KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menginstruksikan kementerian/lembaga (K/L) untuk melakukan efisiensi belanja pada kuartal IV 2026. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas belanja sekaligus menjaga disiplin anggaran hingga akhir tahun. Berdasarkan surat edaran yang dirilis Kamis (8/10/2026), Suahasil meminta pemerintah terutama K/L melakukan penajaman dan optimalisasi belanja agar tetap fokus pada pencapaian target prioritas Presiden. Salah satu langkah yang diminta adalah penghematan perjalanan dinas sebesar 30% dari pagu perjalanan dinas yang belum direalisasikan hingga 8 Oktober 2026.
Efisiensi dilakukan melalui optimalisasi pertemuan secara daring, pembatasan perjalanan yang tidak prioritas, serta pengurangan jumlah dan frekuensi perjalanan dinas.
Baca Juga: Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi di IWIP, Investasi Capai Rp180 Triliun Selain itu, pemerintah meminta K/L menunda sejumlah belanja pendukung aparatur yang belum direalisasikan. Belanja yang ditunda mencakup pengadaan kendaraan bermotor baru, pembangunan atau pengadaan rumah dinas baru, serta renovasi atau rehabilitasi gedung dan kantor. Pagu anggaran dari penghematan dan penundaan belanja tersebut akan dicatat sebagai
automatic adjustment. K/L juga diminta menyampaikan usulan revisi anggaran kepada Menteri Keuangan paling lambat 16 Oktober 2026. Suahasil menegaskan, langkah efisiensi tersebut tetap harus memperhatikan akuntabilitas, transparansi, dan tata kelola pemerintahan yang baik serta tidak mengganggu pelayanan publik.
Baca Juga: Rosan Roeslani: Investasi Hilirisasi Sudah Capai 35% dari Total Investasi Di sisi lain, Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai langkah efisiensi tersebut membuka kemungkinan adanya
refocusing belanja pemerintah kembali hingga akhir tahun. Menurutnya, meski realisasi belanja pemerintah biasanya meningkat pada November dan Desember, defisit APBN 2026 masih berpeluang berada di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Saya rasa bakal di bawah 3% akhir tahun. Pak Presiden sudah
concern 3% dan Pak Suahasil juga sudah beberapa kali mengkonfirmasi bahwa 3%," ujar Dipo kepada Kontan, Kamis (8/10/2026). Dipo mengatakan, potensi lonjakan belanja pada dua bulan terakhir tahun ini tetap perlu dicermati. Namun, adanya kebijakan
refocusing dan efisiensi belanja K/L dinilai dapat menahan kenaikan defisit.
"Kalau November-Desember bakal melonjak, ini mungkin perlu dilihat lebih lanjut, karena baru ada
refocusing belanja lagi. Tapi walaupun ada
refocusing kayaknya akan tetap akan di bawah 3%," ujar Dipo. Menurut Dipo, sebagian hasil efisiensi belanja tersebut berpotensi dialihkan untuk membiayai program pemerintah lainnya. "Untuk pastinya kita belum tahu, antara bantuan sosial Rp 900.000 untuk tiga bulan atau mungkin bantuan lain," jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News