KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang terus menanjak, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor di tengah sentimen global dan kebutuhan pembiayaan domestik yang masih besar. Belakangan, yield SBN memang cenderung naik. Di awal tahun pada 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,04%. Kini per 25 Maret 2026, yield SBN 10 tahun sudah berada di level 6,84%. Kenaikan yield ini dinilai mencerminkan meningkatnya premi risiko (risk premium) di pasar, bukan sekadar faktor teknis semata.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, mengungkapkan lonjakan yield tersebut tidak lepas dari kombinasi tekanan global terutama eskalasi geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, dan suku bunga global yang masih tinggi.
Baca Juga: Guyuran Rp100 Triliun ke Bank Dinilai Tak Efektif Tekan Yield SBN Maka merespons kondisi ini, investor cenderung risk-off sehingga meminta imbal hasil lebih tinggi untuk aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, faktor domestik juga turut memperberat tekanan yield. Kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah yang besar dinilai menjadi salah satu pendorong meningkatnya imbal hasil SBN di pasar sekunder. Guba menahan laju kenaikan yield tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali menempatkan likuiditas sebesar Rp 100 triliun ke bank Himbara dan Bank DKI. Rizal menilai, langkah tersebut merupakan bentuk intervensi tidak langsung dengan menyediakan likuiditas agar perbankan memiliki ruang untuk menyerap SBN, terutama saat investor asing melakukan aksi jual. “Dalam jangka pendek, ini bisa meredam tekanan yield. terutama saat investor asing melakukan aksi jual. Namun efektivitasnya bergantung pada insentif perbankan,” jelas Rizal kepada Kontan, Minggu (29/3/2026). Ia menambahkan, spread yang relatif tipis serta risiko durasi membuat bank belum tentu agresif dalam menambah kepemilikan SBN, sehingga dampak kebijakan tersebut berpotensi terbatas.
Baca Juga: Yield SBN Mendekati 7%, Tekanan Risiko Domestik lebih Dominan Secara makro, Rizal menilai kebijakan ini hanya berfungsi sebagai peredam sementara (shock absorber) dan belum menyasar akar persoalan yang lebih fundamental. “Jika tekanan berasal dari faktor fundamental seperti risiko global dan arus keluar modal, maka intervensi likuiditas hanya bersifat sementara,” imbuhnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebijakan serupa yang dilakukan secara berulang dapat menimbulkan distorsi pasar dan meningkatkan ketergantungan terhadap dukungan pemerintah.
Oleh karena itu, menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental fiskal dan stabilitas makroekonomi dinilai tetap menjadi kunci utama dalam mengendalikan yield SBN. “Langkah ini tepat secara taktis untuk meredam volatilitas jangka pendek, tetapi tidak cukup sebagai solusi struktural,” tutup Rizal.
Baca Juga: Yield SBN Dekati 7%, Peluang Capital Inflow Bergantung Sentimen Ini Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News