Menimbang beban utang BUMN karya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek infrastruktur yang begitu masif turut mempengaruhi likuiditas emiten konstruksi BUMN. Pelan tapi pasti, rasio utang empat emiten BUMN karya naik.

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) misalnya, mencetak rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) tertinggi, yakni 1,88 kali. Bandingkan dengan posisi 2013 silam, DER emiten ini masih di level 0,68 kali.

Adhi Karya (ADHI) juga menghadapi tren serupa. DER perusahaan ini tahun 2017 tercatat 1,41 kali dari sebelumnya 0,94 kali. Adapun posisi DER Wijaya Karya (WIKA) dan PT PP (PTPP) di 2017 setara, yakni 0,61 kali. Tapi, kenaikan DER WIKA lebih tinggi (lihat tabel).


Kenaikan rasio itu tak lepas dari karakteristik sumber proyek konstruksi. Pemerintah, perusahaan BUMN, dan BUMD memang menjadi sponsor utama proyek tersebut. Mereka punya mekanisme pembayaran berbeda.

Beberapa proyek memakai skema pembayaran berdasarkan progres termin tertentu. Tapi tak sedikit yang menggunakan mekanisme terima jadi atau turn key. "Mereka butuh banyak pinjaman untuk mendanai proyeknya terlebih dulu," ujar Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital, ke KONTAN, kemarin.

Belakangan, kesehatan keuangan emiten BUMN karya itu menjadi sorotan. Pasar mencemaskan utang yang tinggi akan menekan kinerja masing-masing emiten. Benarkah kesehatan keempatnya sudah mengkhawatirkan?

Dari sisi perjanjian kesehatan keuangan (covenant) atas pinjaman yang diterima setiap emiten, keempatnya memiliki covenant DER tak melebihi 4 kali hingga 5 kali. Ini masih jauh di atas realisasi DER setiap emiten, yang secara umum masih di bawah 2 kali.

ADHI juga termasuk salah satu emiten yang menjadi sorotan pelaku pasar. Sebab, meski DER perusahaan tak setinggi WSKT, lompatannya tergolong paling tinggi.

Meski begitu, "Level utang ADHI masih manageable," kata Andreas Kristo Saragih, analis Yuanta Sekuritas Indonesia dalam riset 14 Maret.

Sebab, kendati DER naik, kemampuan ADHI untuk membayar bunga atau interest coverage ratio (ICR) juga naik. Tahun 2017, ICR emiten ini 3,3 kali dari sebelumnya 2,6 kali.

Alfred berpendapat, risiko tak hanya diukur dari kesehatan keuangan, tapi juga dari mana proyek itu berasal. Proyek yang dikerjakan banyak berasal dari pemerintah.

Alhasil, meski potensi pendanaan dari utang termasuk tinggi, risiko itu sejatinya dibebankan ke pemberi proyek, yakni pemerintah. Karena dijamin pemerintah, seharusnya kredibel. "Sebenarnya tak terlalu berisiko," kata Alfred.

Selain sisi pendanaan, emiten BUMN karya juga menerima sentimen negatif kecelakaan kerja di proyek konstruksi. Oleh karena itu, saham BUMN konstruksi banyak dilepas investor.

Lantaran itulah, Alfred melihat, saat ini menjadi peluang masuk emiten konstruksi BUMN. Sebab, valuasinya menjadi murah, terutama dari sisi price earning ratio (PER). "Periode 2015–2016, PER mereka bisa di atas 20 kali hingga 30 kali. Tapi sekarang di bawah 10 kali. Itu murah sekali," jelas Alfred.

Dengan berbagai pertimbangan itu, Alfred masih menilai positif saham konstruksi BUMN. Dia merekomendasikan buy WSKT dengan target Rp 3.630 per saham. "Karena pertumbuhan WSKT paling menarik," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie