasi, tetapi ada juga yang masih cukup selektif karena menyesuaikan kondisi bisnis dan biaya pendanaan. Untuk EXCL, ini salah satu yang cukup agresif.
Capitalized capex semester I sudah mencapai sekitar Rp10,27 triliun, kemudian
guidance 2026 justru dinaikkan dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun. Artinya sekitar separuh kebutuhan capex tahunan sudah terealisasi dan semester II masih akan cukup ekspansif, terutama untuk integrasi jaringan, 5G serta penggunaan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. “Di luar itu, ISAT juga agresif setelah menaikkan capex dari sekitar Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun untuk mempercepat investasi 5G,” ujarnya kepada Kontan, Selasa. Sementara ASII masih ekspansif tetapi lebih disiplin. Target capex 2026 sekitar Rp36 triliun, sedangkan hingga Juni realisasi capex di luar investasi berada di kisaran Rp 15 triliun-Rp 20 triliun, ditambah investasi strategis sekitar Rp12 triliun yang terutama terkait akuisisi tambang emas Arafura Surya Alam. “Jadi, alokasi modal Astra tetap besar, tetapi manajemen sekarang lebih selektif dan akan menyesuaikan investasi berikutnya dengan peluang serta
return yang ditawarkan,” katanya. Sedangkan UNTR menjadi salah satu yang paling
wait and see. Capex tahun ini sudah dipangkas sekitar 27% dari US$880 juta menjadi US$650 juta setelah penyesuaian RKAB batu bara menekan permintaan alat berat dan aktivitas pertambangan. Pendapatan UNTR pada semester I juga turun 15% menjadi Rp58,3 triliun. “Jadi, pemangkasan capex lebih merupakan langkah menjaga
cash flow dan efisiensi dibandingkan indikasi tidak adanya peluang ekspansi,” tuturnya. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, capex emiten LQ45 masih cenderung ekspansif, tetapi selektif. Realisasi sebagian emiten sudah cukup sesuai ekspektasi, terutama yang kebutuhan investasinya terkait langsung dengan pertumbuhan bisnis seperti EXCL. “Namun, sebagian lainnya masih berhati-hati karena mempertimbangkan permintaan, harga komoditas, dan kondisi pendanaan,” paparnya kepada Kontan, Selasa. Rully melihat, emiten dengan kebutuhan investasi yang sudah jelas dan proyek yang telah berjalan memiliki peluang lebih besar untuk mendekati target realisasi capex di akhir tahun 2026. Ester berpandangan, serapan capex emiten di semester II 2026 ini secara umum masih dapat meningkat, karena memang belanja modal korporasi biasanya lebih besar pada paruh kedua. Namun, belum tentu seluruh emiten akan menghabiskan anggarannya 100%. Alasannya, suku bunga Bank Indonesia (BI) yang masih tinggi, volatilitas rupiah, geopolitik, serta ketidakpastian permintaan dapat membuat sebagian proyek ditunda. “Secara makro, investasi Indonesia sendiri masih cukup kuat, dengan realisasi semester I mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5% dari target tahunan, sehingga sebenarnya
appetite investasi masih ada,” tuturnya. Sementara jika melihat prospek hingga 2027, sektor telekomunikasi dan
energy services cukup menarik. Sektor telekomunikasi sedang memasuki siklus investasi baru untuk 5G dan integrasi jaringan, sehingga di tahun 2026 memang akan menekan
free cash flow, tetapi mulai 2027 akan terasa manfaatnya seharusnya lebih terlihat dari peningkatan kapasitas, monetisasi data dan efisiensi jaringan. Selain itu, kinerja ELSA ke depan juga dilihat cukup menarik karena selain harga minyak masih tinggi, kontrak baru semester I mencapai sekitar Rp11,6 triliun dan pendapatan tumbuh sekitar 9%. “Sementara ASII masih menarik karena bisnis otomotif dan jasa keuangannya sudah tumbuh masing-masing 9% dan 6%, sehingga dapat menjadi penyeimbang ketika bisnis pertambangan dan alat berat sedang lemah,” paparnya. Arinda melihat, serapan capex emiten LQ45 disemester II berpotensi meningkat, tetapi tidak semua emiten akan mencapai 100% target. EXCL dan ELSA relatif lebih ekspansif karena kebutuhan jaringan dan infrastruktur energi, sementara ASII dan UNTR cenderung lebih selektif. “Risiko sisa anggaran terutama berasal dari ketidakpastian permintaan, harga komoditas, serta penundaan proyek,” katanya. Kinerja mereka hingga tahun 2027 dilihat cukup positif, meskipun masih sangat selektif. Sektor perbankan berpotensi unggul jika pertumbuhan kredit dan margin membaik, sementara telekomunikasi berpeluang mendapatkan manfaat dari pertumbuhan data dan efisiensi. “Sentimen pemberat kinerja mereka antara lain rupiah, ekonomi global, harga komoditas, dan kebijakan pemerintah,” paparnya. Arinda pun merekomendasikan beli untuk BMRI, BBRI, EXCL, dan ASII dengan target harga masing-masing Rp 5.200 per saham, Rp 3.600 per saham, Rp 3.200 per saham, dan Rp 6.500 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan, kenaikan capex EXCL di tahun 2026 menjadi sekitar Rp20 triliun menjadi risiko utama terhadap
free cash flow.
Free cash flow EXCL diperkirakan masih tertekan dan berpotensi negatif pada tahun 2026, sehingga ruang untuk peningkatan dividen relatif terbatas. “Fokus investor sebaiknya pada kemampuan capex 5G menghasilkan pertumbuhan ARPU dan EBITDA,” paparnya kepada Kontan, Selasa.
Pemulihan margin EBITDA EXCL juga akan berjalan lebih lambat dibandingkan IOH pascamerger. Kompleksitas integrasi jaringan,
customer clean-up, serta kebutuhan investasi 5G membuat ekspansi margin cenderung gradual. “Namun, realisasi sinergi merger tetap berpotensi mendorong perbaikan margin secara bertahap ke depan,” ujarnya. Sukarno pun merekomendasikan beli untuk EXCL dengan target harga Rp 3.280 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News