KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) buka suara terkait rencana impor kereta rel listrik (KRL) bekas asal Jepang untuk kebutuhan di Indonesia. Saat ditanya mengenai perkembangan rencana impor tersebut, AHY mengatakan dirinya perlu terlebih dahulu berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelum memberikan tanggapan lebih komprehensif. “Saya harus bicara dulu dengan Menteri Perhubungan, saya belum bisa berkomentar terlalu jauh,” ujar AHY saat ditemui dalam Indonesia
International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Kempinski Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: YouTube: AI Jadi Alat Bantu Kreator, Bukan Pengganti Kreativitas Manusia Meski demikian, AHY menegaskan bahwa pengembangan perkeretaapian nasional menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur transportasi Indonesia. Menurutnya, pengembangan perkeretaapian setidaknya mencakup dua aspek utama, yakni pembangunan infrastruktur perkeretaapian serta penyediaan sarana atau
rolling stock. AHY menyebut Indonesia saat ini memiliki sekitar 7.000 kilometer jalur kereta api aktif. Namun, jaringan tersebut masih perlu terus dikembangkan, baik melalui reaktivasi jalur lama maupun pembangunan jalur baru. “Sekarang kita punya kurang lebih 7.000 kilometer jalur kereta api yang aktif. Itu masih harus kita reaktivasi, kemudian membangun jalur-jalur baru,” jelas dia. Selain transportasi penumpang, pemerintah juga mendorong pengembangan jaringan kereta api untuk mendukung sektor logistik dan distribusi komoditas. AHY mencontohkan kebutuhan pengembangan jaringan perkeretaapian di sejumlah wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi untuk mendukung angkutan logistik. Di sisi lain, kebutuhan sarana transportasi penumpang juga disebut terus meningkat. Karena itu, menurut AHY, Indonesia membutuhkan trainset yang lebih modern dengan kapasitas yang memadai. Dalam konteks kerja sama dengan negara lain, termasuk Jepang, AHY menilai hal tersebut merupakan bagian yang wajar dalam pengembangan transportasi nasional. Namun, ia turut menekankan pentingnya penguatan industri perkeretaapian dalam negeri. “Kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Jepang, tentu sesuatu yang normal. Tetapi industri kereta api nasional juga harus terus tumbuh dan semakin mandiri,” kata AHY. Menurut dia, selain pengadaan sarana, kerja sama juga perlu disertai dengan transfer teknologi dan pengembangan inovasi di dalam negeri.
"Yang paling penting semangatnya bagaimana industri perkeretaapian nasional juga berkembang. Ada t
ransfer of technology yang kemudian kita kembangkan sendiri menjadi inovasi domestik yang dibutuhkan untuk ke depan," imbuhnya. Dengan demikian, pengembangan perkeretaapian diharapkan mampu memenuhi kebutuhan transportasi saat ini, serta memperkuat kemampuan industri dalam negeri dalam jangka panjang.
Baca Juga: Pendapatan IOTF Tumbuh 16%, Terdongkrak Adopsi AI serta Permintaan Logistik & Rental Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News