KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai lembaga pemeringkat global belum sepenuhnya memahami konsep lembaga investasi Danantara serta arah kebijakan program pemerintah yang tercermin dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor di balik outlook negatif yang diberikan Moody’s terhadap peringkat utang Indonesia. Seperti diketahui, Moody’s mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade Baa2, namun mengubah prospeknya menjadi negatif.
Baca Juga: Restitusi Pajak Rp 48,3 Miliar di KPP Banjarmasin Berujung OTT KPK Menurut Airlangga, situasi ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pemerintah bersama Danantara kepada pelaku pasar global. “Moody’s investment grade Baa2 cuma dia kasih outlook negatif. Itu membutuhkan penjelasan dari tentunya pemerintah dan juga lembaga baru Danantara,” ujar Airlangga saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) di Jakarta, Kamis (5/2/2026). Airlangga mengungkapkan, masih banyak lembaga pemeringkat dan pelaku pasar keuangan global yang belum sepenuhnya memahami mekanisme Danantara. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan komunikasi yang lebih intensif agar konsep tersebut dapat dipahami secara menyeluruh. “Banyak rating agency di pasar keuangan global belum paham ini, jadi harus kita beri penjelasan. Dengan Danantara, kita sebelumnya
unlock dan reform supaya bisa dipisahkan dan bergerak seperti private sector untuk investasi,” jelasnya.
Baca Juga: CORE Soroti Penurunan Angka Kemiskinan Saat Terjadi Lonjakan Biaya Hidup Pemerintah berharap, melalui pendekatan tersebut, Danantara dapat bergerak lebih fleksibel layaknya sektor swasta, sehingga mampu menarik investasi yang lebih besar dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Airlangga juga menjelaskan bahwa struktur APBN tahun ini memang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk berbagai program prioritas Presiden, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa Merah Putih, serta peningkatan pelayanan publik. Di sisi lain, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis investasi, pemerintah menghadirkan Danantara sebagai kendaraan investasi baru.
Baca Juga: Pendapatan Rendah, Belanja Program Sosial Tinggi Jadi Alasan Moody's Pangkas Outlook Menurut Airlangga, pendekatan ini menjadi pembeda utama karena sebelumnya investasi lebih banyak dilakukan melalui belanja langsung APBN.
“Untuk menggerakkan pertumbuhan dari investasi, kita punya Danantara. Itu yang membedakan. Sebelumnya investasi melalui anggaran, sekarang melalui Danantara,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News