Menilik Tantangan Pengembangan Mobil Listrik di Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak serta merta membuat permintaan mobil listrik melejit. Masih ada sejumlah tantangan dalam pengembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi di Indonesia.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan, salah satu kendala utama pengembangan mobil listrik saat ini adalah biaya produksinya yang relatif masih mahal, sehingga berdampak pada tingginya harga jual mobil listrik di pasaran.

Ia menilai, saat ini mobil berbasis Battery Electric Vehicle (BEV) masih di kisaran Rp 700 juta. Di sisi lain, mobil yang paling banyak dibeli masyarakat Indonesia harganya berada di kisaran Rp 300 juta ke bawah.


Baca Juga: Kabar Gembira, Krisis Cip di Mobil Listrik Mulai Mereda

“Sebagian besar masyarakat Indonesia menilai mobil listrik itu harganya belum terjangkau,” kata dia, Senin (6/6).

Terlepas dari itu, Gaikindo menilai bahwa insentif-insentif yang diberikan pemerintah untuk pengembangan ekosistem mobil listrik di Indonesia sudah cukup memadai. Misalnya, pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik dan pembebasan bea balik nama (BBN) kendaraan bermotor yang berbasis elektrifikasi.

Dalam catatan Kontan, harga mobil listrik Hyundai IONIQ 5 yang diproduksi di Indonesia dibanderol mulai dari Rp 718 juta sampai Rp 829 juta. Lalu, mobil listrik Nissan LEAF dikenakan harga mulai dari Rp 728 juta. Ada pula mobil listrik Lexus UX 300e yang dihargai sebesar Rp 1,24 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .