KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dipacu ke level 7% hingga 8% dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, laju pertumbuhan di kisaran 5% yang selama ini dicapai belum cukup untuk menyerap tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun. "Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5%. Itu kelihatannya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal menurut saya kita paling tidak harus tumbuh 6,7% menuju 7% untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja," ujar Purbaya dalam acara Wisuda UI, Sabtu (16/2).
Baca Juga: Target 8% Prabowo Dinilai Realistis, Menkeu Purbaya: Bahkan Idealnya 10% Ia menegaskan, jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju, pertumbuhan ekonomi harus lebih agresif. Bahkan, ia menilai pertumbuhan 8% masih tergolong minimal dalam jangka panjang. Menurut Purbaya, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa akselerasi pertumbuhan tinggi dalam periode panjang menjadi kunci lompatan menuju negara maju. Ia mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, hingga China yang mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi, bahkan dua digit, selama lebih dari satu dekade dalam fase pembangunan awalnya. Purbaya juga menanggapi target pertumbuhan 8% yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Ia mengakui target tersebut sempat dipandang skeptis oleh sebagian kalangan. Namun menurutnya, angka itu justru merupakan prasyarat menuju negara maju. "Itu adalah prasyarat untuk menuju negara maju. 8% masih kurang, mustinya harus didorong ke arah 10%. Tapi untuk lima tahun ke depan, kalau dapat 8%, sudah cukup," katanya. Sebagai gambaran, pada 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%. Angka tersebut dinilai relatif kuat jika dibandingkan dengan negara-negara anggota G20.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Bisa Ekspansi hingga 2033 Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu dengan pertumbuhan tertinggi di kelompok tersebut. Meski demikian, Purbaya mengingatkan pertumbuhan 5% membuat ekonomi relatif rentan terhadap gejolak. Ia mencontohkan kondisi tekanan ekonomi yang sempat terjadi pada akhir Agustus hingga awal September tahun lalu. Karena itu, pemerintah akan mendorong lahirnya mesin-mesin pertumbuhan baru yang ditopang oleh generasi muda terdidik dan produktif.
"Ke depan kita perlu mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang dibahan bakari oleh tenaga muda lulusan pintar-pintar dari UI yang handal," pesan Purbaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News