Menkeu AS Serukan The Fed Agar Pangkas Suku Bunga, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent pada Selasa (14/4/2026) mengatakan ia cukup yakin bahwa inflasi inti (core inflation) di AS akan terus menurun meskipun terjadi perang Iran. Ia juga kembali menyerukan agar Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga.

Mengutip Reuters, Bessent mengatakan ia bisa memahami jika para pejabat bank sentral AS ingin terlebih dahulu mengamati perkembangan ekonomi terkait perang sebelum menurunkan suku bunga. Ia menambahkan bahwa masuk akal jika kandidat Ketua The Fed pilihan Presiden AS Donald Trump, Kevin Warsh, memimpin siklus penyesuaian kebijakan moneter berikutnya.

Ketika ditanya apakah pemerintahan Trump akan menerima Ketua The Fed saat ini Jerome Powell tetap menjabat jika masa jabatannya berakhir pada 15 Mei dan nominasi Warsh belum disetujui Senat hingga saat itu, Bessent menjawab, “Kami ingin Kevin Warsh menjabat secepat mungkin.”


Bessent sebelumnya mengatakan kepada Semafor pada Senin bahwa The Fed sebaiknya bersikap “wait and see” sebelum memutuskan apakah akan menurunkan suku bunga di tengah perang Iran. Ia menilai ekonomi AS “sangat kuat” pada Januari dan Februari, dan bahwa The Fed “melakukan hal yang tepat dengan duduk dan mengamati” bagaimana konflik berkembang.

Ketika ditanya apakah pernyataan itu menandakan perubahan sikap pemerintahan Trump yang selama ini mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga, Bessent menjawab, “Tidak, tidak, tidak. Kalau Anda perhatikan, saya mengatakan mereka bisa mengamati sebelum memangkas suku bunga. Jadi ... dorongan utamanya adalah mereka tetap akan perlu memangkas suku bunga.”

Baca Juga: AS Klaim Tak Ada Kapal Lolos Blokade di Hormuz, 6 Kapal Dagang Dipaksa Putar Balik

Bessent mengecilkan dampak perang Iran terhadap inflasi inti. Ia menyebut inflasi inti masih terkendali dan bahkan menurun di banyak kategori. Ia juga memperkirakan harga-harga akan turun dengan cepat setelah konflik berakhir.

Harga konsumen AS pada Maret naik paling tinggi dalam hampir empat tahun, seiring perang memicu lonjakan rekor biaya bensin dan solar. Kondisi itu menjadi pukulan bagi tingkat persetujuan publik terhadap Trump karena meningkatnya ketidakpuasan terhadap cara ia menangani perekonomian. Namun, harga inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik lebih rendah.

Perang tersebut mendorong harga minyak mentah global melonjak hingga 50%, dengan rata-rata harga bensin eceran nasional AS menembus US$ 4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Nominasi Trump atas Kevin Warsh untuk menggantikan Powell sebagai Ketua The Fed saat ini masih tertahan akibat keberatan dari seorang senator Republik kunci, Thom Tillis, yang tidak mencalonkan diri kembali.

Tillis mengatakan ia akan terus memblokir seluruh kandidat pejabat The Fed yang diajukan Trump sampai penyelidikan kriminal oleh Departemen Kehakiman terhadap Powell ditutup.

Tonton: Arab Saudi Pulihkan Jalur Minyak Vital! Dunia Bernapas di Tengah Ancaman Hormuz

Powell mengatakan ia akan tetap menjabat sementara sebagai ketua jika Warsh belum dikonfirmasi dan belum resmi menjabat pada saat masa jabatannya berakhir bulan depan. Powell juga masih memiliki posisi sebagai gubernur The Fed yang masa jabatannya berlaku hingga 2028, jika ia memilih untuk tetap bertahan.

Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS telah mencapai kesepakatan dengan Tillis untuk memungkinkan sidang nominasi Warsh dilanjutkan, yang bisa terjadi pekan depan, namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.