KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela belum berdampak terhadap kenaikan harga minyak di dalam negeri. Airlangga menyampaikan, hingga saat ini harga minyak mentah dunia masih relatif stabil, bahkan cenderung rendah di kisaran US$ 63 per barel. “Harga minyak kita monitor, kalau satu dua hari ini total tidak ada perubahan, tidak ada gejolak,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: Inflasi 2026: Pangan dan Lebaran Dorong Kenaikan, Puncak Awal Tahun Menurut Airlangga, konflik antara AS dan Venezuela bukan hal baru, mengingat kedua negara memiliki sejarah ketegangan yang berlangsung lama. Karena itu, pemerintah akan terus memantau perkembangan situasi untuk meminimalkan potensi dampak terhadap perekonomian nasional. “Dengan situasi seperti ini, ya kita monitor saja perkembangannya seperti apa,” tambahnya. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih kendali Venezuela hingga proses transisi pemerintahan berjalan. Trump juga menegaskan rencana AS untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar dan menjualnya ke pasar global. Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dilaporkan ditangkap. Meski eskalasi tensi geopolitik meningkat, pasar menilai konflik tersebut tidak akan memicu lonjakan signifikan harga minyak mentah dunia.
Baca Juga: Sidang Nadiem Pakai KUHAP Baru, Jaksa Beberkan Dugaan Korupsi Chromebook Rp 2,18 T Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menilai meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, respons pasar minyak global justru relatif tenang. Saat ini, harga minyak mentah global seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih bergerak stabil, bahkan cenderung melemah. Harga minyak tercatat berada di bawah US$ 60 per barel, setelah sempat menyentuh kisaran US$ 54,80 per barel pada pertengahan Desember lalu. Wahyu mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang menahan kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Laporan BPS: Penumpang Transportasi Anjlok Bulanan, Kereta Api Jadi Pengecualian Pertama, pasokan minyak global yang melimpah. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus pasokan minyak dunia mencapai 3,8 juta barel per hari pada 2026. Kedua, kontribusi produksi Venezuela terhadap pasokan global saat ini relatif kecil. Akibat sanksi ekonomi bertahun-tahun, produksi minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 1% dari total pasokan dunia, sehingga gangguan jangka pendek dinilai tidak cukup kuat mengguncang pasar.
Ketiga, pernyataan Trump yang menyebut AS akan “mengelola” Venezuela dan segera mengalirkan kembali minyak negara tersebut ke pasar global justru memberi sinyal potensi tambahan pasokan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News