Menlu AS Rubio Prediksi Operasi Militer di Iran Selesai dalam Hitungan Minggu



KONTAN.CO.ID -  WASHINGTON. Israel melanjutkan serangan ke berbagai target di Teheran sambil menghadapi rudal dari Iran pada Sabtu (28/3), setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington memperkirakan operasi militer akan selesai dalam beberapa minggu, bukan berbulan-bulan.

Sementara itu, sebuah serangan Iran terhadap pangkalan udara di Arab Saudi melukai 12 personel militer AS, dua di antaranya dalam kondisi serius, kata seorang pejabat AS kepada Reuters

Serangan drone dan rudal terus terjadi di sekitar Teluk, menandai eskalasi konflik yang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah sejak AS dan Israel melancarkan serangan sebulan lalu. 


Baca Juga: Enam Anggota Militer AS Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Irak

Konflik ini menewaskan ribuan orang dan menyebabkan gangguan energi terbesar sepanjang sejarah, memukul ekonomi global serta mendorong kekhawatiran inflasi.

Israel menyebut telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Yaman, meski kelompok Houthi yang pro-Iran sebelumnya dikenal mengganggu jalur pelayaran dengan serangan rudal, belum aktif dalam perang ini. 

Houthi menyatakan siap ikut campur dalam kondisi tertentu, termasuk jika sekutu baru bergabung dengan AS dan Israel atau jika Laut Merah digunakan untuk menyerang Iran.

Rubio menyampaikan kepada wartawan usai pertemuan dengan kelompok G7 di Prancis bahwa Washington berjalan sesuai atau lebih cepat dari jadwal operasi dan memperkirakan akan menyelesaikannya dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Konflik ini menimbulkan ketegangan antara AS dan sekutu tradisionalnya yang cenderung menahan diri. Presiden AS Donald Trump mempertanyakan mengapa AS harus mendukung NATO jika dukungan itu tidak timbal balik. 

Baca Juga: Perang AS-Iran: Trump Siapkan Serangan Besar-besaran ke Iran, Ini Dampaknya!

"Mengapa kita harus ada untuk mereka jika mereka tidak ada untuk kita?" kata Trump di forum investasi di Miami, Jumat lalu.

Rubio menekankan bahwa negara-negara Eropa dan Asia yang mendapatkan manfaat dari perdagangan melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang banyak diblokir Iran, seharusnya ikut berkontribusi untuk menjaga keamanan pelayaran.

Persiapan Militer AS dan Israel

Meski AS menyatakan dapat mencapai tujuan tanpa pasukan darat, beberapa personel tetap dikirim ke wilayah tersebut untuk memberikan "fleksibilitas maksimum" bagi presiden. 

Dua kontingen Marinir dengan ribuan personel dikirim, salah satunya akan tiba dalam beberapa hari menggunakan kapal amfibi besar. Pentagon juga diperkirakan akan mengerahkan ribuan pasukan elit airborne.

Penempatan ini menimbulkan kekhawatiran perang bisa berubah menjadi pertempuran darat berkepanjangan. 

Baca Juga: Kuba Klaim 32 Warganya Tewas dalam Operasi Militer AS di Venezuela, Havana Berkabung

Pasar saham global merosot tajam pada Jumat, sementara harga minyak Brent menembus US$112 per barel, naik lebih dari 50% sejak perang dimulai. Di AS, harga diesel di California mencapai rekor tertinggi rata-rata US$7,17 per galon.

Trump sendiri berupaya menekankan negosiasi diplomatik yang produktif, meski Teheran berulang kali menyatakan tidak ada pembicaraan yang dimulai.

Pada Kamis, Trump memperpanjang tenggat 10 hari bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap jaringan energi sipilnya.

Korban dan Dampak Serangan

Setidaknya lima orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan AS-Israel di unit hunian di Zanjan, Iran, pada Sabtu pagi. Universitas Sains dan Teknologi Iran di Teheran juga menjadi sasaran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan melalui X bahwa Israel, bekerja sama dengan AS, menyerang dua pabrik baja dan sebuah pembangkit listrik. "Serangan ini bertentangan dengan tenggat diplomasi yang diperpanjang oleh Presiden AS. 

Baca Juga: AS-Iran: Militer AS Siapkan Operasi Jangka Panjang Jika Trump Perintahkan Serangan

Iran akan membayar harga berat atas kejahatan Israel," kata Araqchi.

Militer Israel menyebut telah mendeteksi rudal yang datang dari Iran, sementara televisi negara Suriah melaporkan ledakan di atas ibu kota Damaskus akibat intersepsi rudal Iran oleh Israel. Uni Emirat Arab dan Bahrain juga melaporkan serangan rudal pada Sabtu dini hari.